Anti Bosan, 5 Cara Menjaga Keharmonisan dengan Pasangan saat Di Rumah Saja

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan PSBB hingga PPKM Darurat untuk mencegah penyebaran Covid-19 semakin meluas. Tentu situasi ini mengharuskan kita untuk tempat tinggal di rumah saja, mulai dari work from home, belajar daring, dan kegiatan apapun dilakukan secara online.

Bagi yang sudah menikah, tentu akan bertemu pasangan 24 jam non stop. Diawal mungkin senang, namun mungkin lama kelaaman mulai timbul kebosanan hingga akhirnya muncul pertikaian. Apalagi jika pasangan jusru lebih fokus bekerja, dibanding memerhatikan kita.

Lalu mengapa bisa timbul rasa bosan pada pasangan? Inez Kristansi, M.Psi, seorang psikolog klinis menyampaikan rasa bosan pada pasangan bisa disebakan karena tidak mendedikasikan waktu sepenuhnya dengan pasangan. Misalnya saja, ketika berinteraksi dengan pasangan, kalian sambil bekerja.

"Ketika sedang bersama pasangan, kita justru sambil bekerja. Duduk bersama tapi sambil membalas email kerjaan," ujar Psikolog Inez dalam acara Durex Meluncurkan Kampanye #BreakTime, Jumat (16/7) secara virtual.

Lalu bagaiaman cara membangun keharmonisan?

1. Kulitas bukan kuantitas

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/SunnyVMD
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/SunnyVMD

Inez mengatakan, yang terpenting adalah kuantitas bukan kualitas. Maka saat bersama pasangan sebaiknya fokus padanya, tidak diganggu oleh pekerjaan misalnya.

"Duduk bersama tapi sambil membalas email kerjaan. Hal ini tentu tidak akan membangun kualitas hubungan yang baik dengan pasangan. Padahal, yang diperlukan kualitas bukan kuantitas seberapa sering kita bertemu pasangan," ujarnya.

2. Jadwal yang terarah

Tips agar pasangan menjadi pendengar yang baik./Copyright shutterstock.com
Tips agar pasangan menjadi pendengar yang baik./Copyright shutterstock.com

Jika awal-awal WFH merasa tidak terbebani. Namun semakin lama, WFH justru mengaburkan kehidupannya kita. Alhasil membuat mudah stres bahkan depresi.

Salah satu cara agar kita tidak merasa memang memilih mana yang di bawah kendali dan di luar kendali kita. Begitu pun dengan pasangan, Inez mengatakan bisa membuat pembagian, kapan kita bekerja, kapan kita melakukan me time, dan kapan kita menghabiskan waktu dengan pasangan.

"Misalnya kita punya waktu 30 menit, 15 menit buat diri sendiri, 15 menit buat ngobrol atau melakukan hal lain dengan pasangan. Jika waktu itu dirasa kurang, ditambah lagi. Lihat sampai 1-2 hari, evaluasi, jika merasa nyaman, trus lakukan," papar Inez.

Inez mengatakan jika bersama pasangan sebaiknya tidak melakukan pekerjaan, ahar kualitas terbangun.

3. Komunikasi dan hilangkan gengsi

ilustrasi couple bahagia/copyright by Carlos Huang (Shutterstock)
ilustrasi couple bahagia/copyright by Carlos Huang (Shutterstock)

Menurut Inez, meskipun berada di rumah saja membuat aktivitas yang bisa dilakukan dengan pasangan terbatas tetapi komunikasi harus menjadi prioritas.

"Jika berkomunikasi dengan baik akan muncul ide-ide baru, dapat membicarakan kendala apa saja yang dirasakan, kunci memang cuma komunikasi," paparnya.

Tak dipungkiri banyak pasangan yang gengsi bilang terlebih dahulu jika ingin mengajak suatu hal. Padahal, itu hak kita untuk menyampaikan apa yang kita butuhkan dari pasangan.

"Jangan gengsi ketika kita butus pasangan, kita bisa minta duluan. Agar kita sama-sama tahu apa yang dibutuhkan. Terutama untuk perempuan yang sungkan untuk minta apapun duluan, sekarang jamannya perempuan bersuara," paparnya.

Jangan main kode, karena kita tidak tahu pemikiran pasangan. Baiknya langsung diutarakan.

4. Break time

Ilustrasi Pasangan Suami Istri Credit: shutterstock.com
Ilustrasi Pasangan Suami Istri Credit: shutterstock.com

Inez mengatakan bekerja dari rumah telah mengaburkan garis waktu kita untuk beristirahat dan kembali bekerja. Sangat penting untuk bisamengalokasikan waktu yang cukup bagi diri kita sendiri untuk beristirahat dan recharge. Terutama untuk pasangan, yang mungkin tinggal bersama tetapi mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Break time bisa menjadi alternatif bagi pasangan untuk melakukan aktivitas yang berbeda dari biasanya. Juga menekankan pentingnya berfokus pada kualitas daripada kuantitas dalam halmengalokasikan waktu istirahat.

“Waktu istirahat tidak harus memakan waktu lama; yang pentingmemang didedikasikan untuk rehat,” tambahnya.

Break time bersama pasangan bisa dengan menonton film bersama, mengobrol, dan makan bersama.

Rahul Bibhuti, Marketing Director - Reckitt Indonesia, mengatakan Durex melakukan kampanye #BreakTime untuk mendorong orang – orang memastikan hubungan emosionalnya dengan memeriksa kondisi orang tercinta melalui beragam platform digital untuk mengatasi perasaan yang terisolasi.

"Selain waktu istirahat, kampanye ini juga mendorong adanya “kesetaraan gender” dengan mengedukasi pasangan terkait seks dan intimacy. Masyarakat Indonesia dapat mengikuti kampanye ini dengan mengingatkan pasangan atau orang- orang yang mereka cintai di berbagai platform media sosial untuk beristirahat dengan menggunakanhashtag #BreakTime dan membagikan momen “me-time”," paparnya.

5. Sentuhan kecil bermakna besar

Ilustrasi Pasangan Suami Istri Credit: shutterstock.com
Ilustrasi Pasangan Suami Istri Credit: shutterstock.com

Bentuk break time tidak melulu seks, cukup dengan sentuhan-sentuhan kecil akan membuat pasangan bahagia. Mislanya saja berpelukan dan memengang tangannya.

"Seks itu tidak melulu soal hubungan seks, namun bisa dengan sentuhan fisik yang sedergana, misal memeluk," ujarnya.

#elevate women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel