Ancam Setop Ekspor, Menteri Arifin Minta Pengusaha Pasok Batubara ke PLN

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mendesak, produsen untuk tetap menyetor stok batubara ke PT PLN (Persero). Dia tak ingin pengusaha menunggu sampai terbentuknya badan layanan umum atau BLU batubara.

Menurut dia, pasokan batubara ke PLN untuk pembangkit tenaga listrik jadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Bila tidak, dia mengancam bakal menyetop kewenangan ekspor batubara seperti yang dilakukan pada Januari 2022 ini.

"Tidak ada itu nunggu-nunggu BLU, kewajiban ya kewajiban dulu. Kalau tidak ya kita Setop lagi ekspornya," kata Menteri Arifin Tasrif di Jakarta, Jumat (5/8).

Saat ditanya isu PLN yang kabarnya kembali mengalami krisis pasokan batubara, Menteri Arifin belum bisa bicara lebih lanjut. Dia mengaku belum mendapat laporan langsung dari perseroan soal hal itu.

Adapun stok batubara untuk pasokan listrik di tingkat nasional memang tengah jadi perhatian, lantaran harga batubara di pasar internasional yang sedang melambung.

Sebagai gambaran, harga batubara di pasar Ice Newcastle pada Selasa (2/8/2022) bertengger di USD 388 per ton. Sedangkan harga batubara untuk kelistrikan dipatok sebesar USD 70 per ton.

"Tingginya harga batu bara dunia tentu membuat penambang lebih memilih ekspor. Sehingga dibutuhkan mekanisme yang bisa menjembatani agar tidak terjadi disparitas," ujar Sekretaris Jendral Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Indonesia (Aspebindo), Muhammad Arif.

Peran BLU Batu Bara

batu bara rev2
batu bara rev2.jpeg

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Study Marwan Batubara menjelaskan, melalui mekanisme BLU, nantinya PLN tetap akan membayar pada dasar indeks harga USD 70 per ton. Kemudian selisih dengan harga pasar akan dibayarkan melalui skema gotong royong dalam BLU.

"Pemasok batubara PLN akan menagihkan pembayaran dalam dua invoice, yaitu sebesar perhitungan atas USD 70 per ton ditagihkan ke PLN, selebihnya selisih ditagihkan ke BLU," terangnya.

Adapun BLU BatuBara tersebut akan menarik iuran dari para penambang berdasarkan setiap transaksi penjualan setelah harga dilepas pada mekanisme pasar. Iuran itu dialihkan untuk menambal harga yang dibayarkan PLN dari patokan USD 70 per ton.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel