Aneh, Obyek Eksekusi Usakti Berupa Orang

Liputan6.com, Jakarta: Tim eksekutor Pengadilan Negeri Jakarta Barat, lagi-lagi batal mengeksekusi Kampus Universitas Trisakti (Usakti) terkait sengketa kepemimpinan antara pihak universitas dan yayasan. Menurut mantan Hakim Agung dan dosen di Usakti Arbiyoto menjelaskan sepanjang sejarah peradilan di Indonesia belum pernah terjadi dalam eksekusi kasus perdata objek eksekusinya berupa orang.

Oleh karena pemohon eksekusi tidak dapat membuktikan kepemilikannya terhadap obyek eksekusi, yang dalam kasus ini berupa orang, maka putusan eksekusi ini dapat dikatakan non-executable, kata Arbiyoto dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (29/5).

Sementara salah seorang tim kuasa hukum Usakti, Effendi Saragih yang menerima Panitera Pengadilan mengungkapkan pihaknya menolak pelaksanaan eksekusi karena dalam surat eksekusi tak dicantumkan obyek eksekusi.

Sedangkan, Ketua Forum Komunikasi Karyawan Trisakti Advendi Simangunsong mengungkapkan pelaksanaan eksekusi bisa saja dianggap melanggar HAM. Pasalnya dalam amar putusan Mahkamah Agung Nomor 4 yang isinya berbunyi "Para Tergugat atau siapapun tanpa kecuali yang telah mendapatkan hak dan kewenangan dengan cara apapun juga dari para Tergugat dengan memerintahkan secara paksa dengan menggunakan alat negara (Kepolisian). Tidak memperbolehkan masuk ke dalam semua Kampus Universitas Trisakti dan atau tempat lain yang fungsinya sama atas alasan apapun dan dilarang melakukan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi dan Manajemennya untuk semua jenjang dan jenis program baik di dalam maupun di luar Kampus A Universitas Trisakti Jalan Kyai Tapa No. 1 Grogol Jakarta Barat, sepanjang memakai baik secara langsung ataupun tak langsung nama Universitas Trisakti.

"Bila menuruti amar keputusan di atas, maka yang tidak boleh masuk kampus bukan hanya sembilan orang tergugat tapi seluruh dosen, staf, dan juga mahasiswa tidak boleh memasuki kampus. Karena telah mendapat kewenangan dari rektor untuk melakukan kegiatan belajar mengajar di Usakti," jelas Advendi. Karena itu ia menilai eksekusi sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar. "Untuk itu berdasarkan hasil rapat gabungan Senat, Majelis Guru Besar, Pimpinan serta Karyawan Trisakti, kami menolak dengan keras rencana eksekusi tersebut."

Seperti diketahui, pelaksanaan eksekusi 28 Mei kemarin kembali batal mengingat situasi saat proses eksekusi tidak kondusif. "Civitas akademika Universitas Trisakti berkumpul di kampus reformasi ini untuk menolak rencana (eksekusi) itu. Namun batal karena situasi tidak kondusif," tutur Advendi.(AIS)