Anindya Bakrie Ungkap Potensi Besar RI pada Rantai Pasok Global

Fikri Halim, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 3 menit

VIVA – Aktivitas rantai pasok dan manufaktur Indonesia memang diakui masih relatif kecil dibandingkan dengan negara-negara lain. Namun, Ketua Dewan Penasihat Bisnis Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik atau APEC Business Advisory Council (ABAC), Anindya N Bakrie berpendapat, Indonesia sebetulnya punya potensi yang lebih besar dalam rantai pasok global.

"Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk bisa berkontribusi lebih besar dalam global supply chain (rantai pasok global)," kata Anin akrabnya disapa dalam acara 'APEC CEO Dialogues 2020', Kamis 19 November 2020.

Apalagi, Anindya menilai bahwa saat ini Indonesia terlihat cukup optimistis untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang solid, dengan adanya sejumlah perbaikan pada aspek-aspek fundamental.

Namun, penerapan kebijakan integrasi ekonomi regional melalui Free Trade Area of the Asia-Pacific (FTAAP) di dalam APEC, dipastikan akan bisa lebih mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia dan Asia-Pasifik secara keseluruhan.

Apalagi, di masa pandemi COVID-19 saat ini, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan adopsi e-commerce tercepat di tengah pertumbuhan ekonomi global yang tengah melambat.

Sebagai pemimpin di Asia Tenggara dalam internet economy, Indonesia juga merupakan pasar smartphone terbesar keempat di dunia saat ini dengan pengguna ponsel pintar sebanyak 142 juta orang.

Karena itu, lanjut Anin, pandemi COVID-19 ini seharusnya mampu membuka mata dan membuat Indonesia sadar bahwa aspek konektivitas digital itu penting dan harus menjadi salah satu prioritas utama untuk dunia di era pascapandemi nanti.

"Potensi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia sangat besar dan banyak sektor yang berpotensi untuk berkembang, seperti misalnya pendidikan, kesehatan, dan energi terbarukan," ujar Anindya.

Apalagi di era Industri 4.0 saat ini, sambung dia, Indonesia telah menghasilkan banyak inovasi yang bermanfaat bagi perkembangan perusahaan startup dalam satu dekade terakhir. “Mulai dari online ride hailing, hingga digital wallet dengan model bisnis yang luas dari Business-to-Business (B2B) dan Business-to-Consumer (B2C)," ujarnya.

Indonesia Punya Pengalaman

Indonesia dipastikan telah menguasai tiga poin utama seperti yang disampaikan oleh Malaysia sebagai tuan rumah penyelenggaraan APEC CEO Dialogues 2020. Yakni terkait regional integration, digital innovation, dan economic inclusion.

"Alhamdulillah tiga-tiganya itu di Indonesia bukan hanya ada, tapi kita juga sudah cukup (menguasainya secara) signifikan," kata Anindya.

Baca juga: Update COVID-19 Hari Ini: Pasien Sembuh Bertambah 4.262

Anindya menjelaskan, jika dilihat dari sisi regional integration, Indonesia sudah mempunyai pengalaman yang sangat besar dengan upaya menyatukan negara kepulauan.

Karenanya, dalam empat kali meeting ABAC, Indonesia selalu bisa berbagi pengalaman tentang proses integrasi secara regional.

"Karena di 20 negara (peserta APEC) lainnya tidak ada yang bisa mengatakan bahwa mereka punya 17 ribu pulau, 275 juta penduduk," ujar Anindya.

Kemudian, dalam hal digital innovation, Indonesia telah membuktikan bahwa dari sembilan Unicorn yang ada di Asia Tenggara, lima di antaranya itu ada di Indonesia dan empat Unicorn sisanya berfokus di Indonesia.

Karena itu, lanjut Anindya, walaupun digital innovation Indonesia masih berada di posisi awal, tapi Indonesia ini adalah gudang dan lahan dari berbagai inovasi digital di era saat ini.

"Kelihatannya Indonesia juga akan menjadi lumbung (inovasi digital) dunia jika dilihat dari valuasinya," tutur Anindya.

Selanjutnya mengenai economic inclusion, Anindya berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo hingga saat ini bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi nasional saja.

"Tapi juga agar kesejahteraan masyarakat bisa berkembang, dan tentunya lapangan kerja juga semakin banyak. Inilah tema sentral Omnibus Law," ujarnya. (art)