Anies: Kalau Ada Angka Positif COVID-19 Harus Kita Syukuri, Ketahuan

Mohammad Arief Hidayat, Syaefullah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Anies Rasyid Baswedan menjelaskan alasan jumlah kasus infeksi COVID-19 di DKI Jakarta begitu tinggi dibandingkan sejumlah negara lain. Pada Rabu, 29 Juli 2020 saja, jumlah warga yang terjangkit 584 orang.

"Kenapa di Jakarta itu jumlahnya tinggi? Saya ingin sampaikan kepada semuanya di sini, karena Jakarta mengambil strategi mencari orang-orang yang terpapar lalu diisolasi, lalu diputus mata rantainya," katanya dalam sebuah forum webinar.

Kalau Jakarta hanya ingin tampak jumlahnya sedikit, pemerintah tidak perlu melakukan pemeriksaan. Tetapi wabahnya tidak akan pernah mereda jika begitu.

Baca: Anies Jelaskan Alasan DKI Pinjam Uang Rp12,5 Triliun

Maka, yang dikerjakan pemerintah DKI Jakarta adalah melakukan pengetesan sebanyak mungkin, mencari orang-orang yang positif. Begitu ketemu yang positif, kalau tanpa gejala, tidak berisiko, dan cukup isolasi atau karantina mandiri. Kalau memiliki gejala atau berisiko, maka akan diminta diisolasi di rumah sakit

Sebenarnya, menurut Anies, pemerintah menargetkan memeriksa paling sedikit 10 ribu orang per minggu. Namun DKI Jakarta bahkan sampai 43 ribu orang per minggu dengan persentase 6,3 persen. “Nah 6,3 persen inilah yang kalau tidak ketahuan itu mereka akan menularkan kepada lebih banyak lagi," ujarnya.

Untuk itu, ia berharap masyarakat ikut membantu menjelaskan bahwa angka positif yang ditemukan di Jakarta harus disyukuri. Kalau mereka tidak ditemukan atau dideteksi, maka mereka menularkan dan penyebarannya akan makin tak terkendali.

Kalau seseorang terpapar COVID-19 tapi dia tidak tahu terjangkit, Anies berargumentasi, orang itu akan menularkan kepada suami/istrinya, anaknya, teman kerjanya, orang tuanya, dan seterusnya. Tapi jika orang itu segera diketahui telah terinfeksi, upaya pencegahan bisa segera dilakukan sehingga tidak menulari orang lain.

“Saya selalu sampaikan, kalau ada angka positif itu harus kita syukuri ketahuan. Banyak dari kita yang menganggap kalau positif berarti masalah. Memang kita masih punya wabah. Sedunia masih ada wabah. Pilihannya adalah mau ditemukan atau tidak," ujarnya.

"Kalau tidak ditemukan, angkanya nanti kecil. Kalau kecil, mungkin kita bersyukur, alhamdulillah, tambahnya hari ini cuma 10—karena yang ditesnya sedikit; karena tidak berusaha diketahui.”

Meningkatkan kegiatan pemeriksaan atau deteksi dini justru untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Pemerintah juga ingin mengurangi jumlah kasus kejangkitan, tetapi bukan dengan mengurangi kegiatan pemeriksaan, melainkan harus dengan menggencarkannya. (ren)