Anggur merah ke bluetooth: Konektivitas menjadi komoditas berharga dalam olahraga

·Bacaan 4 menit

Paris (AFP) - Ketika pelari Yunani Spiros Louis menyalakan api Olimpiade setelah memenangkan maraton pertama pada Olimpiade 1896, keberhasilannya dilatarbelakangi oleh diet tradisional Mediterania.

Dia adalah seorang pedagang air tetapi laporan tentang maraton pertama yang bersejarah itu - yang memang dimulai di Kota Marathon - menceritakan tentang pemberhentian yang dia lakukan ketika dia berada di pinggiran Athena.

Dia berhenti untuk menyapa kekasihnya dan minum segelas minuman anggur merah.

Banyak hal telah sedikit berubah sejak saat itu dan sulit untuk membayangkan apa yang akan dikatakan Louis, atau kekasihnya, tentang rezim diet modern untuk atlet yang telah beralih dari minuman anggur merah ke Bluetooth.

Dan ini bukan hanya soal diet. Setiap aspek performa atlit terkenal sekarang dipantau oleh beberapa bentuk kecerdasan buatan.

Detak jantung, gula darah, waktu tidur ... sebut saja, seseorang, atau sesuatu, sedang memeriksanya.

Di bawah jersey, di lengan, di sekitar pergelangan tangan, perangkat-perangkat tersebut dibuat agar tidak nampak atau mengganggu, tetapi merupakan alat yang berharga dalam mengasah kinerja.

"Saat ini, jumlah kemajuan teknologi, yang memungkinkan untuk mengikuti keadaan fisiologis seorang atlet, sangat banyaj," kata Gael Guilhem, direktur laboratorium olahraga, keahlian dan kinerja Institut Olahraga Prancis (Insep), kepada AFP.

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan data pribadi sehingga tidak bergantung pada kebetulan dan menyempurnakan setiap parameter persiapan.

"Di Insep, kami memiliki unit yang bertemu setiap dua minggu untuk mempelajari semua permintaan dari perusahaan. Kami memiliki rata-rata sekitar 10 per minggu," kata Guilhem.

Dari pelacak GPS untuk memantau pergerakan pemain rugby hingga pelindung tulang kering 'cerdas' untuk pesepakbola yang dapat menghitung kalori yang dikeluarkan dan jumlah sentuhan bola, serta sensor yang menganalisis darah, keringat, atau air liur pelari, aplikasi ini tampak tidak memiliki batasan dalam melakukan pencarian untuk mengoptimalkan kinerja.

Salah satu inovasi terbaru adalah aplikasi "Supersapiens" yang menggunakan sensor untuk mengukur glukosa darah. Ini sudah digunakan oleh tim balap sepeda terkemuka Jumbo-Visma, Ineos dan Canyon-Sram. Aplikasi ini menjanjikan untuk "merevolusi" manajemen energi.

Terinspirasi oleh perangkat yang digunakan oleh penderita diabetes, alat ini berbentuk lembar tempel yang ditempel di lengan dan mengukur kadar glukosa dalam darah secara langsung untuk memberi tahu atlet kapan harus makan.

Penciptanya Phil Southerland berpendapat bahwa itu membantu memaksimalkan pengelolaan upaya dan pemulihan.

"Ada proses penyisipan yang mudah, ini tetap menyala hingga 14 hari dan mengirim sinyal melalui Bluetooth ke aplikasi kami," katanya.

"Di dalam aplikasi, Anda tidak hanya melihat kadar glukosa Anda, tetapi yang lebih penting, arahnya.

"Jadi jika Anda seorang atlet dan Anda melihatnya naik, Anda tahu 'Saya tidak perlu makan sekarang' tetapi sebaliknya, jika Anda melihatnya turun ..."

Seorang penderita diabetes dan bos tim bersepeda Team Novo Nordisk, Southerland dengan cepat memahami nilai perangkat semacam itu bagi atlet profesional.

"Apa yang kami bawa adalah seperti pengukur bahan bakar untuk para atlet sehingga apa pun kemampuan fisik Anda sebagai individu, kami ingin membantu Anda memastikan Anda memiliki cukup bahan bakar di dalam tangki untuk menjadi versi terbaik dari diri Anda.

"Ini sangat penting bagi para atlet. Kami tidak akan membantu Anda menciptakan rekor dunia, tetapi kami akan menjadi alat terakhir yang memungkinkan Anda mengisi bahan bakar dengan baik dalam latihan dan selama kompetisi."

Minat olahraga dalam ilmu pengetahuan bukanlah hal baru - dokter Yunani kuno Galen menulis esai tentang nutrisi, kebugaran aerobik, dan penguatan otot pada abad kedua.

Ilmu pengetahuan menjadi pro-kontra, sah dan tidak sah, selama Perang Dingin tetapi dekade terakhir telah melihat kemajuan besar, sebagian besar melalui munculnya pelacak GPS.

Diintegrasikan ke dalam halter ketat yang dikenakan di bawah jersey pemain selama latihan atau pertandingan, mereka digunakan oleh banyak tim.

Ketika mereka pertama kali muncul, mereka mengubah analisis data dengan memungkinkan kinerja dipantau secara objektif, tanpa mengganggu aktivitas atlet dan dalam situasi kompetitif, daripada di laboratorium.

Dengan mempelajari data yang dikumpulkan melalui GPS (jumlah kilometer yang ditempuh, detak jantung), staf medis dapat "mengontrol tingkat kelelahan pemain dan dalam beberapa kasus mencegah cedera," kata Guilherme Passos, analis tim sepak bola nasional pria Brazil.

"Banyak klub menggunakan alat yang sama seperti kami dan mengirimkan data mereka kepada kami. Kami mengintegrasikannya ke dalam sistem kami dan kami menggabungkan semuanya untuk merencanakan dengan lebih baik bagaimana pemain akan berlatih."

Sistem pengelolaan dan pemeriksaan data ini sangat penting bagi para atlet dan pelatih mereka, tetapi menurut Gael Guilhem dari Insep, kontak manusia masih tetap "penting".

"Meskipun teknologi dapat menjelaskan, tidak ada keraguan bahwa itu tidak dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh para atlet berperforma tinggi," katanya.

Mungkin masih ada ruang untuk segelas anggur merah di pinggir jalan.