Anggota DPR: Benahi Infrastruktur Pendukung Pariwisata NTT

Kupang (ANTARA) - Anggota Komisi X DPR RI Venna Melinda mengatakan infrastruktur, fasilitas dan aksesibilitas harus segera dibenahi untuk mendukung pengembangan pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

"Bila NTT ingin mengembangkan pariwisata menjadi lokomotif ekonomi, yang harus dibangun adalah infrastruktur, fasilitas dan aksesibilitas yang baik dan nyaman untuk memudahkan wisatawan menjangkau lokasi wisata," kata Venna Melinda di Kupang, Selasa.

Menurut dia, NTT memiliki potensi yang menjanjikan di bidang pariwisata dan memiliki objek wisata tidak kalah menarik dibanding daerah lain di Indonesia.

Misalnya, kata dia, Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat, Taman Nasional Kelimutu di Ende, taman laut 17 pulau di Riung, tradisi penangkapan ikan paus di Lamalera, Kabupaten Lembata, taman laut di Kabupaten Alor, dan budaya megalitik di Sumba.

Selain itu, Pantai Nemberalla dan Boa di Kabupaten Rote Ndao serta masih banyak objek wisata lainnya yang bisa dikembangkan.

"Objek wisata yang bagus itu tidak akan dikunjungi wisatawan bila pemerintah tidak memperhatikan sarana dan prasarana penunjang seperti jalan dan alat komunikasi yang baik," katanya.

Menurut dia, untuk mendukung pariwisata di NTT, pemerintah daerah harus kreatif membenahi infrastruktur.

"Jika ingin menjadikan pariwisata NTT sebagai lokomotif pembangunan ekonomi, pemerintah provinsi perlu membangun infrastruktur dan aksesbilitas penunjang yang memadai dan melibatkan pihak swasta secara lebih maksimal," katanya.

Sementara itu, Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengakui fasilitas penunjang seperti jalan, alat komunikasi serta sarana dan prasarana menuju objek wisata belum memadai.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi NTT sedang mengembangkan konsep pembangunan pariwisata pada empat klaster untuk mendukung kegiatan "Sail Komodo 2013".

Klaster pertama memiliki keunggulan di sektor bahari seperti surfing di Pantai Nemberalla di Pulau Rote, taman laut di Kepulauan Alor, "game fishing" di perairan Kupang yang didukung wisata budaya Suku Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Hole di Pulau Sabu.

Selain itu, kata dia, ada wisata belanja di Kupang dan ekowisata di Mutis.

"Di klaster satu ada fasilitas hotel berbintang, yaitu di Kota Kupang, Rote dan Belu. Namun di tempat ini masih kurang sarana dan prasarana pendukung seperti MCK, `play ground` dan restoran," katanya.

Klaster dua memiliki keunggulan dan keunikan Komodo di Manggarai Barat dan wisata bahari seperti Taman Laut Riung dan sumber air panas di Mengeruda di Kabupaten Ngada.

"Selain itu ada wisata budaya yakni Kampung Bena di Ngada, homo florensis liang bua dan ekowisata Lingko di Manggarai," ujarnya.

Menurut dia, fasilitas yang tersedia di klaster dua adalah hotel berbintang di Labuan Bajo dan pelabuhan laut Santa cukup memadai untuk "cruise ship".

"Namun pada klaster dua kurang ada aksesbilitas ke Labuan Bajo dan fasilitas serta atraksi wisata lainnya. Selain itu juga ada kekurangan sarana dan prasarana pendukung MCK, restoran, `play ground` dan fasilitas wisata tirta," kata Frans Lebu Raya.

Sementara di klaster tiga memiliki keunggulan pada wisata alam Danau Kelimutu yang didukung atraksi wisata bahari seperti taman laut Teluk Maumere, wisata budaya dan religi (Semana Santa di Larantuka, Flores Timur dan perburuan ikan paus di Lamalera, Kabupaten Lembata), serta wisata sejarah peninggalan Portugis.

"Wilayah klaster tiga memiliki hotel berbintang di Maumere, namun kapasitas bandar udara masih terbatas. Masih kurang tersedia `home stay` di Moni, Ende dan kurangnya fasilitas serta sarana pendukung seperti MCK, restoran dan `play ground`," katanya.

Ia mengatakan, sedangkan di klaster empat memiliki keunggulan dan keunikan peninggalan budaya megalitik (kampung adat) dan ritual lainnya seperti Pasola di Sumba yang didukung wisata bahari seperti Nihiwatu, Matayangu dan Rua Marosi.

"Pada klaster ini juga memiliki hotel bintang di Nihiwatu dan bandar udara. Namun masih kurang fasilitas dan sarana pendukung yang sama seperti tiga klaster lainnya," katanya. (tp)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.