Anjlok, Laba BUMN 2020 hanya Rp 28 Triliun

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri BUMN, Erick Thohir, mengungkapkan bahwa laba bersih BUMN turun dari 2019 sebesar Rp 124 triliun menjadi Rp 28 triliun. Hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang juga memukul kinerja perusahaan-perusahaan BUMN.

"Sebagai catatan saja, kalau kita lihat dari konsolidasi awal karena ini belum diaudit, bahwa jelas memang pandemi ini sangat terdampak juga dengan BUMN. Tadinya kita punya net profit, ya tapi ini tentu ada net profit tidak langsung dibagi tetapi kan dipakai lagi buat BUMN lainnya. Tadinya Rp 124 triliun pada 2019, di tahun ini konsolidasi hanya Rp 28 triliun," kata Erick dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI pada Kamis (3/6/2021).

Ia juga mengungkapkan bahwa pendapatan BUMN mengalami penurunan dari Rp 1.600 triliun menjadi Rp 1.200 triliun. Angka ini terlihat nyata jika semua buku dikonsolidasikan dan diaudit.

Oleh sebab itu, Kementerian BUMN mulai tahun ini akan memiliki buku secara konsolidasi melalui sistem terintegrasi. Perkiraannya akan ada pada periode September 2021.

"Salah satunya kenapa kita ingin membangun project management office ini tidak lain supaya semua database yang ada di BUMN itu bisa menjadi satu dan kita bisa melihat pembukuan ataupun keperluan capex-capex lain yang tidak diperlukan untuk di-cut, seperti apa yang kita lakukan kemarin di PLN ataupun di Telkom," jelas Erick.

"Kalau kita lihat kan Telkom, salah satu profitabilitas yang naik itu bagaimana capex kita tetap tekan," lanjut Erick Thohir.

Erick Thohir Ajukan Tambahan Anggaran 2022 Sebesar Rp 33,34 Miliar

Menteri BUMN Erick Thohir saat rapat bersama DPR di Ruang Pansus B Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5/2020). Rapat tertutup tersebut membahas antisipasi skema penyelamatan perbankan akibat COVID-19. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Menteri BUMN Erick Thohir saat rapat bersama DPR di Ruang Pansus B Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5/2020). Rapat tertutup tersebut membahas antisipasi skema penyelamatan perbankan akibat COVID-19. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Menteri BUMN Erick Thohir tak ingin anggaran di instansinya setiap tahun terus mengalami penurunan. Untuk itu, dirinya mnegajukan tambahan anggaran dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI.

Di sana, Erick Thohir mengusulkan pagu indikatif Kementerian BUMN TA 2022 sebesar Rp208,2 miliar dan mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp33,34 miliar.

"Saya ingin menyampaikan mengenai pagu indikatif Tahun Anggaran 2022 Kementerian BUMN, dimana sesuai dengan keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menteri PPN/Kepala Bappenas tertanggal 29 April 2021 bahwa pagu indikatif TA 2022 Kementerian BUMN ditetapkan Rp208,2 miliar," ujar Menteri BUMN Erick Thohir dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta seperti dikutip dari Antara, Kamis (3/6/2021).

Menurut Erick Thohir, pagu indikatif tersebut lebih rendah dari pagu indikatif tahun 2021 sebesar Rp244,8 miliar atau 85,06 persen. Kalau melihat dari tahun 2020 ke tahun 2021 dan tahun 2022, anggaran Kementerian BUMN terus mengalami penurunan.

"Adapun kalau kita melihat dari pagu indikatif TA 2022 Rp208,2 miliar ini menjadi dua program yakni pertama program dukungan sebesar Rp152,9 miliar dan program pengembangan serta pengawasan Rp55,3 miliar," kata Menteri BUMN Erick Thohir.

Kegiatan yang dilakukan pada tahun depan ada empat program yakni pembina dan pengawas BUMN yang profesional, memaksimalkan kontribusi BUMN, mewujudkan kemandirian dan korporatisasi BUMN, serta peningkatan keunggulan dan daya saing BUMN.

Adapun pada program peningkatan keunggulan dan daya saing BUMN beberapa di antaranya adalah peningkatan pasar BUMN ke luar negeri, inovasi yang bernilai strategis, dan program hilirisasi yang dijalankan BUMN.

"Pada hari ini, Kamis (3/6) kami juga ingin mengusulkan kepada Komisi VI DPR RI, bila dimungkinkan mohon ada penambahan anggaran sebesar Rp33,34 miliar. Adapun kalau kita melihat, sebagai catatan terbesar memang gedung Kementerian yang kami tempati sudah cukup tua. Karena itu kami mengusulkan adanya tambahan perbaikan di gedung," ujar Menteri BUMN tersebut.

Tambahan anggaran tersebut juga rencananya diperuntukkan untuk pembangunan aplikasi Project Management Office dan Portofolio Management sebesar Rp8,2 miliar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: