Anas Serahkan Uang Tanpa Kwitansi

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA-- Ketika Anas Urbaningrum masih menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI, Februari 2010, ia pernah meminta staf ahlinya bernama Muhamad Rahmad untuk mengambil uang dari brankas ketua fraksi sebanyak Rp 75 juta.

Rahmad mengaku, uang itu kemudian ia serahkan kepada Anas. Tak lama kemudian, Nazaruddin pun datang menemui ketua fraksi, lalu menerima uang Rp 50 juta di antaranya. Saat hal tersebut berlangsung, ruangan fraksi tengah direnovasi, sehingga ketua fraksi dan staf ahli berkantor di ruang yang sama.

"Jadi saya menyaksikan hal itu. Sambil menyerahkan uang, mas Anas bilang, Zar ini uang untuk tambahan cicilan mobil," kata Rahmad saat dihubungi TRIBUNnews.com, Selasa (19/2).

Sayangnya, transaksi tersebut tidak disertai dengan bukti resmi, seperti kwitansi. Menurut Rahmat, yang kini menjabat Wakil Direktur Eksekutif DPP Partai Demokrat, Muhammad Rahmat, Anas saat itu memandang Nazaruddin sebagai teman baik. Karena itu Anas tidak merasa perlu membuatklan kwitansi.

Transaksi tersebut berawal sejak Agustus 2009. Saat Anas sempat menuturkan kepada sejumlah orang, termasuk Nazarddin, akan keinginannya memiliki mobil Toyota Harier.

Belakangan Nazaruddin pun menawarkan diri menalangi pembelian mobil seharga Rp 675 juta itu. Pada awal September 2009, Anas pun menyerahkan cicilan pertama sebesar Rp 200 juta. Pada 12 September 2009 mobil itu kemudian diambil staf Anas bernama Nurahmad dari kantor Nazaruddin. Kemudian cicilan berikutnya dilakukan pada Februari 2010.

Rahmat mengatakan, jauh sebelum Anas terpilih sebagai ketua Partai Demokrat dalam Kongres di Bandung, Mei 2010, Nazar kerap menjual nama Anas ke orang-orang, entah apa tujuannya. Pada pertengahan 2009 pun Anas sempat memanggil Nazar ke ruangannya untuk mengonfirmasi hal itu.

"Zar, saya mendapat informasi dari kawan-kawan bahwa kamu menjual nama saya ke teman-teman, apa benar?" ucap Rahmat mengulangi omongan Nazar.
"Lalu Nazar menyangkal. Dia bilang demi Allah mas, mas itu mentor saya. Mas itu sudah seperti kakak kandung saya sendiri," tambahnya.

Setelah itu, Nazaruddin masih terus menjual nama Anas. Bahkan sampai tiga kali Anas memanggil Nazar yang pada kongres Demokrat di Bandung dipilih sebagai bendahara partai.

"Sebelum kongres sebenarnya mas Anas mau mengembalikan mobil, tapi karena menjelang kongres akhirnya tidak dilakukan," katanya.

Anas akhirnya memutuskan untuk mengembalikan mobil itu, karena Nazaruddin membual mobil Harier tersebut dibelikan Nazar untuk Anas. Namun Nazar menolak untuk menerima mobil itu karena garasi rumahnya sudah penuh, Nazar mau menerima dalam bentuk uang.

Juli 2010, Anas kemudian meminta stafnya yang bernama Nurahmad untuk menjual mobil itu ke showroom di Kemayoran, dan mobil itu laku dengan harga Rp 500 juta. Uang penjualan mobil itu ditransfer langsung ke rekening Nurahmad. Anas kemudian meminta ia untuk menyerahkan uang itu langsung ke Nazaruddin.

Setelah Anas menghubungi Nazaruddin, akhirnya disepakati untuk bertemu di Plaza Senayan pada 17 Juli 2010. Nurahmad pergi bersama Yadi dan Adromi sebagai saksi, tapi akhirnya Nazaruddin tidak datang, ia menyuruh ajudanya.

Uang yang diserahkan adalah 500 juta hasil penjualan mobil. Ditambah cicilan yang sempat dibayarkan yakni sebesar Rp 200 juta dan Rp 75 juta. Anas total telah menyerahkan uang Rp 775 juta, padahal harga mobil itu Rp 675 juta.

"Setelah pengembalian uang itu, mas Anas sengaja menjaga jarak dengan Nazar," tandasnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.