Anies Baswedan: DKI Jakarta Siaga Banjir, Tapi Bukan soal Upacara atau Siapkan Alat

·Bacaan 2 menit
Gaya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat memantau penyegelan bangunan di Pulau Reklamasi, Teluk Jakarta, Kamis (7/6). Anies tampak mengenakan baju batik lengan panjang dan celana hitam. (Liputan6.com/HO/Deka Wira Saputra)

Liputan6.com, Jakarta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan pemprov terus bersiaga untuk mengantisipasi tiga penyebab banjir di Ibu Kota. Siaga yang dimaksud adalah menyiapkan sejumlah persiapan dan langkah antisipasi.

"Siaga bukan soal upacara, siaga bukan soal menyiapkan alat-alat. Siaga adalah soal antisipasi untuk menyelamatkan dan itu artinya lokasinya langkahnya pikirkan dari awal, tiga front ini disiapkan pesisir pantai di tengah kota dan kawasan kanan kiri sungai karena kita akan berhadapan dengan tiga front secara bersamaan," kata Anies di Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara, Minggu (14/11/2021).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menyatakan, pemprov terus melakukan evaluasi terkait apa saja yang telah dilakukan pada kejadian-kejadian sebelumnya. Sebab, lanjut dia, siaga bukan berarti Pemprov DKI Jakarta hanya menunggu peristiwa yang belum terjadi.

"Siaga itu bukan menunggu, siaga itu me-review atas apa yang kemarin pernah dikerjakan, apa yang berhasil, apa yang kurang berhasil,maka siapkan sekarang," ucap Anies.

Dia mencontohkan peristiwa yang sempat terjadi dua tahun yang lalu. Yakni sebuah kampung tergenang air banjir setinggi 80 sentimeter. Salah satu rumah dua lantai terbakar di lantai atas karena lilin akibat listrik mati.

Berkaca dari peristiwa ini, dia meminta agar semua warga dapat menyiapkan hal-hal kecil untuk mengantisipasi saat banjir.

"Saya minta kepada semuanya review atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, siapkan itu sekarang fase siaga itu fase mengindetifikasi semua langkah yang harus dilakukan,ini lah fase siaga sesungguhnya," ujar Anies Baswedan.

3 Tantangan

Sementara itu, Anies menyatakan terdapat tiga tantangan yang dihadapi Pemprov DKI saat musim hujan. Hal pertama yakni untuk kawasan pesisir utara.

Kawasan utara Jakarta yang permukaan air lautnya lebih tinggi dan berpotensi menghadapi banjir rob.

"Mana front (penyebab) pertama kita sekarang berada di pesisir front pertama adalah pesisir pantai ketika permukaan air laut meningkat maka ada kawasan kawasan di Jakarta yang berpotensi mengalami rob ini front pertama yg harus diantisipasi," papar Anies.

Lalu yang kedua yaitu saat hujan ektrem terjadi di dalam kota Jakarta. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengatakan kapasitas drainase jalanan utama di Jakarta mampu menampung air hujan dengan intensitas 100 milimeter (mm) per hari.

Sedangkan untuk perumahan, komplek, dan perkampungan hanya dapat menampung 50 mm per hari.

"Artinya bila dalam satu hari hujan terjadi di atas 100 mm maka akan terjadi genangan karena kapasitas daya tampungnya satu hari 100 mm per hari. Awal tahun ini kita mengalami 270 mm tahun 2020 bulan Januari 377 mm jadi kita pernah mengalami lebih dari dua kali kapasitas bahkan pernah hampir empat kali kapasitas," kata Anies.

Kemudian tantangan ketiga yaitu saat hujan terjadi di wilayah selatan Jakarta atau di kawasan pegunungan. Anies menyatakan saat hujan maka air pegunungan akan mengalir ke kawasan pesisir atau ke Jakarta.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel