Aneh, Mumi Kucing di Mesir Ditemukan Berkaki 5 dan Punya 3 Ekor

Liputan6.com, Kairo - Teknologi modern menguak sesuatu yang sangat aneh pada satu mumi kucing di Mesir. Dalam sejarah kuno, binatang ini amat dipuja di negara tersebut.

Hewan-hewan itu diperlakukan hampir seperti dewa dan hanya dimiliki oleh orang-orang kaya. Kaum borjuis bahkan memberikan kucing peliharaan mereka perhiasan dan perhiasan aksesoris berharga lainnya.

Karena penduduk Mesir pada dasarnya adalah masyarakat yang bergerak di bidang agraris, banyak orang memelihara kucing untuk melindungi simpanan biji-bijian dari ular, tikus, dan hama lainnya.

Bagi mereka yang melukai kucing di Mesir, maka akan menerima hukuman berat. Meski tidak sengaja sekalipun.

Selain itu, kucing yang mati sering dimumikan dan dikubur bersama atau dalam satu peti dengan pemiliknya agar tetap bisa bersama di kehidupan berikutnya.

Ada kasus unik yang ditemukan oleh arkeolog yang meneliti mumi-mumi kucing di Negeri Piramida.

Satu mumi kucing, berusia sekitar 2500 tahun dan disimpan di Museum of Fine Arts di Rennes, baru-baru ini dilaporkan memiliki misteri yang menarik untuk ditelaah.

Keika dilakukan rontgen dan dipindai menggunakan teknik tiga dimensi (3D), terkuak bahwa bukan hanya satu kucing yang ada di dalam peti, tetapi banyak.

Ilmuwan mengamati ada tiga tulang ekor dan lima kaki belakang, menurut The Sun yang dikutip dari Vintage News, Selasa (19/11/2019).

Theophane Nicolas dari French National Institute for Preventive Archaeological Research mengatakan, "Ada jutaan mumi hewan, tetapi hanya sedikit yang dapat dibayangkan. Beberapa (peti) kosong, yang lain hanya berisi satu tulang."

"Beberapa peneliti percaya bahwa kita berurusan dengan penipuan kuno yang diorganisir oleh para pendeta yang tidak bermoral, tetapi kami percaya sebaliknya bahwa ada banyak cara untuk membuat mumi hewan," imbuh Nicolas.

 

Persembahan Dewa Bastet

Ilustrasi gambar kucing anggora (sumber: Pixabay)

Carnegie Museum of Natural History di Pittsburgh, Pennsylvania memiliki mumi kucing yang dipajang di sebelah gambar rontgen yang menunjukkan kerangka kucing penuh.

Sementara itu, di dekat piramida yang dibangun untuk firaun Userkaf (2291 - 2289 SM) pada 2018, ditemukan hampir seratus peti mati untuk kucing yang hanya berisi patung kayu --tepatnya di Saqqara.

Benda-benda ini masih berupa karbon, tetapi para ilmuwan di Kementerian Purbakala Mesir percaya bahwa dari 717 SM hingga sekitar 332 SM, makam itu digunakan untuk penguburan kucing.

Di sana juga ada patung perunggu Bastet dalam bentuk kucing --dewi rumah Mesir, rumah tangga, rahasia wanita, kucing, kesuburan, dan kelahiran.

Bastet, anak perempuan Dewa Ra, melindungi rumah dari roh jahat dan penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan wanita dan anak-anak.

Sekte Bastet muncul di Bubastis, di Mesir Hilir, dan kota ini menjadi mewah ketika orang-orang Mesir datang dari seluruh penjuru untuk berpartisipasi dalam festival tahunan Bastet.

Bagian dari perayaan tersebut termasuk membawa mumi kucing sebagai persembahan.

Di lain cerita, ketika kuil itu digali pada 1889, lebih dari 300.000 mumi kucing ditemukan.

Bastet tetap menjadi dewa penting di Mesir, sampai munculnya agama Kristen, menurut Ancient History Encyclopedia. Herodotus, seorang sejarawan Yunani kuno, menulis bahwa ketika seekor kucing rumahan mati karena sebab alamiah, penghuni rumah akan mencukur alis mereka dan berkabung sampai alisnya tumbuh kembali.

Namun, ketika seekor anjing peliharaan yang mati, maka keluarga tersebut akan menggunduli seluruh bagian tubuh yang ditumbuhi rambut, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Ancient Egypt Online mengisahkan, Herodotus pernah mengunjungi Bubastis pada 450 SM dan menulis: "Kuil Bastet tidak sebesar atau semahal kuil yang lain, tetapi ini adalah kuil paling indah."

Bubastis diserbu oleh Persia pada 350 SM, yang secara efektif menurunkan jumlah kucing di kota itu.

Dipalsukan

Mumi kucing di British Museum. (Creative Commons)

Menurut artikel yang dimuat di How Stuff Works, penelitian terhadap DNA kucing menunjukkan bahwa binatang inni pertama kali dijinakkan di Mesir dan sekitarnya pada sekitar 10.000 tahun silam, ketika mereka mulai menangkap hama di dekat lumbung penyimpanan biji-bijian.

Menyadari betapa bermanfaatnya kucing bagi penduduk lokal, orang-orang Mesir kuno mulai memberi mereka makan dan membiarkan mereka masuk ke dalam kediaman mereka.

Ahli Mesir Melinda Hartwig --yang merupakan kurator seni Mesir kuno, Nubia, dan Near Eastern di Emory University’s Michael C. Carlos Museum, Atlanta-- ingin menjelaskan bahwa orang-orang Mesir tidak menyembah kucing, tetapi percaya bahwa kucing memiliki energi ilahi.

"Mumi kucing sering dijual-belikan, terutama oleh peziarah di Bubastis. Mereka melakukannya agar bisa memberikan persembahan kepada Bastet. Mungkin inilah yang membuat banyaknya pemalsuan mumi kucing, seperti yang ada di Rennes. Mumi kucing itu dijual kepada peziarah yang sama seklai tak curiga," pungkas Hartwig.