Anggaran koridor I trem Kota Bogor capai Rp1,2 triliun

Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat kedatangan Indonesia Infrastucture Finance (IIF) dari Kementerian Keuangan untuk membicarakan rencana skema pembiayaan pembangunan infrastruktur dan moda transportasi koridor I trem yang mencapai Rp1,2 triliun.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dalam jumpa pers bersama pihak IFF, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dan PT KAI, Rabu, mengatakan rencana trem menggantikan moda transportasi konvensional kini telah masuk pada fase pembiayaan.

"Kajian-kajian sudah semakin matang. Sekarang kita masuk fase pembiayaan, bersama dengan IIF ini Pemerintah Kota Bogor melalui Perumda Trans Pakuan akan mengelaborasi pendanaan," kata Bima.

Bima mengemukakan pendanaan moda trem akan melalui investasi dari pihak swasta tanpa mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) serta anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Dalam merealisasikan pergeseran moda transportasi angkutan umum kota (angkot) ke trem di tengah kota, kata Bima, integrasi Light Rail Transit (LRT) dari Jakarta, Cibubur hingga Bogor yang masuk ke dalam Kepres Nomor 55 tahun 2018 tentang rencana induk transportasi Jabodetabek akan sampai Baranangsiang di Kota Bogor.

Selanjutnya, dari Baranangsiang menuju pusat kota akan disambung oleh operasional koridor I trem.

Namun demikian, Bima menyampaikan bahwa realisasi trem beroperasi di Kota Bogor secara penuh masih membutuhkan waktu cukup lama sekitar 10 hingga 15 tahun ke depan.

"Angkot akan berada di pinggir-pinggir kota ke depan. Tetapi saat ini masih tahap mencari konsep pembiayaan untuk trem. Program ini mungkin butuh waktu lama untuk beroperasi 10-15 tahun ke depan. Sama, seperti MRT juga kan sudah dikaji dari zaman Bang Yos ( Mantan Gubernur DKI Sutiyoso)," ujarnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Rudy Mashudi menambahkan rencana koridor I moda transportasi trem akan melalui Baranangsiang-Tugu Kujang- Stasiun Bogor-Sempur hingga kembali ke Baranangsiang.

Pada tahap ini, studi kelayakan (feasible study) telah dimatangkan sehingga kajian komersial dibantu oleh IIF dari Kementerian Keuangan. Proposal pembangunan infrastruktur jalan dan sebagainya berikut moda trem akan dibantu IIF untuk mendapatkan investor.

"Jadi mereka akan membantu kita melalui Perumda Trans Pakuan untuk mendapatkan pembiayaan transportasi ini ke depan," ujar Rudy.