Anies Baswedan, di Antara Banjir Jakarta, Gubernur dan Presiden

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 2 menit

VIVA - Cebong dan Kampretor ternyata belum juga berdamai. Aksi saling ngebully pun masih saja terus berlangsung. Padahal, kedua "junjungan" mereka sendiri, sudah lama bergandengan tangan.

"Tidak ada lagi Cebong dan Kampret," kata Joko Widodo (Jokowi), dalam satu kesempatan, setelah mantan Walikota Solo dan mantan Gubernur DKI Jakarta ini, resmi duduk sebagai Presiden RI.

Rupanya, pernyataan Jokowi ini pun belum cukup. Bullying, atau perudungan antara Cebongers dan Kampretors -- sebutan bagi kedua pendukung presiden dan calon presiden -- tetap terjadi.

"Padahal apalagi sih yang mesti diributin lagi? Pak Prabowo sudah bergabung dengan Pak Jokowi, disusul Pak Sandiaga juga jadi menteri. Apa lagi?" kata tetangga saya.

Masih hangat dalam ingatan kita semua. Beberapa waktu lalu ramai dibicarakan di media sosial. Setiap kali bicara banjir, orang terutama netizen, selalu baperan. Mereka mengaitkan dengan Anies Baswedan.

Padahal peristiwa banjirnya sendiri, terkadang terjadi di luar Jakarta. Artinya, itu sudah di luar kewenangan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta hehe...

"Saya lebih baik di-bully tapi Jakarta aman," kata Anies Baswedan dalam satu wawancara dengan media.

Gubernur Rasa Presiden?

Dalam satu diskusi ormas pemuda yang saya ikuti di kawasan Matraman, Jakarta Timur beberapa waktu lalu, peserta diskusi menginginkan Anies Rasyid Baswedan, lebih dari sekadar Gubernur DKI Jakarta.

Mereka menginginkan mantan rektor Universitas Paramadina dan mantan Menteri Pendidikan Nasional ini jadi Presiden 2024. Gubernur rasa Presiden.

Namun demikian, ada juga pihak yang menginginkan Anies berhenti sama sekali. Tidak keduanya, tidak gubernur, tidak juga presiden. Lalu jadi apa?

Ke depan nanti setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta 2023, Anies yang sudah menjabat 3 tahun jelang 4 tahun ini, dikhawatirkan tidak bakal punya "perahu" sebagai tumpangan politik menuju 2024. Kenapa?

Ya, karena mau merapat ke partai lain misalnya, masing-masing sudah punya calon. Di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sudah ada Muhaimin Iskandar.

Demikian pula Partai Demokrat sudah ada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), konon juga sudah punya calon sendiri.

Bisa-bisa nasibnya Anies, akan sama seperti Jenderal Gatot Nurmantyo, yang "kandas" jadi kandidat Presiden karena tidak punya partai. Kecuali, kalau Anies mau maju sebagai calon non partai.

Nah, bagaimana pandangan serta pendapat masyarakat dan pengamat politik soal Anies?

Saya pernah membuat konten video hasil liputan diskusi tentang Anies, ternyata cukup banyak komentar yang pro-kontra di channel YouTube saya : youtube.com/nurterbit.

Mungkin karena judulnya cukup seksi: "Anies Rasyid Baswedan, Gubernur Rasa Presiden" hehehe... Terima kasih. Salam (Nur Terbit).