Anies Baswedan, Apa Karyamu Selama 3 Tahun Memimpin DKI?

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 3 menit

VIVA – Anies Baswedan, apa karyamu selama 3 tahun memimpin DKI Jakarta? Hari ini adalah memasuki 3 tahun pemerintahan Anies Baswedan di Provinsi DKI Jakarta. Sedikit atau banyak prestasinya, dipuji atau dicaci, itu tergantung pihak siapa yang menilai.

Kalau dari pendukungnya, tentu semua janji kampanye Anis di Pilkada DKI Jakarta 2017, sebagian besar sudah dipenuhi. Sebagian lagi akan tuntas sampai akhir masa jabatan.

Tapi bagaimana dengan pembencinya? Atau kaum oposan, tentu sebaliknya. Janji kampanye dan tindakan Anies yang dianggap merugikan kelompoknya, jelas menjadi bahan bully, nyinyir dan ejekan. Namanya juga oplosan, eh oposan.

Tahun kedua dari pemerintahan Anies, misalnya, ia harus sendirian memikirkan ibukota yang wilayahnya luas dengan warga yang heterogen. Itu karena ditinggal Sandiaga Uno yang ikut calon Wapres 2019 tapi gagal. Jabatan Wagup kemudian diisi oleh Ahmad Riza Patria sampai sekarang.

Nasib serupa, Gubernur ikut calon Presiden, juga menimpa pendahulunya yang sama-sama terkesan meninggalkan warga pemilihnya di Ibukota. Masih ingat Gubernur DKI Jakarta saat dijabat oleh Jokowi atau Joko Widodo?

Mantan Walikota Solo ini juga tercatat meninggalkan warga Jakarta karena ikut pemilihan calon Presiden RI. Tinggallah Wakil Gubernur saat itu, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama yang dikenal temperamental itu.

Pria kelahiran Manggar, Belitung Timur, Bangka Belitung ini pun tidak lama. Itu karena tersangkut kasus penistaan agama. Ahok kemudian digantikan oleh Djarot Saiful Hidayat. Sampai kemudian kursi gubernur diduduki Anies pada Pilkada DKI hingga sekarang.

Hari ini genap 3 tahun Gubernur Anies Rasyid Baswedan memimpin Ibu Kota Jakarta. Satu website Tokoh Terpopuler menuliskan pandangannya, bahwa tentu banyak capaian pembangunan seperti penataan kawasan Sudirman Thamrin, integrasi moda angkutan umum, hingga penataan trotoar.

Banyak juga penghargaan yang telah diterima baik dari dalam negeri maupun luar negeri sebagai bukti keberhasilan kepemimpinannya.

Namun ada juga kekurangannya seperti masih terjadi banjir di sejumlah titik di kala hujan, kemacetan dan problem klasik Jakarta lainnya.

Persoalannya, sangat sulit bagi kita untuk mendapatkan berita tentang keberhasilan Anies memimpin Jakarta. Bahkan sempat beredar cuitan nitizen tentang tidak adanya stasiun televisi yang meliput ketika Anies memborong penghargaan dari KPK.

Dari penelusuruan tim Cek Fakta Liputan6.com diketahui ternyata ada 2 stasiun TV yang memberitakan yakni kompas TV dan TV One.

Meski narasi tidak ada televisi yang memberitakan terbukti hoaks, tetapi fakta bahwa hanya 2 TV dari puluhan stasiun TV termasuk TVRI, yang memberitakan, tentu menimbulkan tanda tanya.

Apakah kita masih sepakat tentang perlunya pemerintahan yang bersih sebagai amanat reformasi sehingga mestinya keberhasilan suatu pemerintah daerah di bidang itu digelorakan, diwartakan secara luas, supaya menjadi contoh bagi yang lain?

Tetapi jika terkait hal yang dianggap kontroversi, semisal serangan pejabat pemerintah pusat kepada Anies seperti dalam kasus PSBB, blow up-nya luar biasa.

Bahwa banyak media yang masih setia pada pakem "bad news is goog news", kita tidak menutup mata. Tetapi yang terjadi di Jakarta, sepertinya lebih dari itu.

Belum lagi kolom komentar media daring yang sepertinya memang diperuntukkan bagi kepentingan buzzer dari pihak tertentu sehingga isinya hanya caci-maki kepada Anies.

Celakanya tidak pernah ada sensor, apalagi penindakan hukum sebagaimana yang terjadi saat nitizen melakukan hal yang sama kepada pejabat lain.

Pertanyaan kita benarkah tidak ada sisi baik, tidak ada prestasi yang ditorehkan Anies selama 3 tahun memimpin Jakarta? Jangan-jangan ada, tetapi memang tidak pernah diberitakan (Nur Terbit)