Anies Baswedan Klaim Banjir Jakarta 2021 Terkendali

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyatakan bahwa banjir yang terjadi di ibu kota pada 2021 ini cukup terkendali jika dilihat berdasarkan jumlah RT terdampak. Dari total 30.470 RT di Jakarta, dia menyebut hanya ada 116 RT yang terendam.

"Saat ini ada 116 RT yang di situ ada genangannya, yaitu 0,38 persen. Jadi ada sekitar total 116 RT dari 30.470 RT," ujar Anies, Jakarta, Selasa (9/2/2021).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini berprinsip bahwa penanganan banjir kali ini harus memenuhi 2 target. Pertama, bila terjadi hujan lebat harus dipastikan surut dalam waktu 6 jam setelah hujan reda. Kedua, tidak ada korban jiwa.

"Dan yang ketiga adalah 3 galang. Insyaallah kita akan bisa melewati masa musim penghujan ini dengan baik," ucap Anies.

Anies sebelumnya mengklaim, bahwa penanganan banjir tahun ini cukup berdampak baik dengan adanya program gerebek lumpur.

"Kita bersyukur bahwa program gerebek lumpur yang kita jalankan dalam beberapa bulan terakhir telah menunjukkan hasilnya. Di mana saluran-saluran air dalam sistem drainase di Jakarta, sendimentasinya bisa dibersihkan. Sehingga bisa mengelola limpahan air hujan dengan lebih baik," ucap Anies, Senin (8/2/2021).

Meski menunjukan hasil yang diharapkan, Anies mengingatkan warga Jakarta agar tetap waspada mengingat musim hujan belum usai. Untuk itu, ia juga meminta tim penjaga pintu air, Dinas Sumber Daya Air, dan pihak terkait penanganan banjir agar tetap saling berkomunikasi.

Belajar dari Banjir 2020

Alat berat dioperasikan petugas Dinas Sumber Daya Air saat kegiatan Gerebek Lumpur di Waduk Ria Rio, Jakarta, Senin (21/9/2020). Kegiatan itu salah satu upaya mengatasi banjir Ibu Kota saat musim penghujan dengan mengurangi proses pendangkalan di sungai, danau, dan waduk (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Alat berat dioperasikan petugas Dinas Sumber Daya Air saat kegiatan Gerebek Lumpur di Waduk Ria Rio, Jakarta, Senin (21/9/2020). Kegiatan itu salah satu upaya mengatasi banjir Ibu Kota saat musim penghujan dengan mengurangi proses pendangkalan di sungai, danau, dan waduk (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Mantan rektor Universitas Paramadina itu menerangkan dalam menghadapi musim hujan, hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi curah hujan di kawasan hulu, curah hujan lokal, serta melihat kondisi permukaan air laut karena ibu kota berada d pesisir pantai.

"Apabila permukaan air laut meningkat, maka kawasan yang persis berdempetan dengan pesisir pantai, berpotensi mengalami banjir. Jadi bukan satu-satunya curah hujan, tapi juga ada seperti ketinggian permukaan air laut," jelasnya.

Anies mengatakan, Pemprov DKI telah banyak belajar dari peristiwa banjir awal tahun 2020, di mana saat persiapan menghadapi musim hujan, seluruh jajaran Dinas SDA telah mengantisipasi sejak tahun sebelumnya. Sehingga, saat ini Pemprov DKI terbantu dalam mengantisipasi situasi jika terjadi hal di luar kendali seperti volume air yang tinggi akibat curah hujan yang intensif.

"Yang sudah kita kerjakan sejak lama adalah pengerukan waduk-waduk di Jakarta sejak tahun lalu. Kemudian pembersihan sendimentasi di saluran saluran dikerjakan dengan luar biasa. Lalu yang ketiga membangun sumur vertikal untuk drainase, keempat memastikan semua pompa air berfungsi dengan baik, karena kita memiliki lebih dari 50 rumah pompa. Kemidian yang kelima adalah pengendalian pintu pintu air, jadi seluruh persiapannya dikerjakan tahun lalu. Hal ini supaya saat musim hujan datang, kita posisinya siaga, dan tanggap," ujarnya.

Yunita Amalia/Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: