Angela Gilsha pakai media sosial untuk sebar "awareness" lingkungan

Angela Gilsha Panari mengatakan dirinya memanfaatkan platform media sosial Instagram untuk menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan alam dan bumi kepada para pengikut (followers) atau penggemar.

“Penting banget media sosial itu untuk kasih tahu ke orang-orang yang ada di sekitar kita bahwa menjaga lingkungan itu sangat penting,” kata Angela dalam webinar bersama The Body Shop secara virtual pada Senin.

Baca juga: Belajar hidup berkelanjutan di perhelatan "Litter by Litter"

Angela mengatakan ia ingin agar para pengikutnya dapat menyadari bahwa kondisi bumi saat ini sudah tidak baik-baik saja. Menurut Angela, dirinya kerap membuat unggahan tanya-jawab Q&A atau bentuk unggahan lainnya tentang permasalahan sampah dan perubahan iklim. Berdasarkan pengalamannya, masih banyak orang yang belum menyadari hal tersebut.

Ia menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan permasalahan yang nyata terjadi di hadapan manusia. Perubahan iklim, lanjut Angela, telah dirasakan oleh banyak orang, ditandai dengan perubahan suhu yang semakin naik dan banjir yang terjadi di wilayah yang biasanya tidak pernah mengalami fenomena itu.

“Menurutku sebagian besar itu (perubahan iklim) juga karena ulah manusia yang lebih memikirkan uang dibanding oksigen,” tutur perempuan yang lahir dan besar di Bali itu.

Baca juga: Aksi keberlanjutan butuh kolaborasi

Ketika pindah ke Jakarta, Angela mengamati dan menilai bahwa orang-orang kota metropolitan itu kebanyakan masih kurang memiliki kesadaran lingkungan. Kondisi tersebut berbeda dengan Bali yang masyarakatnya hidup dalam budaya lebih menghormati alam dan leluhur.

“Orang Bali itu percaya dengan leluhur atau nenek moyang. Di lokasi manapun itu, pasti ada leluhur mereka dan mereka harus hormat sama leluhur. Makanya di Bali itu di mana-mana bersih,” ujar Angela.

Berkaitan dengan permasalahan lingkungan, Angela sendiri telah menerapkan gaya hidup keberlanjutan (sustainable) melalui hal-hal sederhana dalam kesehariannya. Kebiasaan ini terbangun secara perlahan-lahan sejak kecil melalui kedekatan keluarga dengan alam dan aksi membersihkan pantai yang ia lakukan ketika masih bersekolah.

“Jadi ilmu itu terbawa ketika aku pindah ke Jakarta,” tuturnya.

Adapun gaya hidup keberlanjutan yang ia terapkan termasuk selalu membawa botol minum sendiri ke manapun pergi untuk menghindari konsumsi botol plastik sekali pakai.

Baca juga: Gaya hidup sehat BCL

Tas belanja yang dapat digunakan berkali-kali, kata Angela, sudah menjadi sebuah kewajiban baginya. Bahkan ketika ia lupa membawa tas belanja di supermarket, ia tetap menolak plastik dan menenteng barang-barang dengan tangannya sendiri walau harus mengeluarkan tenaga ekstra.

Di rumah, ia berusaha untuk meminimalkan sampah kamar mandi dengan menggunakan kain lap, menggunakan makeup remover pads yang ramah lingkungan dan menstrual pads berbahan kain, hingga menggunakan sampo dan sabun batangan, serta cuttonbuds dan sikat gigi berbahan bambu.

Untuk mulai menerapkan gaya hidup berkelanjutan, Angela berpendapat bahwa hal pertama dimulai dari mengembangkan pola pikir mengenai gentingnya permasalahan lingkungan. Sebagai contoh, ketika ia diberi botol plastik sekali pakai, Angela akan berpikir panjang sebelumnya.

Sebelum menerima botol plastik tersebut, Angela mengatakan dirinya sadar tidak mengetahui muara sampah botol plastik yang ia konsumsi itu dan apabila bernasib buruk maka botol plastik hanya akan menumpuk bersama sampah-sampah yang lain yang akan terpendam mungkin hingga ratusan tahun.

“Aku mikirnya panjang banget sebelum aku minum satu botol ini. Jadi dari mindset itu kita bangun, kita haru berpikir langkah ke depannya sebelum kita mau melakukan sesuatu,” katanya.


Baca juga: Lestarikan Bumi lewat ekonomi sirkular

Baca juga: Tren hunian "hijau" diminati selama pandemi

Baca juga: Lomba masak pakai kompor induksi kampanyekan gaya hidup lestari

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel