Anies Imbau Masjid Hanya Digunakan Warga Setempat Saat Ramadhan

Agus Rahmat, Syaefullah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah memutuskan memberi izin untuk menyelenggarakan ibadah tarawih pada Ramadhan 1422 H/ 2021 M yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Meski begitu, pengurus masjid diimbau tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Termasuk di DKI Jakarta. Gubernur Anies Baswedan bahkan mengimbau para pengurus masjid, agar jamaah yang salat di masjid itu cukup warga sekitar, sehingga mereka saling kenal.

"Bagi (pengurus) masjid-masjid di Jakarta, kami menganjurkan untuk digunakan bagi jamaah dari wilayah terkait, sehingga yang berada di masjid itu adalah warga yang relatif saling kenal, untuk kita bisa melakukan pengendalian bila ditemukan ada kasus (COVID-19)," kata Anies Baswedan, saat mendatangi Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat, 9 April 2021.

Baca juga: Moeldoko Tampik Bicara soal Demokrat: Jangan Ikut-ikutan Primitif!

Menurutnya, tujuan utama dalam pendisiplinan terkait pelayanan ibadah selama Ramadhan ini adalah untuk pengendalian apabila muncul potensi kasus baru saat beribadah. Sehingga Satgas COVID-19 yang berada di lokasi sekitar dengan mudah melakukan tracing.

Tetapi pengendalian akan menjadi sulit, ketika masjid terkait dibuka untuk umum. Bahkan lanjut dia, di situlah potensi penularan menjadi lebih tinggi dan semakin tidak terkendali.

"Jadi, mari kita jaga keselamatan, kita jaga perlindungan sesama warga dari penularan sambil tetap bisa menjalankan ibadah yang suci di bulan Ramadhan," katanya.

Maka dari itu, lanjut dia, penggunaan masjid untuk aktivitas ibadah harus dijalankan dengan menaati protokol kesehatan. Anies juga meminta tetap hindari kerumunan, dan tidak melepas masker.

Tak hanya salat tarawih, terkait kegiatan tadarusan yang selalu dijalankan sebagai pelengkap ibadah selepas salat tarawih di berbagai masjid.

Anies mengajurkan kepada masyarakat agar melaksanakan tadarus di rumah saja. Untuk menjaga risiko penularan yang bisa meningkatkan potensi penambahan kasus aktif.

"Sebetulnya, bukan pada tadarusnya (yang dilarang), tapi jangan buka maskernya. Jadi, aktivitas beribadah sesungguhnya tetap bisa dijalankan yang penting tidak melanggar protokol kesehatan," katanya.

Dia tak ingin aktivitas ibadah seperti tadarus Alquran tidak dilakukan karena COVID-19. Tetapi lebih pada menaati protokol kesehatan, agar penularan virus ini tidak semakin luas. Jakarta hingga kini masih cukup tinggi angka kasusnya.

"Jadi, jangan sampai kita jadi mengurangi salat, mengurangi tadarus, atas nama protokol kesehatan. Tadarus jalan terus, salat bisa, yang penting jaga jarak, yang penting pakai masker tanpa pernah dilepas," tambahnya.