Anemia Sebabkan Komplikasi Hingga Tingkatkan Risiko Infeksi

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 3 menit

VIVA – Di tengah tantangan kesehatan global yang saat ini terjadi, isu pemenuhan malnutrisi masih menjadi ancaman kesehatan jangka panjang bagi masyarakat Indonesia. Masalah gizi, baik gizi kurang atau lebih, dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit lain, khususnya risiko terjadinya penyakit tidak menular.

Menurut data Riskesdas 2018, angka stunting kita mencapai 30,8 persen dan telah mencapai peringkat 4 dunia. Sedangkan 48,9 persen ibu hamil, 32 persen remaja 15-24 tahun, dan 38,5 persen balita mengalami anemia. Secara global, sekitar 50-60 persen angka anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi atau biasa disebut Anemia Defisiensi Besi (ADB).

Dalam webinar publik 'Peran Nutrisi dalam Tantangan Lintas Generasi yang diadakan Danone Indonesia, Spesialis Gizi Klinik dari Indonesian Nutrition Association (INA), Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi.,Sp.GK, menjelaskan, saat ini Indonesia masih menghadapi tiga beban masalah gizi (triple burden) yaitu stunting, wasting dan obesitas, serta kekurangan zat gizi mikro seperti anemia.

"Seseorang dengan kondisi Anemia Defisiensi Zat Besi (ADB) berisiko melahirkan bayi berat badan rendah (BBLR), stunting, komplikasi saat melahirkan dan risiko lainnya. Padahal kondisi ADB sendiri dapat terjadi lintas generasi dan dapat diturunkan sejak remaja, ibu hamil, anak dan seterusnya," ujarnya saat webinar, Senin 1 Februari 2021.

Dokter Diana menambahkan, pada kasus balita dan anak, ADB bermula dari kurangnya zat gizi mikro pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dampaknya berpengaruh pada tumbuh kembang anak yang terganggu, penurunan aktivitas fisik maupun kreativitas, serta menurunnya daya tahan tubuh sehingga meningkatkan risiko infeksi. Sedangkan pada kasus remaja, ADB dapat menurunkan produktivitas dan kemampuan akademis.

"Kondisi ADB pada kehamilan usia remaja juga rentan terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, urgensi perbaikan gizi masyarakat sebaiknya difokuskan pada 1.000 HPK dan usia remaja," tutur dia.

Ancaman besar

Diana menjelaskan, kondisi ADB yang terjadi pada penderita membawa pengaruh jangka pendek dan jangka panjang bagi tiap-tiap generasi. Jika ditarik benang merah, kondisi ini merupakan ancaman besar mengingat dampaknya terhadap penurunan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

"Di sisi lain, negara dituntut untuk dapat menciptakan generasi dengan daya saing global. Sehingga terdapat urgensi untuk memutus mata rantai anemia lintas generasi," kata dia.

Lebih lanjut Diana menyebutkan, intervensi melalui pemenuhan nutrisi dan edukasi secara menyeluruh merupakan upaya yang dapat dilakukan dalam memutus mata rantai anemia, baik di lingkup individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat.

"Pada anak di atas satu tahun, pencegahan anemia dapat dilakukan dengan memberikan gizi seimbang termasuk pangan makanan dan minuman yang mengandung zat besi maupun mikronutrien lain yang mendukung penyerapan zat besi seperti vitamin C," tuturnya.

Sedangkan pada remaja, menurut Diana, dapat dilakukan melalui penanaman pola hidup sehat, yaitu mengonsumsi makanan yang bersih, sehat, dan bergizi seimbang.

"Selain itu juga dapat diberikan suplementasi tablet tambah darah (TTD). Tablet tambah darah adalah suplemen gizi dengan kandungan zat besi setara dengan 60 mg besi elemental dan 400 mcg asam folat," ungkapnya.

Sementara itu, Corporate Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, mengatakan, mereka menyediakan inovasi nutrisi yang dapat membantu pemenuhan zat besi serta mendukung penyerapan zat besi pada anak berusia di atas satu tahun.

"Untuk menyasar golongan remaja, kami menjalin kerjasama dengan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB) meluncurkan buku panduan Generasi Sehat Indonesia (GESID)," kata dia.

Menurut Arif, terdapat tiga modul untuk remaja SMP dan SMA, yaitu Aku Peduli, Aku Sehat, dan Aku Bertanggung Jawab yang membahas mengenai kesehatan reproduksi, peran gizi bagi kesehatan dan kualitas hidup, anemia bagi remaja putri dan wanita usia subur, pencegahan pernikahan dini, serta remaja berkarakter.