Angka COVID-19 Terus Naik, Psikolog: Mestinya Muncul Iba tapi yang Terjadi Sebaliknya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Sepanjang 2020, berita utama yang muncul hampir semuanya tentang COVID-19. Rata-rata memiliki judul yang serius, seperti kematian akibat COVID-19, dampak COVID-19, gejala COVID-19 dan sebagainya.

Mestinya sejumlah masyarakat dunia semakin memiliki rasa iba dan mulai mengubah perilaku untuk menghentikan penyebaran virus. Sayang yang terjadi bukan demikian.

Meski sudah ada protokol kesehatan yang menyarankan tinggal di rumah, tak sedikit orang yang menjejali bandara, stasiun, jalan tol, dan sebagainya. Bahkan tempat-tempat umum masih ramai pada masa-masa liburan seperti sekarang. Masih banyak orang yang berdalih bahwa mereka berhak untuk tidak memakai masker.

Seorang profesor psikologi di University of Oregon, Eugene, dan presiden Decision Research, sebuah lembaga nonprofit yang menyelidiki keputusan kehidupan modern, Paul Slovic, PhD, mengatakan ketidakpedulian ini muncul ketika dihadapkan pada situasi krisis yang dikenal oleh para ahli kesehatan mental sebagai physic numbing atau 'mati rasa secara psikis'.

"Physic numbing adalah kurangnya empati terkait dengan suatu informasi. Makna informasi sangat ditentukan oleh perasaan yang diciptakan informasi dalam diri kita," katanya.

"Jika beberapa informasi menyampaikan perasaan positif, itu adalah sinyal untuk mendekat apapun situasinya. Jika mengirimkan perasaan negatif, itu adalah sinyal untuk mundur. Kita membutuhkan perasaan ini untuk benar-benar memahami arti informasi tersebut."

Slovic mengatakan cara kita bereaksi terhadap krisis seperti pandemi bergantung pada cara berpikir yang digunakan. Logiks ini mengutip karya psikolog Daniel Kahneman, pemenang Hadiah Nobel di bidang ekonomi untuk karyanya dalam pengambilan keputusan dan penulis buku terlaris Thinking Fast and Slow."

"Kita bisa berpikir tapi jarang melakukannya karena itu perlu kerja keras. Otak manusia malas. Jika otak dapat memproses informasi melalui perasaan, itulah cara berpikir default kita," katanya, seperti dikutip WebMD.

Menurut Slovic, saat memproses kabar jumlah kematian COVID-19, orang-orang tidak menghiraukannya meskipun angkanya semakin di puncak, karena mereka masih tidak merasakan dampaknya. "Itu hanya angka," atau "Kami tidak peduli dengan yang terjadi di dunia ini", dan sebagainya, yang kemungkinan ada di pikiran mereka.

Kasus Meningkat, Kekhawatiran Tidak Serta Merta Naik

Petugas medis menjalani Tes serologi COVID-19 di RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa (11/8/2020). Tes serologi antibodi SARS-CoV-2 berbasis lab untuk tenaga medis guna memastikan bahwa rumah sakit tersebut aman bagi pasien saat berobat. (Liputan6.com/Fery Pradolo)
Petugas medis menjalani Tes serologi COVID-19 di RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa (11/8/2020). Tes serologi antibodi SARS-CoV-2 berbasis lab untuk tenaga medis guna memastikan bahwa rumah sakit tersebut aman bagi pasien saat berobat. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Dalam penelitiannya, Slovic dan rekan juga menemukan kekhawatiran seseorang tentang orang lain yang sedang dalam bahaya tidak meningkat seiring dengan jumlah orang yang terpengaruh. Ungkapan orang-orang akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan seseorang dalam bahaya benar terjadi jika orang itu adalah orang yang dicintai, katanya.

Namun, "jika saya memberi tahu Anda bahwa ada dua orang dalam bahaya, Anda tidak akan merasa dua kali lebih khawatir." Atau, Anda mungkin merasa kurang khawatir karena perhatian Anda terbagi.

Dalam sebuah penelitian, Slovic dan timnya menyajikan tiga skenario kepada mahasiswa: seorang gadis berusia 7 tahun yang sangat miskin dan membutuhkan pertolongan, seorang anak lelaki berusia 9 tahun yang sangat miskin dan membutuhkan bantuan, atau keduanya membutuhkan bantuan. Hasilnya, siswa memberi sumbangan lebih tinggi ketika hanya satu orang yang membutuhkan bantuan.

Sementara mengenai kematian COVID dan total kasus, "Anda yang tidak memiliki perasaan tentang kehidupan individu, itulah physic numbing. Anda kehilangan perasaan, Anda kehilangan emosi. Ini hanya statistik."

Physic Numbing dan Masalah Lainnya

Physic numbing juga disampaikan psikolog klinis di San Francisco Bay Area, Leif Griffin, PsyD, umum terjadi pada masalah lain, termasuk perubahan iklim.

"Physic numbing adalah cara adaptif untuk tidak memiliki emosi saat sedang terancam atau dalam pengalaman traumatis yang sedang terjadi," katanya.

Physic numbing memungkinkan kita untuk menyadari sesuatu tetapi tidak memproses secara emosional atau berhubungan dengan hal yang terjadi. Di sisi lain, Griffin mengatakan, physic numbing seolah mengatakan, "Jangan mengganggu rasa aman saya."

Istilah physic numbing dikemukakan oleh seorang profesor emeritus psikiatri dan psikologi terkemuka di The City University of New York, Robert Jay Lifton, MD. Istilah tersebut awalnya digunakan untuk menggambarkan pikiran menutup diri pada orang-orang yang selamat dari bom atom di Hiroshima.

Lalu, ia menemukan bahwa itu bisa adaptif, membantu orang mengatasi dalam beberapa situasi, atau yang kita sebut dengan mekanisme pertahanan diri.

Namun Lifton memperingatkan jika dibiarkan terus berlanjut setiap menghadapi bahaya maka dapat berdampak pada penarikan diri atau bahkan depresi. Itu merupakan salah satu gejala gangguan stres pasca trauma (PTSD), katanya.

Lifton berpendapat physic numbing juga memainkan peran dalam pandemi COVID-19, karena orang menggunakannya untuk mencoba menahan kecemasan mereka tentang kematian.

Tips mengurangi 'Psychic Numbing' COVID-19

Physic numbing dapat memengaruhi perilaku, termasuk resistensi terhadap pemakaian masker dan tindakan pencegahan lainnya. Dalam hal ini, Slovic dan Lifton setuju.

Menurut Slovic, pakar kesehatan masyarakat memang membutuhkan statistik untuk melawan COVID-19, tetapi ia menyarankan mereka juga perlu memicu perasaan iba ketika mereka menyajikan angka untuk mengurangi physic numbing.

Misalnya, menampilkan grafik yang menunjukkan tren peningkatan kasus dan kematian.

"Bahkan jika orang-orang tidak mengetahui angka pastinya, mereka dapat melihat kurva lurus ke atas. Mereka juga ikut merasakan dengan melihat kurva yang meningkat pesat," katanya.

Saat statistik disajikan, penyedia layanan kesehatan harus berbicara tentang unit perawatan intensif dan ruang gawat darurat yang penuh sesak, katanya. Kisah orang-orang yang tertular COVID setelah menyangkal risikonya juga kuat, katanya.

Infografis 6 Cara Ini Bisa Cegah & Obati Pasien Covid-19?

Infografis 6 Cara Ini Bisa Cegah & Obati Pasien Covid-19? (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis 6 Cara Ini Bisa Cegah & Obati Pasien Covid-19? (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini: