Anggota DPR-RI: Gempa di Cianjur harus jadi dasar evaluasi tata ruang

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi menyatakan terjadinya gempa yang mengakibatkan banyak korban jiwa di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, harus menjadi bahan renungan dan menjadi dasar untuk melakukan evaluasi tata ruang.

"Peristiwa itu (gempa) harus menjadi menjadi bahan renungan kita untuk tidak ragu lagi kalau wilayah Cianjur dan sekitarnya harus melakukan evaluasi tata ruang,” katanya saat dihubungi di Purwakarta, Rabu.

Ia mengatakan, saat berada di daerah terparah, yakni Cugenang, dirinya merasakan atmosfer kengerian saat gempa terjadi dan berimbas pada ambruknya sejumlah bangunan. Apalagi, kontur wilayah tersebut perbukitan yang berbatasan dengan daerah Puncak Bogor.

Menurut dia, langkah evaluasi tata ruang harus segera dilakukan agar tidak terus-menerus menjadi risiko tinggi jika kembali terjadi gempa kembali.

Terlebih kini semakin banyak bangunan yang mengarah ke daerah Puncak. Belum lagi wilayah hutan di daerah Puncak sudah mulai gundul dan menjadikannya risiko tambahan.

“Ini problem yang harus dihadapi. Kalau ada guncangan pasti pecah tanahnya. Ketika pecah tanah turun ke bawah dan tidak ada lagi penahan. Ini jadi bahan evaluasi,” katanya.

Selain itu, ia juga menilai tata ruang baliho atau papan reklame harus segera dibenahi. Jangan lagi dipasang di daerah rawan gempa, karena sangat berisiko ambruk dan menimpa kendaraan atau warga.

“Mari kita lakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang rawan terhadap kebencanaan ini,” katanya.

Ia menyampaikan duka mendalam kepada para korban meninggal dunia dan luka-luka akibat gempa yang mengguncang Cianjur pada Senin 21 November 2022 lalu.

Selanjutnya pada Selasa (22/1) dini hari , ia langsung menuju daerah Kecamatan Cugenang yang merupakan titik terparah akibat gempa.

Sementara itu, setiap terjadi bencana alam, hal pertama yang dilakukan Dedi Mulyadi adalah memborong nasi beserta lauk pauknya di sejumlah tempat makan yang dijumpai. Hal tersebut dilakukan karena korban bencana kerap kesulitan mendapat makanan.

“Kalau kita kirim atau bawa beras belum tentu ada yang masaknya, ngirim mi juga belum tentu ada yang menyeduhnya. Tetapi kalau makanan jadi itu tinggal dimakan,” demikian Dedi Mulyadi.

Baca juga: Wapres minta pemda daerah rawan gempa siapkan sistem peringatan dini

Baca juga: Pemerintah akan bangun rumah tahan gempa bagi korban gempa Cianjur

Baca juga: Azka, bocah 4 tahun, selamat usai tertimbun 3 hari di Cianjur

Baca juga: BMKG padukan data PVMBG guna rekonstruksi bangunan pascagempa Cianjur