Angga Sasongko: Investasi buat industri film Indonesia lebih variatif

Ida Nurcahyani
·Bacaan 2 menit

Sutradara Angga Dwimas Sasongko menilai bahwa industri perfilman Indonesia akan jauh lebih variatif dengan masuknya investasi dari para investor kepada sineas Tanah Air.

Menurut Angga, selama ini industri film Indonesia masih didominasi oleh pemain lama dengan akses modal yang besar. Hal itu membuat para talenta sineas baru kesulitan menunjukkan potensinya.

Baca juga: Angga Dwimas Sasongko berbagi tips membuat film bagi pemula

"Sedikit sekali kita lihat potensi di mana pemain baru yang lebih fresh, yang bisa kira-kira jadi game changer harus lama tiarap karena enggak punya akses modal," kata Angga Dwimas Sasongko dalam diskusi virtual, Rabu.

Founder sekaligus CEO Visinema Pictures tersebut berharap agar perfilman Indonesia jauh lebih familiar terhadap investasi sehingga para investor ritel tertarik masuk ke dalam film. Namun Angga juga mengatakan bahwa untuk dapat menarik minat calon investor pun tidak mudah agar mau berinvestasi terhadap produksi film.

Dari pengalamannya sebagai sineas, Angga menyebut bahwa calon investor akan mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

"Saya percaya banget modal utama mencari investor itu bukan proposal bagus atau business model yang keren atau cerita yang oke, tapi juga track record perusahaan itu sendiri," ujar sutradara "Filosofi Kopi" tersebut.

"Selama ini film yg kita kerjakan baik yang besar dan kecil punya standar yang sama. Itu yang mungkin dilihat investor sehingga mereka tertarik masuk dalam proyek Visinema," sambungnya.

Selain itu, Angga mengatakan bahwa investasi bukan hanya berkaitan dengan uang saja. Namun juga dengan pendekatan strategis terhadap produk yang dihasilkan.

"Kita percaya bahwa investor itu bukan cuma tentang uangnya tapi investasi itu selalu pendekatannya juga strategic. Ikhtiar kami membuat investasi terhadap film jauh lebih inklusif," paparnya.

"Dengan begitu ada kemungkinan untuk kita bisa memberikan akses permodalan lebih banyak kepada pembuat film sehingga market Indonesia lebih jauh variatif," kata Angga.


Baca juga: Babak baru perlawanan industri film Indonesia terhadap pembajakan

Baca juga: Kisah Ardhito Pramono sebagai Kale kembali dilanjutkan

Baca juga: Piyu Padi ikut sumbang ide film "Menanti Keajaiban"