Anas Urbaningrum Rugi Rp 175 Juta

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--- Mobil Toyota Harier yang sempat dimiliki Ketua Umum DPP Partai Demorkat Anas Urbaningrum telah dijual. Mobil seharga Rp 675 juta itu bukan gratifikasi.

Melainkan murni dibeli Anas seharga Rp 200 juta, dan sebagain mendapat bantuan dana dari Bendahara Umum Demorkat saat itu, Muhammad Nazaruddin.

Demikain dikemukakan pengacara Anas Urbaningrum, Firman Wijaya dalam konfrensi persnya di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (19/2).

Firman mengatakan Anas pada sekitar Agustus 2009 sempat mengutarakan keinginannya memiliki mobil Toyota Harier. Niat itu dengan Nazaruddin, kemudian menawarkan diri untuk menalangi pembelian mobil yang saat itu dibandrol Rp 675 juta.

Kemudian akhir 2009, Anas yang saat itu masih menjabat sebagai anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, menyerahkan uang tunai Rp 200 juta kepada Nazaruddin sebagai uang muka.

"Transaksi itu disaksikan oleh Saan Mustofa, Pasha Ismaya Sukardi, Nazaruddin dan Maimara Tando," kata Firman seraya menyebut dari media belakangan diketahui ternyata Nazaruddin membayar mobil itu dengan cek atas nama PT Pacific Putra Metropolitan.

Pada 12 September 2009, mobil itu kemudian diambil Nurahmad, staf Anas dari kantor Nazaruddin. Kemudian cicilan kedua Rp 75 juta dibayarkan tunai oleh Anas melalui stafnya di DPR, Muhamad Rahmad.

Akhir Mei 2010, setelah kongres Partai Demokrat di Bandung, di mana Anas dipilih sebagai ketua dan Nazaruddin terpilih menjadi Bendahara Umum, Anas mendengar kabar burung mobil tersebut adalah pemberian Nazaruddin.

"Akhirnya Pak Anas mengembalikan mobil itu. Tapi saudara Nazaruddin sempat menolak dengan alasan rumahnya sudah penuh, Nazaruddin minta mentahnya (uang, Red) saja," ujar Firman.

Selanjutnya, Juli 2010, Anas meminta Nurahmad menjual mobil itu ke showroom di Kemayoran, dan mobil itu laku dengan harga Rp 500 juta. Dalam penjualan ini Anas jelas merugi. Mobil baru satu tahun digunakan, tapi dilego Rp 177 juta di bawah harga beli.

Uang penjualan mobil itu ditransfer langsung ke rekening Nurahmad. Anas kemudian meminta ia untuk menyerahkan uang itu langsung ke Nazaruddin.

Setelah menghubungi Nazaruddin, akhirnya disepakati untuk bertemu di Plaza Senayan pada 17 Juli 2010. Nurohmad pergi bersama Yadi dan Adromi sebagai saksi, tapi akhirnya Nazaruddin tidak datang. Dia menyuruh ajudannya.

Firman mengaku sudah menyerahkan bukti-bukti transaksi tersebut ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada saat ketua umum Partai Demokrat itu diperiksa KPK tahun lalu. Saat ditanya kenapa hal itu baru diungkap sekarang setelah 1,5 tahun Nazaruddin memojokkan Anas, Firman tidak menjawab dengan jelas.

Rahmat yang juga hadir pada acara itu mengakui, sebenarnya Nazaruddin sudah memJual jauh sebelum kongres di Bandung. Hal itu membuat Anas kecewa, sehingga memilih untuk mengembalikan mobil. Hubungan mereka merenggang karena isu mobil mewah tersebut.

Menurut Rahmad, Anas juga tidak pernah memilih Nazaruddin untuk duduk sebagai Bendahara. "Seingat saya pak Anas cuma mengajukan dia mau ditemani Ibas sebagai Sekjen, kalau Nazaruddin saya tidak tahu," ujar Rahmad.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.