Anggota DPR minta KSSK perkuat sinergi untuk antisipasi krisis

Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkuat sinergi dalam mengantisipasi dampak terburuk resesi yang saat ini dihadapi Amerika Serikat (AS) dan China, serta perang berkepanjangan antara Ukraina-Rusia.

"Menghadapi situasi yang semakin tidak pasti ini, KSSK harus memperkuat sinergi dan ada "roadmap" yang jelas untuk antisipasi dampak-dampak terburuk,” kata Kamrussamad dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal II 2022 negatif 0,9 persen setelah pada kuartal I juga negatif 1,6 persen. Menurut dia, kondisi tersebut membuat AS dipastikan mengalami resesi dan akan berdampak setidaknya pada dua hal bagi Indonesia.

Baca juga: Sri Mulyani: KSSK pantau risiko stagflasi ke ekonomi RI

“Pertama, tekanan ekspor karena AS akan berhemat dan mengurangi impor. Kedua, resesi ini akan direspons oleh The Fed dengan kembali menaikkan suku bunga. Kalau ini terjadi, potensi 'capital outflow' akan semakin tinggi,” ujarnya.

Ancaman krisis lainnya, kata dia, selain resesi AS adalah pertumbuhan ekonomi China yang negatif dan diperparah dengan konflik geopolitik antara Rusia-Ukraina yang belum reda.

Kamrussamad melihat hal tersebut akan berdampak pada performa ekspor Indonesia karena AS, China, dan Eropa adalah negara-negara tujuan ekspor Indonesia.

Baca juga: Sri Mulyani prediksikan ekonomi kuartal II tumbuh di atas 5 persen

“Ini krusial, terutama bagi kinerja ekspor kita. AS, China, dan Eropa adalah negara-negara tujuan ekspor Indonesia. Jadi, kalau mereka melemah, maka permintaan ekspor turun dan harga komoditas turun,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut dia, diperparah dengan kenaikan suku bunga The Fed dan itu akan direspons dengan investor beramai-ramai untuk menarik dananya dalam jumlah besar.

Baca juga: Sri Mulyani: Inflasi Indonesia 4,94 persen masih relatif moderat

“Ini terjadi sejak bulan Mei 2022. sebesar Rp32,12 triliun pada Mei 2022, lalu turun menjadi Rp15,51 triliun pada Juni 2022, dan kembali naik menjadi Rp29,15 triliun pada Juli 2022,” ujarnya.

Meskipun kondisi tersebut oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dinilai tidak membuat rupiah melemah signifikan, katanya, dengan ancaman krisis yang datang dari tiga penjuru akan membuat dampaknya lebih besar dari sebelumnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel