Angka Inflasi Masih Rendah karena Lemahnya Permintaan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat angka inflasi masih rendah karena permintaan yang belum kuat dan pasokan yang cukup memadai. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2020 tercatat 0,28 persen (mtm). Sehingga secara tahunan inflasi mencapai 1,59 persen (yoy).

"Inflasi tercatat rendah sejalan permintaan yang belum kuat dan pasokan yang memadai," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (17/12/2020).

Perry menuturkan inflasi inti tetap rendah sejalan dengan pengaruh permintaan domestik yang belum kuat. Padahal konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi pada kisaran target, dan stabilitas nilai tukar tetap terjaga.

Sementara itu, inflasi kelompok volatile food meningkat. Hal ini disebabkan faktor musiman kenaikan harga komoditas hortikultura.

"Ini sejalan dengan berlalunya musim panen dan harga komoditas global yang meningkat," kata dia.

Inflasi kelompok administered prices juga meningkat. Dipicu kenaikan tarif angkutan udara di tengah deflasi komoditas tarif listrik sejalan kebijakan penyesuaian tarif.

"Bank Indonesia memprakirakan inflasi 2020 lebih rendah dari batas bawah target inflasi dan kembali ke sasarannya 3,0 persen ± 1 persen pada 2021," kata dia.

Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Baik di tingkat pusat maupun daerah melalui Tim Pengendali Inflasi (TPI dan TPID), guna mengendalikan inflasi sesuai kisaran targetnya.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Terendah Dalam 6 Tahun, Inflasi Diproyeksi 1,5 Persen pada Akhir 2020

Pedagang menata dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (5/5/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2020 sebesar 0,08% yang disebabkan permintaan barang dan jasa turun drastis akibat pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pedagang menata dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (5/5/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2020 sebesar 0,08% yang disebabkan permintaan barang dan jasa turun drastis akibat pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan inflasi pada akhir 2020 akan mencapai level 1,5 persen, atau terendah selama 6 tahun terakhir.

"Outlook 2020 kami perkirakan inflasi ada di 1,5 persen. Ini sangat rendah dalam 6 tahun terakhir, jauh lebih rendah single digit," kata Menkeu dalam Konferensi Pers Strategi Implementasi APBN 2021, Selasa (1/12/2020).

Di sisi lain, Menkeu mengatakan rendahnya tingkat inflasi pada tahun ini dapat memberikan efek beban dana (cost of fund) yang lebih rendah. Namun perlu diwaspadai dari sisi demand (permintaan) yang harus perlu diperkuat harus terus diperkuat ke depannya.

"Kuartal III terjadi titik balik agregat demand, terjadi pembalikan kecuali impor yang masih kontraksi dalam. Ekonomi sudah melewati titik terburuk pada kuartal II, namun tidak berarti kita harus terlena karena masih pembalikan awal dan harus dijaga," ujarnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan harga atau inflasi 0,28 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada November 2020.

Inflasi tersebut lebih tinggi dari Oktober 2020 yang sebesar 0,07 persen. Catatan ini juga lebih tinggi dari November 2019 yang mengalami inflasi sebesar 0,14 persen.

Sementara secara tahun berjalan (year to date/ytd) terjadi inflasi sebesar 1,23 persen. Sedangkan secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan November 2019, inflasi mencapai 1,59 persen pada November 2020.

Saksikan video pilihan berikut ini: