Anemia Menghantui di Tengah COVID-19, Ini Saran Pakar

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Saat ini, sekitar 2,3 miliar orang menderita anemia. Tercatat, satu dari dua penderita mengidap anemia karena defisiensi zat besi (IDA) dan mengalami gejala seperti sering kelelahan, pusing, pucat, dan gangguan kekebalan tubuh yang memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas.

Asia Tenggara dan Afrika memiliki tingkat prevalensi anemia tertinggi yang mewakili 85 persen dari kasus yang dilaporkan secara global. Padahal, anemia menjadi salah satu risiko kesehatan yang sangat memengaruhi kelompok masyarakat yang paling rentan yaitu perempuan dan anak-anak.

"Anemia senantiasa menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia dengan tingkat prevalensi tertinggi di Asia Tenggara dan Afrika. Melalui P&G Blood Health Forum, kami menyambut para pakar terkemuka bidang anemia, fisiologi zat besi, dan kesehatan gizi untuk bertukar wawasan dan bekerja sama dalam mengatasi permasalahan kesehatan anemia secara global," ujar Senior Vice President, P&G Health - Asia Pacific, Middle East and Africa, Aalok Agrawal, dikutip dari keterangan tertulis.

Baca juga: Ingin Rambut Lebih Kuat dan Panjang, Coba Makanan Ini

Diadakan secara virtual di tujuh negara Asia, sesi pembukaan tahun ini bertema 'Mengutamakan kesehatan darah melalui diagnosis dini dan pengelolaan defisiensi zat besi dan mikronutrien'. Tema ini juga dikaitkan dengan pandemi SARs-COV-2 yang saat ini terjadi di seluruh dunia.

Robert Harding Inaugural Chair in Global Child Health (Kanada), Prof. Dr. Zulfiqar A. Bhutta, mengatakan bahwa walaupun terdapat cukup bukti mengenai beban yang ditimbulkan dan epidemiologi mengenai anemia dan defisiensi zat besi pada anak-anak dan wanita usia subur di berbagai belahan dunia, penanganan secara strategis masih sangat lambat dan berdampak dengan hilangnya sumber daya manusia secara signifikan.

“Tantangan ini diperparah dengan pandemi COVID-19 dan berbagai konsekuensi ekonomi yang terjadi. Deteksi dini anemia secara menyeluruh dan penanganan yang tepat harus menjadi prioritas global," tuturnya.

Prof Bhutta menambahkan, potensi penuh dari beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan terkait nutrisi, kesehatan dan pembelajaran (SDGs 2, 3 dan 4) tidak dapat direalisasikan tanpa penanganan anemia akibat defisiensi zat besi dalam skala besar. Terutama di populasi yang terpinggirkan dan sangat miskin di dunia.

"Anemia akibat defisiensi zat besi adalah salah satu dari masalah kesehatan utama di dunia. P&G Blood Health Forum merupakan sebuah platform yang sangat baik untuk membahas penanganan terbaik bagi anemia yang disebabkan oleh defisiensi zat besi yang mana hal tersebut sangat penting untuk menciptakan masa depan anak yang lebih baik," ujar dokter spesialis anak, dr. Murti Andriastuti, Sp.A (K).