Ancaman Bom Nuklir China Bikin Australia Jiper

·Bacaan 2 menit

VIVA – Ternyata bukan cuma Republik China (Taiwan) yang mendapat ancaman bakal dihancurkan oleh bom nuklir Republik Rakyat China (RRC), sekutu Amerika Serikat (AS) lainnya, Australia, juga mengalami ketakutan yang sama.

Dikutip VIVA Militer dari catatan lembaga think tank (wadah pemikir) Australian Strategic Politic Institute (ASPI), sebuah sinyal ancaman dilontarkan oleh Pemimpin Redaksi Global Times, Hu Xijin.

Perlu diketahui, Global Times adalah media yang dikendalikan penuh oleh Partai Komunis China (CPC). Pada Mei 2021 lalu, Hu memberikan pernyataan yang diterjemahkan Australia sebagai ancaman.

Dalam pernyataannya, Hu menegaskan bahwa China siap memberikan 'hukuman pembalasan' terhadap Australia. Lebih lanjut pria 61 tahun itu menyebut, China memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan rudal terhadap fasilitas militer dan fasilitas vital di tanah Australia.

Bukan tanpa alasan China menebar ancaman kepada Australia. Sebagai salah satu sekutu AS, Australia sangat vokal menentang ambisi Negeri Tirai Bambu untuk kembali mencaplok Taiwan.

Bukan cuma itu, pada awal pandemi Corona Virus Disease-19 (COVID-19), Australia juga meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk melakukan investigasi di China.

"China memiliki kemampuan produksi yang kuat, termasuk memproduksi rudal jarak jauh tambahan dengan hulu ledak konvensional yang menargetkan fasilitas militer Australia, saat situasi menjadi sangat tegang," bunyi pernyataan Hu.

Yang lebih membuat Australia gusar adalah " rudal jarak jauh dengan hulu ledak konvensional" yang dalam hal ini dianggap sebagai nuklir.

Kemudian, Australia juga sangat khawatir dengan sistem struktur organisasi Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) yang memiliki matra khusus rudal.

Dalam catatan tersebut dijelaskan, dengan metode intelijen paling canggih sekalipun, tak bisa dibedakan mana rudal dengan hulu ledak konvensional dengan rudal hulu ledak nuklir. Sebab, militer China menempatkan pasukan rudal konvensional dan pasukan rudal nuklirnya secara bersama-sama.

Akibatnya, muncul desakan terhadap AS sebagai sekutu utama Australia agar menunjukkan komitmennya. Australia meminta AS agar melakukan tindakan balasan andai serangan rudal benar-benar dilakukan China.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel