Ancaman Jumlah Golput Tinggi, KPU Depok Jadi Sorotan

Hardani Triyoga, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, Waras Wasisto, mempertanyakan kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Depok. Ia menilai selama ini KPU setempat kurang aktif dalam melakukan sosialisasi atau ajakan untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Sampai hari ini, saya belum lihat keseriusan KPU dalam mengajak masyarakat meningkatkan partisipasi pemilih,” kata Waras pada awak media, Senin 9 November 2020

Menurut Waras, kondisi itu sangat riskan karena berdasarkan data lima tahun lalu, jumlah warga yang tak menggunakan hak pilih cukup tinggi. Angka tersebut sekitar di atas 40 persen. “Saya minta rekan-rekan KPU meningkatkan sosialisasi,” jelas Waras.

Baca Juga: Relawan Appi-Rahman Ditikam, Erwin Aksa Geram

Politikus PDIP itu menilai, suksesnya Pilkada bukan dari siapa yang terpilih. Namun, jumlah masyarakat yang terlibat sebagai pemilih.

“Suksesnya demokrasi bukan dilihat siapa yang menang tapi tingkat partisipasi pemilih. Intinya tanggung jawab KPU lah agar tingkat partisipasi tinggi,” jelas Waras.

Jika alasan atau kekhawatiran warga untuk datang ke TPS adalah karena COVID-19, Waras menilai hal itu tidak perlu direspon secara berlebih.

“Saya pikir sekarang ini Depok sudah zona oranye dan angka COVID sudah turun tren-nya. Jadi, tidak perlu takut ke TPS, yang penting jaga protokol kesehatan,” tuturnya.

KPU Depok Bantah
Sementara itu, Ketua KPU Depok, Nana Shobarna, membantah keras tudingan tersebut. Menurutnya, KPU sejak awal telah melakukan optimalisasi sosialisasi kepada masyarakat, baik ditingkat kecamatan, maupun di kelurahan dengan beberapa metode. Salah satunya adalah dengan tatap muka langsung.

“Jadi ada yang tatap muka, ada yang daring, ada yang menggunakan mobil keliling woro-woro,” jelasnya

Kemudian, kata Nana, pihaknya juga masif melakukan sosialisasi ajakan ke TPS melalui media sosial (Medsos). Jika berkaca lima tahun lalu, Nana optimis jumlah partisipasi pemilih akan meningkat.

“Kami sangat optimis akan naik. 2015 partisipasi pemilih 56 persen, nah di 2020 ini kami punya target di 77,5 persen,” ujarnya

Pun, ia menambahkan salah satu indikator keyakinan jumlah pemilih meningkat ialah sulit mencari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara atau KPPS.

“Jadi, kami nyari orang netral tuh sulit itu karena masing-masing pasangan calon sudah merebut hait masyarakat Depok. Artinya ini akan berimbas pada partisipasi yang tinggi,” jelas Nana.

Nana juga mengimbau agar masyarakat tidak perlu khawatir atau cemas berlebihan terhadap COVID-19 ketika datang ke TPS

“Di dalam aktivitas sosialisasi yang kami lakukan, kami menyuarakan, menggelorakan bahwa pada saat nanti di tps akan diterapkan protokol kesehatan jadi masyarakat tidak perlu merasa takut,” ujarnya. (ren)