Anggota DPD apresiasi upaya konservasi Bali Bird Park selama pandemi

·Bacaan 3 menit

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Made Mangku Pastika mengapresiasi berbagai upaya konservasi terhadap berbagai koleksi burung yang dilakukan pengelola Bali Bird Park di Kabupaten Gianyar, Bali, meski dalam kondisi pandemi COVID-19.

"Melalui kunjungan kali ini, saya juga ingin memberikan semangat sekaligus mengapresiasi upaya Bali Bird Park, dengan tetap menjaga kelestarian dan kelangsungan hidup burung-burung di sini," kata Pastika di Gianyar, Selasa.

Pastika dalam acara reses bertajuk Upaya Konservasi Satwa Berkelanjutan itu mengaku kaget karena taman burung yang berlokasi di Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar tersebut tetap terawat dengan baik di tengah kondisi pandemi COVID-19.

Baca juga: Anggota DPD soroti kerusakan lingkungan Danau Batur

Kondisi taman yang begitu apik ini, lanjut dia, tentu sangat berbeda dengan kondisi mayoritas hotel-hotel di Bali yang terpuruk akibat dampak pandemi COVID-19.

"Kalau hotel-hotel, rumputnya sudah tidak terawat, kolam renang juga rusak, bahkan ada yang sampai kemasukan monyet," ujar mantan Gubernur Bali dua periode itu.

Menurut dia, lebih dari 1.000 burung dengan 250 spesies yang dipelihara di Bali Bird Park merupakan kekayaan alam semesta dan karunia Tuhan yang hendaknya tetap dijaga kelestariannya.

"Saya juga salut, di sini sudah melakukan berbagai terobosan untuk memenuhi kebutuhan pakan burung, meskipun terkendala biaya operasional, karena adanya penurunan kunjungan wisatawan," ucap anggota Komite 2 DPD itu.

Baca juga: Senator Pastika dengarkan "curhat" persoalan petani Bali

General Manager Bali Bird Park Pande Suastika mengatakan kondisi pandemi COVID-19 berpengaruh terhadap penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali Bird Park.

Bali Bird Park yang memiliki koleksi lebih dari 1.000 burung dari 250 spesies yang berasal dari dalam dan luar negeri itu, mayoritas dikunjungi wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal dari luar Bali.

Dari 250 spesies burung yang dimiliki, 23 spesies diantaranya merupakan spesies langka yang berasal dari berbagai negara, di antaranya kakatua paruh bengkok, burung elang, bangau, dan sebagainya.

Sebelum pandemi, wisatawan yang berkunjung per harinya sekitar 400 hingga 450 orang. "Sekarang dengan kunjungan 50 orang saja kami sudah bersyukur," ucapnya.

Untuk bisa tetap bertahan dalam kondisi pandemi COVID-19, Pande mengambil jurus menciutkan jumlah karyawan, dari yang semula 160 orang, hanya tinggal 35 orang dan saling melakukan rangkap jabatan.

Sedangkan untuk pakan yang sebelumnya diperoleh dengan cara impor, dilakukan pengembangan dengan mensubstitusikan dari bahan-bahan lokal dengan komposisi yang hampir sama.

Baca juga: Anggota DPD: Aspek politik penting untuk muluskan RUU Provinsi Bali

Baca juga: Anggota DPD RI dorong Pergub Bali soal "tipping fee"

"Di sini kami juga langsung menanam pohon pepaya, pisang dan sejumlah biji-bijian untuk pakan burung," ujar Pande didampingi Fitri Hartini (Director of Sales and Marketing), Wayan Rosiana (Avian Manager), dan Nengah Nuyana (kurator).

Yang jelas, pihaknya sebagai salah satu lembaga konservasi di Bali tetap melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan keanekaragaman satwa, ada juga pertukaran satwa, pelepasliaran, hingga memberikan edukasi pentingnya upaya konservasi.

Dalam kesempatan diskusi juga mengemuka tantangan dari sisi regulasi yang menyebabkan masih terkendalanya upaya pengembangbiakan spesies burung yang dimiliki. "Misalnya, ketika kami hanya punya yang jantan saja, untuk bisa mendapatkan yang betina itu susah sekali dan prosesnya lama," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel