Anggota DPR mengajak budayakan komunikasi digital bernilai Pancasila

Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk membudayakan komunikasi di dunia digital yang mengandung nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

"Hal paling penting yang harus disadari dalam melakukan komunikasi digital yang positif adalah menerapkan sikap yang cakap dalam bersosialisasi, baik lisan maupun tulisan, dengan menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia. Yang disebut nilai-nilai luhur itu, Pancasila," kata Nurul saat menjadi narasumber dalam webinar Ngobrol Bareng Legislator bertajuk "Masyarakat Digital yang Berbudaya Indonesia", sebagaimana dipantau di Jakarta, Jumat.

Menurutnya, pada dasarnya, Pancasila merupakan tonggak atau acuan yang harus direfleksikan oleh segenap bangsa Indonesia di mana pun mereka berada melalui beberapa tindakan, seperti saling menghormati kemajemukan ataupun perbedaan, baik yang berkenaan dengan etnis, bahasa, budaya, maupun hal lainnya.

Komunikasi digital yang mengandung nilai Pancasila tersebut, kata Nurul, tidak hanya perlu diterapkan oleh bangsa Indonesia di tingkat lokal atau nasional, tetapi juga di tingkat global atau dunia.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, saat ini masyarakat Indonesia dapat dikategorikan sebagai masyarakat digital, karena berdasarkan data dari We Are Social, pengguna internet di Tanah Air telah mencapai 204,7 juta orang pada awal tahun 2022.

"Ada 204,7 juta pengguna internet di Indonesia pada awal tahun 2022. Ini tinggi sekali. Tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 73,7 persen dari total penduduk pada awal tahun 2022 yang berjumlah 277,7 juta orang. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah dapat dikategorikan sebagai masyarakat digital," kata Nurul pula.

Meskipun begitu, ia memandang bahwa sebagai masyarakat digital, bangsa Indonesia belum sepenuhnya menerapkan komunikasi digital yang bernilai luhur budaya Indonesia atau Pancasila.

Hal tersebut tampak dalam hasil survei Digital Civil Index (DCI) dari Microsoft pada tahun 2020. Survei itu, ujar Nurul, menyebutkan bahwa warganet Indonesia merupakan pengguna media sosial yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara.

Kesopanan warganet Indonesia menempati posisi 29 dari 32 negara dengan skor 76.

"Kita hanya lebih unggul dari Meksiko, Rusia, dan Afrika Selatan dalam hal kesopanan online di survei yang dilakukan Microsoft tersebut," kata Nurul.

Hal-hal yang mempengaruhi peringkat tersebut, kata dia lagi, di antaranya adanya penyebaran hoaks atau berita bohong, ujaran kebencian, adanya penipuan daring, serta diskriminasi di ruang-ruang digital yang diakses oleh masyarakat Indonesia.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, menurut Nurul, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh guna membangun etika masyarakat digital yang berbudaya Indonesia atau menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Di antaranya, pemerintah perlu meningkatkan literasi digital dan para pengguna media sosial diharapkan dapat bersikap bijak, seperti menjaga privasi, keamanan akun, menghindari hoaks, dan senantiasa menyebarkan hal positif.
Baca juga: Anggota DPR dorong peningkatan literasi digital bermuatan Pancasila
Baca juga: Indonesia kembangkan survei masyarakat digital dari indikator DEWG G20

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel