Angka stunting di Surabaya turun drastis dalam tiga bulan

·Bacaan 2 menit

Angka balita stunting atau kerdil di Kota Surabaya, Jawa Timur, mengalami penurunan drastis selama tiga bulan ini dari sebelumnya 5.727 kasus menjadi 1.657 kasus.

"Data pada Oktober 2021 angka stunting di Surabaya 5.727 anak balita. Namun tidak sampai akhir 2021, jumlah stunting mampu diatasi hingga turun menjadi 1.785," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Nanik Sukristina di acara peringatan Hari Gizi Nasional di halaman Taman Surya, Surabaya, Rabu.

Dari jumlah 1.785 balita stunting di 31 Desember 2021 tersebut, lanjut dia, pihaknya berhasil menurunkannya menjadi 1.657 balita stunting.

"Ada penurunan sekitar 128. Ini akan kami ikuti perkembangannya sampai 31 Januari 2022," kata Nanik

Hingga saat ini, Nanik terus mengupayakan stunting di Kota Surabaya bisa nol kasus selama tiga bulan ke depan.

Menurutnya, penanganan stunting itu lebih kompleks, oleh karena itu, pihaknya mengupayakan menurunkan angka stunting melalui cara pendekatan dan penyuluhan ke masyarakat bersama kader kesehatan.

"Karena untuk menurunkan ini (stunting) kan tidak bisa cepat, kami terus upayakan agar tercapai nol kasus," ujarnya.

Di lain hak, Nanik mengatakan, dalam peringatan Hari Gizi Nasional ini, Pemkot Surabaya menggelar Gebyar Lomba Bersama Wujudkan ‘Surabaya Emas’ (Eliminasi Masalah Stunting) di halaman Taman Surya.

Pada lomba tersebut diikuti anak balita berisiko stunting yang ada di 154 kelurahan se-Kota Surabaya. Sedangkan yang hadir di halaman Taman Surya Surabaya, total ada 308 anak balita berisiko stunting.

"Setiap kelurahan diwakilkan dua anak balita berisiko stunting. Ada beberapa yang diwakilkan karena berhalangan hadir," kata Nanik.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan kepada para orang tua yang hadir, bahwa Kota Surabaya akan menjadi kota yang hebat ketika generasi mudanya sehat dan terbebas dari stunting.

Dengan adanya lomba Surabaya Emas, Eri berharap bisa dijadikan sarana lompatan untuk ibu-ibu di Kota Pahlawan memperhatikan gizi anak balita.

"Saya tidak akan pernah membangun suatu yang monumental di Surabaya, tapi yang saya bangun adalah generasi mudanya," kata Eri. (*)
Baca juga: Program "Jago Centing" untuk cegah stunting digalakkan di Surabaya
Baca juga: BKKBN : Surabaya bisa jadi percontohan nol kematian ibu dan anak
Baca juga: Legislator: Petakan penanganan kasus stunting di Kota Surabaya

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel