Ancaman Serius Bagi Tentara Amerika Bukan Perang, Tapi Obesitas

Merdeka.com - Merdeka.com - Obesitas menjadi ancaman serius bagi kesiapan militer Amerika Serikat (AS), menurut penelitian terbaru para ahli nutrisi yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition Education and Behaviour.

Penelitian para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Kentucky ini menekankan konsekuensi meningkatnya angka obesitas di AS dan bagaimana obesitas bisa berdampak pada kesiapan militer negara tersebut.

"Ini masalah kompleks yang memiliki dampak mendalam terhadap keamanan nasional karena membatasi jumlah tentara yang direkrut, menurunkan jumlah pencalonan ulang, dan berpotensi mengurangi kesiapan misi," jelas salah satu penulis penelitian, Sara Police, Ph.D dari Departemen Ilmu Farmasi dan Nutrisi Universitas Kentucky, dalam sebuah pernyataan.

"Di samping itu, ada isu-isu relevan mencakup perubahan demografis militer dan kerentanan pangan di antara keluarga anggota militer," lanjutnya, dikutip dari laman Al Arabiya, Senin (9/5).

Korelasi antara kesehatan populasi AS dan keamanan nasional pertama kali diidentifikasi pada 1946 ketika diluncurkan Program Makan Siang Sekolah Nasional untuk mengatasi kurang gizi para anggota militer yang direkrut untuk Perang Dunia II. Waktu itu asupan kalori per hari dibatasi karena terganggungnya pasokan makanan karena terdampak perang.
Menurut rilis yang dikeluarkan Universitas Kentucky, dilakukan peningkatan asupan kalori dan penambahan porsi untuk meningkatkan berat badan.

Sejak 1960, jumlah anggota militer yang lemak tubuhnya melampaui standar naik dua kali lipat untuk tentara pria dan naik tiga kali lipat untuk tentara wanita. Hal ini mendorong para petinggi militer menyerukan perubahan nutrisi dan pola diet, termasuk memperkenalkan pilihan makanan yang lebih terjangkau dan sehat di sekolah-sekolah dan melakukan edukasi nutrisi di dalam angkatan bersenjata.

"Sersan pelatih adalah pemimpin inti dan penting dalam angkatan bersenjata untuk pembinaan, konseling, pendampingan, dan pelatihan tentara baru. Perspektif ini mengacu pada penelitian sebelumnya yang menggambarkan bahwa informasi nutrisi yang akurat dan pemodelan perilaku dapat sangat mempengaruhi calon tentara," jelas Police.

"Pemimpin lain, termasuk komandan dan bintara, juga memainkan peran penting dalam penyebaran informasi dan pemodelan perilaku dan dapat memiliki dampak berkelanjutan pada tentara di luar pelatihan dasar," jelas salah satu penulis penelitian, Nicole Ruppert.

Resimen pelatihan dasar hari ini mencakup lebih banyak perempuan dan orang-orang dari kelompok minoritas ras atau etnis, dan ini adalah kelompok yang cenderung mengalami tingkat obesitas dan kerawanan pangan yang lebih tinggi.

"Akses terbatas ke makanan sehat dapat menyebabkan obesitas serta kecemasan dan masalah kesehatan mental lainnya, yang selanjutnya mengancam retensi militer dan kesiapan misi," jelas pernyataan tersebut.

"Terlepas dari upaya pemerintah AS dan Departemen Pertahanan, obesitas terus menerus mempengaruhi militer dan risikonya terhadap keamanan nasional sangat besar."

"Penelitian untuk mengungkap praktik terbaik akan mempertimbangkan peningkatan keragaman dalam angkatan bersenjata, pentingnya akses ke makanan sehat, dan peluang untuk mendukung pendidikan gizi melalui pemimpin yang berwawasan."

Berdasarkan temuan Pusat Statistik Kesehatan Nasional dari 2016, sekitar 40 persen orang dewasa dan 18 persen anak-anak di AS mengalami obesitas. Menurut IBISWorld, antara 2017 dan 2022, angka obesitas di kalangan populasi dewas di AS nak 1,8 persen setiap tahun dan diperkirakan 33 dari 100 orang di AS mengalami obesitas. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel