Analisis soal Kubu Ferdy Sambo Bongkar Pribadi Brigadir J, Upaya Perkuat Pelecehan?

Merdeka.com - Merdeka.com - Sidang kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat masih bergulir di pengadilan. Satu per satu saksi dihadirkan memberikan keterangan dengan lima terdakwa Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada E, Bripka RR hingga Kuat Maruf.

Psikolog forendi Reza Indragiri Amriel melihat ada upaya dari kubu Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi mendiskreditkan Brigadir J. Hal itu menurut Reza terlihat dengan upaya tim kuasa hukum Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi yang menilai Brigadir J memiliki kepribadian ganda dan akan menggali hal tersebut di persidangan.

"Tapi alih-alih membuat kita paham dan bersimpati akan kondisi Yosua yang membuatnya menjadi korban pembunuhan berencana, victim profiling itu justru mendiskreditkan Yosua. Betapa menyedihkannya andai profiling hanya menjadi ajang reviktimisasi terhadap Yosua," kata Reza saat dihubungi merdeka.com, Kamis (10/11).

Menurut dia, kesaksian ajudan hingga asisten rumah tangga seolah dibenarkan kuasa hukum Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi telah terjadi pelecehan seksual sehingga memicu kemarahan kliennya. Dia melihat seolah Yosua tampak didiskreditkan sebagai orang dengan segala macam kebiasaan buruk dan justru beraroma criminal profiling.

"Sudah jatuh ditimpakan tangga pula. Sudah ditembak mati, lalu disebut menembak teman, bukan dipulihkan martabatnya, tapi kini justru dipotret dengan sedemikian jeleknya," ujar dia.

Selain klaim kuasa hukum Sambo dan Putri, sejumlah saksi saat memberikan keterangan di hadapan Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terlihat kompak dan fasih dalam menyebut sifat-sifat buruk Yosua. Reza terheran melihat saksi yang tidak melaporkan sifat Yosua yang baik.

"Mereka punya proses berpikir yang sama, artikulasi spontan yang sama, kosakata yang sama, dan 'kelupaan' yang sama untuk menyebut satu kebaikan pun tentang Yosua. Filter mentalnya seragam, semua isi keterangan mereka pun kelam," ujar dia.

Reza berharap ke depan saksi dan ahli dikondisikan untuk tidak bias dan tidak lalai mendekripsikan sifat-sifat positif Yosua. Karenanya, pasti ada sifat itu dalam diri Yosua.

Majelis Hakim dan JPU juga diharapkan menampilkan criminal profiling untuk para terdakwa khususnya Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. Ini bertujuan agar publik mengetahui dinamika kehidupan Sambo cs sekaligus mewaspadai tanda-tanda serupa dan mencegah para perwira tinggi menjadi Sambo-Sambo baru.

Reza menambahkan, para ahli harus menjelaskan profiling dari sifat-sifat Yosua yang berakhir sedemikian rupa sehingga mendorongnya untuk melakukan kekerasan seksual.

"Lalu, purposefulness. Karena lukisan kelam tentang kepribadian Yosua itu tampaknya akan dipakai untuk menopang tuduhan kekerasan seksual. Maka ahli yang membuat profiling harus menjelaskan itu. Tanpa penjelasan, profiling itu hanya akan menambah stigma buruk berikutnya terhadap Yosua dan keluarga besarnya," tutupnya.

Kamaruddin Geram Kubu Sambo Tuding Brigadir J Berkepribadian Ganda

Kubu Ferdy Sambo menduga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J memiliki kepribadian ganda dan akan menggali hal tersebut. Hal tersebut di sampaikan oleh kuasa hukum Sambo dalam nota keberatan di persidangan perkara pembunuhan Brigadir J dengan terdakwa FS dan PC di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamarudin Simanjutak menilai hal itu hanya alasan pihak Sambo CS agar perkara ini menjadi ringan.

"Itu hanya cari alasan supaya Sambo cs cepat dikirim ke neraka," ungkap Kamaruddin saat kepada wartawan, Selasa (8/11).

Kamaruddin bahkan menyinggung tim kuasa hukum Sambo yang coba mengaitkan kasus pembunuhan pada Juli 2022 lalu dengan isu Yosua kepribadian ganda.

"Makanya saya bilang mending Sambo ganti pengacara karena tidak menolong mereka, nanti saya yang bayar biayanya," sindir Kamaruddin.

Menurutnya, seseorang yang masuk ke institusi kepolisian sudah memiliki bekal pemeriksaan yang lengkap. Dia yakin hal itu juga dilakukan Yosua. Apalagi, dalam perjalanan karirnya, Yosua dipilih Sambo menjadi ajudannya.

"Lahir sehat, masuk polisi sehat, menjalani profesi polisi sehat, terus dari Jambi, karena dia terbaik direkrut ke Pidum Polri, karena di mata Sambo terbaik, dia direkrut menjadi ajudan," beber Kamaruddin.

"Lantas ada enggak Jenderal yang bodoh, yang merekrut yang tidak sehat menjadi ajudan? Ada gak orang yang nyuruh orang penyakitan jadi ajudan?" sindir dia.

Sebelumnya, Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan mempersilakan tim penasihat hukum Ferdy Sambo menggali dugaan adanya kepribadian ganda dari Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Hal itu dikatakan majelis hakim saat menjawab surat keberatan dilayangkan kubu Ferdy Sambo salah satunya berisi dugaan kepribadian ganda Brigadir J yang hendak dikonfirmasikan kepada saksi-saksi.

"Terus ada lagi keberatan saudara [penasihat hukum] bahwa korban almarhum Nofriansyah Yosua Hutabarat ada kecenderungan memiliki kepribadian ganda," ujar ketua majelis hakim Wahyu Iman Santosa saat bacakan surat keberatan penasihat hukum Sambo di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (8/11).

Wahyu mengingatkan jika sidang ini digelar untuk mencari kebenaran materiil. Sehingga apabila tim penasihat hukum ingin menggali perihal kepribadian ganda Brigadir J bisa dengan cara memanggil saksi meringankan atau saksi A de Charge dalam persidangan nanti.

"Mohon maaf kalau saudara mau menanyakan saksi berkaitan ini, kita memeriksa saksi ini adalah berkaitan dengan peristiwa pembunuhan, dalam perkara ini saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum, apa yang memang ada dalam berkas perkara silakan ditanya, yang tidak ada jangan ditanya," ujar Wahyu.

"Bahwa saudara mau menggali ternyata korban memiliki kepribadian ganda, itu silakan. Kita berikan waktu ke saudara untuk menghadirkan saksi meringankan terdakwa, silakan," imbuh Wahyu.

Majelis hakim kemudian memberikan kesempatan yang sama kepada penasihat hukum maupun tim jaksa penuntut umum (JPU) dalam rangka pembuktian.

"Intinya kami memberikan kesempatan yang sama baik jaksa penuntut umum dan penasihat hukum untuk memberikan pembuktian," kata hakim.

Reporter Magang: Syifa Annisa Yaniar [gil]