Andai Kata WandaVision Berlatar Sitkom ala Indonesia

Syahdan Nurdin, voxpopid
·Bacaan 4 menit

VIVA – Banyak penggemar Marvel Cinematic Universe (MCU) yang mengalami shock culture ketika menonton serial WandaVision. Biasanya menyaksikan adegan perang Avengers melawan penjahat super, mendadak harus anteng menikmati sajian ala sitkom alias komedi situasi.

Belum lagi, episode awal bernuansa sitkom tahun 50-an dengan gambar hitam-putih. Padahal nontonnya di aplikasi streaming, bukan pakai TV jadul di kantor kelurahan. Baru deh mulai berwarna menjelang setting waktu sitkomnya di era kekinian.

Bukannya tak suka sitkom, tetapi ekspektasi penonton adalah aksi tanpa henti dari pahlawan super dalam membasmi kejahatan. Nah, yang didapatkan penonton malah adegan konyol yang dilakoni oleh pasutri Wanda dan Vision dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Lengkap dengan suara tawa seperti dalam sitkom Mr Bean.

Beberapa penonton menyerah menonton episode awal. Padahal kalau mau sabar, episode ke-4 mulai seru dan terhubung dengan cerita pasca Avengers mengalahkan Thanos. Bahkan, di episode ke-5 kedatangan bintang tamu yang tak terduga. Membuat teori semakin liar bahwa MCU bakalan terkoneksi dengan semesta X-Men.

Baca juga: Membayangkan ‘Rangga dan Cinta’ Bertemu sebagai Aquanus dan Dewi Api

Jadi, jangan meremehkan sebuah permulaan. Corona juga awalnya diremehkan kok. Eh, taunya betah sampai ulang tahun. Sampai muncul ramalan herd immunity di Indonesia bisa tercapai 10 tahun lagi.

Diketahui bahwa Scarlet Witch alias Wanda yang depresi karena kehilangan Vision, sengaja merekayasa kenyataan dan membuat realitasnya sendiri. Tempat di mana ia dan (jasad?) sang kekasih bisa hidup bahagia selama-lamanya. Walaupun semua itu palsu… dan tabu.

Wanda telah memberlakukan lockdown terhadap Westview. Ialah kota yang hilang karena dijadikan lokasi syuting sitkom produksi WandaVision. Jadi, tidak ada warga kota tersebut yang bisa keluar-masuk tanpa seizin Wanda.

Sementara itu, para agen jagoan Marvel berusaha menyelamatkan warga yang jadi korban manipulasi Wanda. Namun, upaya mereka terbentur oleh penghalang yang diciptakan Wanda. Misi mereka bakalan berhasil ketika bisa menerobos ke dunia halu ciptaan Wanda dan mengevakuasi warga kota yang tak tahu apa-apa.

Seandainya kekuatan Wanda digunakan pemerintah untuk kebaikan, misalnya meredam penyebaran virus corona, bisa saja dampak pandemi tidak masif. Sebab, dengan lockdown per wilayah selama 14 hari, teorinya virus bakalan mati sendiri.

Bagi penonton Indonesia, bisa jadi lebih terhubung jika sitkom yang digunakan sebagai latar oleh WandaVision bernuansa lokal. Misalnya, sitkom Bajaj Bajuri. Vision jadi sopir bajaj. Wanda jadi pemilik salon rumahan.

Setiap ketemu macet di jalan, Vision bisa membuat bajajnya terbang. Sementara, Wanda bisa menyulap rambut pelanggan salon sesuai permintaan dalam satu kedipan mata. Misalnya, uban Emak hilang, botaknya Pak Yanto tumbuh lagi, dan gaya rambut Sahili seperti RM BTS.

Ketika Vision pulang narik bajaj tapi nggak dapat setoran, Emak sang mertua tentunya bakalan ngomel-ngomel, “Ah, elu nyari duit aja kagak becus! Mau dikasih makan apa tuh anak gue? Lah elu enak nggak perlu makan. Robot sih lu.”

Namun, Vision yang punya kekuatan super bisa menyulap uang dari ketiadaan. Di tangan Emak tiba-tiba ada segepok uang.

“Nah, gitu dong lu jadi mantu,” puji Emak, lalu ngeloyor sambil ngitung duit.

Lalu, Vision melihat Wanda cemberut di kursi salonnya.

“Kenape lu, Nda?” tanya Vision.

“Bang Sion, aye sebel tadi ditanyain Mpok Hindun, kok belum bunting juga, padahal udah setahun nikah,” curhat Wanda.

Sekali lagi, Vision menunjukkan kebolehannya dengan menjadikan Wanda bumil dalam sekejap. Tidak perlu repot-repot bereproduksi dan mengunjungi dokter kandungan untuk konsultasi. Sebab semua bisa dimanipulasi.

Dari situlah adegan selanjutnya semakin ganjil. Perut Wanda membesar tak wajar. Wanda melahirkan anak kembar laki-laki dibantu oleh Mpok Minah. Lalu, bayinya bisa tumbuh menjadi remaja dalam waktu singkat. Membuat Mpok Minah bingung.

“Maaf, bukannya saya mau ikut campur, bukannya saya sok tahu. Tapi, maaf, setahu saya, bayi kembarnya Mpok Wanda kan baru tadi pagi dilahirin, kok malamnya udah jadi pemuda?” tanya Mpok Minah setelah melihat si kembar sudah nongkrong bareng Ucup dan Said di pos ronda.

Tentu saja, yang heran bukan hanya Mpok Minah, tetapi juga penonton di rumah.

Kalau di serialnya, Wanda dan Vision harus berhadapan dengan para agen dan tentara siap perang yang mencoba menghentikan program sitkom bikinannya. Tantangannya bakal berbeda seandainya berlatar sitkom ala Indonesia, WandaVision harus berhadapan dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Bisa jadi program sitkom WandaVision ala Indonesia bakal dihentikan oleh stasiun TV mengingat aturan KPI karena dinilai tidak mendidik dan tidak bermanfaat dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa. Menyusul FTV tema TikTok yang dapat teguran serupa, untuk adegan anak yang joget demi menyadarkan ibunya yang koma.

Narasi protes KPI mungkin begini, “Masa iya pertumbuhan anak bisa secepat itu? Pagi baru lahir, sore sudah dewasa?”

Di Indonesia, ternyata KPI bisa jadi superhero-nya.