Analisis: Polarisasi di Balik Istilah Cebong dan Kadrun

·Bacaan 5 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Polarisasi dua kubu pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto melahirkan sejumlah istilah yang saling mendegradasi satu sama lain. Istilah itu adalah cebong, kampret, serta kadrun yang ramai setelah Pilpres 2019.

Drone Emprit mencatat percakapan di Twitter terkait kelahiran istilah polarisasi ini. Semua diawali setelah Pilpres 2014 yang menyebabkan perpecahan dua kubu pendukung Jokowi dan Prabowo. Hingga terus berlanjut setelah Pilpres 2019. Cebong yang diidentikkan dengan pendukung Jokowi, cebong pendukung Prabowo, kadrun pihak yang kontra terhadap Jokowi.

Dosen Komunikasi Universitas Padjadjaran Kunto Adi Wibowo menjelaskan, polarisasi yang berdasarkan stereotipe politik ini disebut sebagai polarisasi afektif. Kubu yang diidentifikasi identitas politik tertentu itu cenderung akan memandang negatif kubu lainnya, dan memandang positif kubu yang sama.

Kunto memaparkan, penggunaan istilah cebong kampret menciptakan identitas sosial dengan stereotipe tertentu. Sesungguhnya identitas tersebut merupakan identitas sosial, bukan politik yang berkaitan dengan ideologi. Namun, stereotipe itu disangkutpautkan dengan identitas pendukung kubu politik tertentu.

"Jadi ini sama sekali sebenarnya tidak terlalu politis. Dalam artian bukan ideologi, bukan masalah identitas politik, tapi ini identitas sosial yang kita coba sangkut pautkan dengan yang politik. Sehingga kita membuat stereotipe tertentu bahwa oh orang yang kaya gini adalah pemilih Prabowo, yang gini Jokowi," ujar Kunto ketika dihubungi, Selasa (19/4).

"Akhirnya kita membuat prototipe itu menjadi sebuah identitas yang dirangkum dalam panggilan cebong, kampret, kadrun," jelas Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKopi ini.

Mengurangi penggunaan istilah cebong, kampret dan kadrun

Ada tiga cara untuk mereduksi dan mengurangi penggunaan istilah cebong, kampret dan kadrun.

Pertama, persepsi terhadap kubu politik tertentu perlu dikurangi. Kunto menjelaskan, KedaiKopi pernah melakukan survei, misalnya persepsi religiusitas tidak ada hubungan dengan kelompok pendukung capres tertentu. Media dan pakar politik harus dapat membongkar mispersepsi tersebut.

"Harusnya kita mulai bongkar mispersepsi itu dan menurut saya tanggung jawab media pengamat politik itu penting," tegas Kunto.

Kedua, para pemimpin dan elite politik hari ini harus sudah meninggalkan identitas politik yang digunakan ketika Pemilu. Harus memakai satu identitas besar kebangsaan.

"Hari ini pemimpin-pemimpin kita harusnya mendorong penggunaan identitas kelompok yang lebih besar. Yaitu identitas kebangsaan bahwa iya kadrun kampret itu cuman pas pesta kemarin. Sekarang kita orang Indonesia mari kita hadapi krisis ini sebagai orang Indonesia dan bersama-sama menghadapi ini," jelas Kunto.

Terakhir, para calon pemimpin yang bakal bertarung di Pemilu 2024 harus meninggalkan cara-cara politik yang melakukan pembelahan agar tidak meruncing polarisasi.

Para tokoh politik dan calon presiden harus lebih bijak tidak menggunakan strategi yang membuat polarisasi agar kesalahan di pemilu sebelumnya tidak terulang. Strategi pembelahan mungkin dapat menguntungkan secara elektoral, tetapi sebagai calon pemimpin yang bijak cara tersebut perlu ditinggalkan.

"Calon presiden atau tokoh-tokoh politik yang lebih bijak. Tidak memperuncing polarisasi," tegas Kunto.

Tertibkan Buzzer Politik

Pengamat politik Ujang Komarudin memandang pembelahan dua kubu menggunakan istilah seperti cebong, kampret dan kadrun akan sulit hilang begitu saja. Sebabnya para elite masih memelihara cara-cara tersebut untuk memberikan citra negatif kepada lawan politiknya demi keuntungan politik.

Ujang memprediksi bakal terus berkembang biak dengan cara mengemasnya saja yang berubah. Apalagi jika pasangan calon yang akan bertarung hanya dua kubu.

"Dan mungkin akan terus terjadi pada menjelang pagelaran Pemilu, walaupun dengan istilah yang berbeda-beda sebutannya," kata Ujang melalui pesan singkat.

Ujang sepakat semua pihak harus bijak tidak lagi menggunakan stereotipe identitas untuk bertarung dalam pemilu.

Ia menyoroti penggunaan buzzer yang terus mendengungkan identitas tersebut di publik. Kedua kubu seharusnya menertibkan para buzzer ini.

"Perlu ditertibkan. Baik buzzer pro Jokowi maupun buzzer dari pihak lawan Jokowi," ujar Ujang.

Kunto pun memandang buzzer menjadi masalah. Istilah cebong, kampret, dan kadrun tidak akan hilang, selama masih ada buzzer-buzzer politik yang terus mendengungkannya di media sosial.

"Tapi kan problemnya buzzer-buzzer pemerintah juga terus menggaungkan soal kadrun dikit-dikit kampret itu yang jadi problem. Harusnya persoalan ini bisa diredam sedikit kalau ada pihak yang mengalah," ujar Kunto.

Istilah Cebong, Kampret, Kadrun dan BuzzeRp di Medsos sejak 2015

Drone Emprit melakukan survei tren penggunaan istilah Cebong, Kampret, BuzzeRp dan Kadrun sejak Pilpres 2019 hingga 2022 di media sosial. Total percakapan dengan istilah-istilah tersebut sejak 1 Juli 2015 untuk semua panggilan sebanyak 14,249,458 mention di twitter.

Istilah Cebong seringkali diasosiasikan sebagai pendukung Presiden Joko Widodo pada Mei 2015. Sementara, Kampret merujuk pada pendukung Prabowo digunakan sejak Oktober 2015.

Kemudian, ada istilah Kadrun atau kependekan dari Kadal Gurun. Istilah kadrun banyak dipakai untuk merujuk pihak kontra terhadap Jokowi. Terakhir ada istilah BuzzeRp atau pendengung. Mereka biasanya berasal dari kalangan oposisi dan aktivis.

"Total untuk setiap panggilan: cebong 4,67 juta, kadrun 4,33 juta, kampret 3,94 juta, buzzeRp 943 ribu, buzzerRp 352 ribu," kata Founder of Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi dikutip merdeka.com, Senin (18/4).

Ismail mengungkapkan, istilah Cebong dan Kampret telah muncul lebih awal dibandingkan Kadrun (kadal gurun) dan BuzzeRp. Perang cebong kampret di media sosial terjadi pada April 2019 lalu.

"Puncak panggilan "cebong" dan "kampret" tertinggi terjadi pada bulan April 2019, yaitu saat Pilpres 2019," papar Ismail.


Tren Satu Tahun Terakhir

Drone merekam tren popularitas istilah-istilah tersebut selama satu tahun terakhir. Ismail menemukan, terjadi penurunan panggilan cebong-kampret di media sosial.

Kemudian muncul panggilan baru, yaitu kadrun pada akhir 2019, yang diikuti dengan panggilan "buzzeRp" dan variasinya "buzzerRp yang menjadi lebih populer.

"Pasca Pilpres, hiruk-pikuk percakapan yang mengandung panggilan nama kelompok ini didominasi oleh panggilan terhadap “kadrun” 54%, “kampret” 17%, “buzzeRp 12% + buzzerRp 5%” 17%, lalu “cebong” 12%," tutup Ismail.

Survei Drone Emprit dilakukan lewat pengamatan di media sosial twitter. Dengan periode survei 1 Juli 2015 – 16 April 2022. [ded]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel