Angkat harkat komoditas produk kelautan perikanan melalui Gernas BBI

·Bacaan 4 menit

Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia atau disingkat Gernas BBI, sebagaimana namanya adalah sebuah imbauan moral kepada seluruh anak bangsa agar dapat "fanatik" kepada berbagai produk buatan dalam negeri.

Hal itu penting karena selama ini dalam berbagai jenis barang, masih ada orang yang lebih suka mengutamakan produk luar negeri dengan alasan kualitas yang lebih baik hingga merek yang lebih ternama.

Namun, bagaimana halnya dengan beragam produk komoditas di sektor kelautan dan perikanan nasional? Apakah bisa membuat suatu gerakan yang membanggakan produk dari bidang kemaritiman di tanah air.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tentu saja Indonesia tidak akan kehilangan sumber gagasan dalam membuat tema terkait sektor kelautan dalam penyelenggaraan Gernas BBI.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sebagai salah satu pihak penyelenggara Gernas BBI selama bulan September 2021 ini di Aceh, memilih tajuk acara "Masterclass Ikan vs Kopi". Dari acara tersebut, diperoleh juara satu Susi Mardiatin, yang dinilai berhasil dalam mengkreasikan produk abon lele, sebagai cemilan yang lezat sebagai pasangan minum kopi.

Susi mengungkapkan bahwa dirinya tertarik dengan kontes tersebut setelah melihat unggahan di akun Instagram @pasarlaut_indonesia tentang "Masterclass: Ikan vs Kopi". Apalagi, semangat Susi juga semakin melesat karena pemenang kompetisi tersebut dikabarkan mendapatkan hadiah Rp25 juta serta juga mendapatkan pembinaan sekaligus pendampingan usaha dari KKP.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Artati Widiarti mengapresiasi keberhasilan Susi serta mengajak pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk selalu optimistis dan berinovasi guna menciptakan peluang di masa pandemi ini.

Artati juga mengutarakan harapannya agar ke depannya dapat semakin banyak kreasi dan inovasi lain dari UMKM pengolah perikanan guna menunjukkan bahwa produk-produk perikanan Indonesia tak kalah dari produk luar negeri.

UMKM perikanan

Membangkitkan UMKM perikanan dalam ajang Gernas BBI memang menjadi salah satu tujuan dari KKP, bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono juga berharap Gernas BBI mampu meningkatkan kontribusi UMKM sektor kelautan dan perikanan terhadap upaya pemulihan ekonomi nasional.

Menteri Trenggono menegaskan pihaknya akan terus mendukung program pemerintah dalam mendorong usaha mikro kecil dan menengah termasuk di sektor kelautan dan perikanan untuk meningkatkan kapasitas melalui promosi dan digitalisasi pemasaran guna meningkatkan produksi dan omzet penjualan.

Keterlibatan UMKM di sektor pangan, memang dinilai merupakan hal yang esensial, karena makanan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi setiap harinya.

Terkait dengan kuliner Indonesia, hal tersebut dinilai baik dalam bentuk makanan maupun minuman juga harus lebih banyak dititikberatkan ke jenis pangan lokal agar selaras dan dapat terwujud dengan tujuan dari Gernas BBI seutuhnya.

Berbagai daerah di Indonesia juga kaya akan berbagai jenis ikan, sehingga perlu adanya penguatan rantai pasok UMKM perikanan terutama untuk memperlancar distribusi.

Ketua Harian Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan berpendapat bahwa dengan penguatan produk UMKM di dalam industri skala menengah dan besar, termasuk pembenahan jalur distribusinya, dengan sendirinya dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Dani juga mengusulkan agar Gernas BBI juga perlu menggencarkan pembelian ikan dari kalangan nelayan tradisional di berbagai daerah. Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga perlu memperkuat infrastruktur logistik untuk membawa ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan kecil agar bisa dipasarkan langsung ke konsumen, termasuk lewat jaringan digital.

BUMN perikanan

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan Abdul Halim juga menyarankan berbagai BUMN bidang perikanan lebih meningkatkan kolaborasi dengan kalangan nelayan lokal dalam mengangkat harkat kesejahteraan mereka.

Dengan bersinergi bersama BUMN perikanan, maka akan bisa diolah dengan inovasi yang ada dan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pangan perikanan domestik, sedangkan komoditas yang berlebih dapat diekspor ke berbagai negara di luar negeri.

Berbicara tentang inovasi, Ketua Harian Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (Iskindo) Moh Abdi Suhufan juga menyatakan sepakat bahwa penyelenggaraan Gernas BBI perlu dalam rangka memperkuat inovasi dalam memperkuat pangan perikanan nasional.

Inovasi tersebut juga tidak sebatas kepada pangan siap saji, tetapi juga dalam berbagai komoditas lainnya seperti garam industri yang masih banyak diimpor saat ini.

Menggairahkan inovasi untuk dapat mencari solusi terhadap beragam impor merupakan hal yang baik, apalagi pemerintah juga sedang mengintegrasikan berbagai jenis penelitian dan pengembangan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Tentu saja, semua riset yang dilakukan terkait pengembangan produk dalam negeri tidak harus bersifat tinggi dan kompleks, tetapi bisa juga bersifat sederhana seperti mencari tahu olahan jenis pangan perikanan yang digemari warga di daerah tertentu.

Kemudian, Gernas BBI juga mesti menjadi gerakan bersama masyarakat dan pemerintah sehingga lebih memperkuat determinasi dalam membangkitkan ekonomi masyarakat kelautan dan perikanan, sekaligus tidak menjadi hanya sekadar simbolis dan seremoni.

Dengan kata lain, kegiatan imbauan moral seperti Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, harus bisa benar-benar membangkitkan harkat beragam komoditas yang terkait sektor kelautan dan perikanan nusantara, terlebih republik ini juga dikenal sebagai salah satu kepulauan terbesar di dunia.

Baca juga: KKP: Unit Pengolahan Ikan harus terapkan Sanitasi-Higiene Plus
Baca juga: Menteri KP: RI bilateral dengan China soal produk ikan terpapar COVID
Baca juga: KKP ingatkan eksportir tingkatkan mutu produk perikanan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel