Angkatan Luar Angkasa AS Ulang Tahun, Tugasnya Lawan China dan Rusia

Lazuardhi Utama
·Bacaan 2 menit

VIVAAngkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (US Space Force) berusia satu tahun atau resmi berdiri sejak 20 Desember 2019. Sayap militer terbaru AS dalam 70 tahun terakhir itu berada di bawah komando Angkatan Udara AS (US Air Force).

Saat ini mereka sedang mengkonsolidasikan operasi militer yang berfokus pada perlindungan aset-aset milik Departemen Pertahanan atau Pentagon. Mulai dari menjalankan peluncuran satelit, mengelola konstelasi GPS, hingga menerbangkan pesawat ruang angkasa rahasia X-37B. Cape Canaveral sekarang resmi menjadi pangkalan Angkatan Luar Angkasa AS.

Baca: Negara-negara yang Ikhlas Bentuk Pasukan Khusus Penjaga Luar Angkasa

Mengutip situs CNET, Senin, 21 Desember 2020, alokasi anggaran Angkatan Luar Angkasa pertama mencapai US$40 juta (Rp557 miliar).

Meski begitu, keberadaan Angkatan Luar Angkasa ini bukan untuk menempatkan tentara di orbit Bumi, melainkan untuk menghadapi China dan Rusia yang terus mengembangkan kekuatan militer mereka di ruang angkasa.

Angkatan Luar Angkasa akan terdiri dari 16 personel yang diambil dari AU dan pegawai negeri sipil (PNS) dengan Kepala Staf Angkatan Luar Angkasa AS pertama adalah Jenderal John W. Raymond.

Logo bendera US Space Force mirip dengan logo Starfleet Command dalam film Star Trek yang memiliki latar belakang berwarna hitam dengan bintang-bintang terang. Lalu, terdapat juga gambar Bumi dengan lambang delta seperti panah di bagian tengah.

"Tidak ada yang menginginkan adanya perang di luar angkasa. Tapi kami ingin mempertahankan posisi kami (di luar angkasa)," kata Komandan Pasukan Antariksa AS, Mayor Jenderal John Shaw.

Menurutnya, ancaman yang diterima Angkatan Luar Angkasa AS bukan lagi secara teoritis dan sudah mulai bermunculan. Ia mencontohkan ketika US Space Force mendeteksi adanya misi antisatelit yang dilakukan Rusia di orbit rendah Bumi.

Ancaman ini terjadi pada April dan Juli tahun ini. "Ancaman itu adalah sesuatu yang nyata dan terus berkembang. Ketakutan ini bukan hanya ada di Amerika Serikat tapi juga pada negara lainnya," papar dia.