'Angka tidak bohong:' Trump yang membangkang kian terjepit

·Bacaan 4 menit

Washington (AFP) - Donald Trump pada Jumat menghadapi tekanan balik yang semakin besar dari sesama Republik karena menolak kemenangan Joe Biden dalam pemilu ketika presiden yang kian terisolasi itu berusaha keras menyangkal kekalahannya dalam semburan cuitan amarah.

Bersikukuh menampik segala kemungkinan bahwa jalan menuju kemenangan tetap bisa dilakukan, Trump bertemu dengan para anggota parlemen Michigan Jumat dalam upaya menekan distrik-distrik di negara bagian utama tersebut agar menjungkirbalikkan keinginan pemilih.

Namun logika memperlihatkan bahwa hari-harinya di Gedung Putih kian menipis di mana negara-negara medan tempur suara yang sudah memastikan kemenangan Presiden terpilih Biden dalam pemilu 3 November kian cepat mendekati tenggat waktu dalam mengesahkan hasil pemilu.

"Angka tidak bohong," kata Brad Raffensperger, sekretaris negara bagian Georgia yang berasal dari Republik. Pada Jumat dia berjanji mensahkan kemenangan Biden.

"Saya yakin angka-angka yang kami sampaikan hari ini benar," tambah dia, seraya mengatakan: "Angka-angka itu mencerminkan putusan rakyat."

Senator Lamar Alexander menjadi tokoh Republik terbaru yang mendesak Trump dengan menyebut Biden "memiliki peluang sangat baik" untuk menjadi presiden berikutnya dan harus diberikan "segala materi transisi (pemerintahan), sumber daya dan pertemuan yang diperlukan untuk memastikan transisi berjalan mulus."

Presiden yang segera lengser itu bersembunyi di rumah besar itu dan selama hampir dua pekan melakukan hal tak terbayangkan satu bulan lalu, yakni menghindari media.

Namun demikian dia mempertahankan jadwal cuitannya yang sibuk.

"Pemilu yang dicurangi!" cuit Trump mengomel di Twitter Jumat pagi, dengan menyebut pemilu itu "HOAX" dan mencuit ulang tokoh-tokoh konservatif yang menyatakan kemenangan Biden adalah kecurangan, dan bahwa senator-senator Republik yang mengakui Demokrat menang harus ditantang dalam pemilu berikutnya.

Dia terutama mencuit ulang sebuah pesan tentang menghentikan "kecurangan dan pelanggaran" pemilu yang diposting oleh anggota Kongres terpilih dari Republik daerah pemilihan Georgia, Marjorie Taylor Greene, yang mendukung teori konspirasi QAnon.

Ketika tim Biden bersiap mengambil alih pada 20 Januari di mana timnya mengumumkan staf senior Gedung Putih yang baru pada Jumat, Trump terlihat menyangkal.

Dia mengambil langkah yang baru kali ini terjadi dengan menjamu dua pemimpin legislatif dari Michigan di Gedung Putih, di mana tim Trump berusaha mencegah negara bagian ini mengesahkan hasil pemungutan suara.

Biden memenangkan Michigan dengan selisih 155.000 suara atay 10 kali lebih besar dibandingkan dengan selisih kemenangan Trump di negara bagian itu pada pemilu 2016.

Biden yang genap berusia 78 tahun Jumat, mengecam Trump sebagai "tidak bertanggung jawab" atas langkah itu yang juga membuat khawatir sejumlah tokoh Partai Republik.

Senator Mitt Romney menuduh Trump berusaha "mengingkari keinginan rakyat dan membatalkan pemilu" dengan cara menekan para pejabat daerah.

"Sulit membayangkan tindakan yang lebih buruk dan lebih tidak demokratis yang dilakukan seorang presiden Amerika yang tengah menjabat," kata Romney, calon presiden dari Partai Republik pada pemilu 2012, dalam sebuah pernyataan Kamis malam.

Namun, tim hukum Trump bergeming.

Rudy Giuliani dan pengacara-pengacara lainnya menjadi tuan rumah konferensi pers yang sarat konspirasi pada Kamis yang menjajakan tudingan tak disertai bukti bahwa para "penjahat" Demokrat melakukan kecurangan besar-besaran guna menyangkal terpilihnya kembali Trump.

Peristiwa itu memicu upaya terakhir Trump dalam mengeluarkan surat suara di county-county yang sangat memilih Demokrat, memaksa penghitungan ulang dan sebaliknya menunda proses perhitungan sehingga jumlah negara bagian yang tidak mencukupi akan menyelesaikan hasil pemilu sebelum voting Electoral College pada 14 Desember.

Senator Republik Ben Sasse mengecam taktik itu sebagai tidak demokratis.

"Konferensi pers yang liar mengikis kepercayaan publik. Jadi tidak, sudah pasti Rudy dan kawan-kawannya tidak boleh menekan para elektor agar mengabaikan kewajiban sertifikasi mereka sebagaimana diatur undang-udang," kata Sasse.

Anggota Senat dari Partai Republik lainnya, Joni Ernst dari Iowa, mengatakan para pengacara Trump "sungguh keterlaluan" karena menyatakan Demokrat dan Republik mungkin telah mencurangi pemilu.

Sebagai hantaman lebih jauh terhadap harapan panjang Trump untuk membalikkan hasil pemilu, para pejabat Georgia pada Jumat secara resmi menyatakan kemenangan Biden di sana. Untuk pertama kalinya sejak 1992 seorang calon presiden dari Partai Demokrat memenangkan negara bagian selatan itu.

Georgia yang melakukan penghitungan ulang sekitar lima juta surat suara menegaskan kembali bahwa Biden menang dengan selisih lebih dari 12.000 suara.

Tim kampanye Trump kemungkinan kembali akan menuntut penghitungan ulang.

Pada saat semakin banyak tokoh Partai Republik yang menyeru pemerintahan Trump agar mengakui Biden sebagai presiden terpilih, para pemimpin partai itu di Capitol Hill berusaha menghibur sang presiden ketika beberapa tokoh konservatif menggandakan dukungannya.

Jim Jordan dari Partai Republik menulis kepada Komisi Kehakiman DPR untuk menyerukan penyelidikan integritas pemilu "di tengah laporan-laporan meresahkan tentang penyimpangan dan ketidakwajaran."

Tetapi lebih dari dua pekan setelah pemilu, jajak pendapat Pew Research menunjukkan rakyat Amerika lebih menyetujui perilaku Biden daripada Trump.

Enam puluh dua persen mengatakan perilaku Biden sejak 3 November sangat baik atau baik, dibandingkan dengan hanya 31 persen yang mengatakan hal serupa yang dilakukan Trump.

mlm/ec