Anggota DPR: Kualitas pertumbuhan ekonomi belum optimal

Anggota DPR RI Kamrussamad menyatakan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2022 belum optimal karena ada dua variabel yang mutunya tidak memadai.

"Pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama ini bisa meningkat pada angka 5 persen. Namun ada dua komponen yang kualitasnya tidak memadai. Konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga," katanya dihubungi di Jakarta, Kamis.

Anggota Komisi XI itu menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama cukup positif tapi konsumsi pemerintah minus tujuh persen. Artinya ada yang macet dalam belanja pemerintah.

"Untuk konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 0,19 persen. Ini mencerminkan daya beli masyarakat yang belum pulih total, terutama di masyarakat kelas menengah ke bawah," katanya menegaskan.

Menurut politikus Gerindra itu, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama untuk konsumsi rumah tangga menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk melakukan penetapan kebijakan harga bahan bakar dan listrik.

"Kalau konsumsi masyarakat yang masih rendah ditambah dengan peningkatan harga bahan bakar dan listrik, konsumsi masyarakat akan makin tertekan," jelasnya.

Sementara itu, pakar kebijakan publik dan Kepala Studi Ekonomi Politik LKEB UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat yang masih berada di bawah posisi sebelum COVID-19 pada kuartal I 2022.

"Jika dilihat dari sisi pengeluaran maka terlihat konsumsi rumah tangga masih di bawah ambang normal sebelum COVID-19. Kuartal 1 2022 konsumsi rumah tangga tumbuh 4,34 persen year on year atau di bawah konsumsi rumah tangga yang normalnya adalah 5,0 persen," kata Achmad yang juga Co-Founder Narasi Institute.

Konsumsi rumah tangga tercatat meningkat untuk sektor tersier seperti hotel, angkutan, dan restoran yang biasanya dikonsumsi masyarakat kelompok menengah ke atas.

Sementara itu, menurutnya, masyarakat kelompok menengah ke bawah saat ini masih berjuang menghadapi kenaikan harga bahan pokok.

Baca juga: Ekonom Indef ingatkan kenaikan TDL pengaruhi pemulihan ekonomi
Baca juga: Menkeu: APBN jadi "shock absorber" jaga daya beli masyarakat

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel