Antifasisme di Dalam Dunia Sepak Bola

Syahdan Nurdin, susahtidur2294-576
·Bacaan 1 menit

VIVA – Rasisme seperti kanker yang tak sembuh dari peradaban manusia. Kecenderungan untuk membangun hierarki rasial masih mengakar dalam kehidupan sosial. Dari sesederhana pemilihan ketua RT, sampai rasisme yang didukung ormas hingga negara.

Kebencian berbasis rasial ini menabur perilaku fasis, yang mungkin dinormalisasi sebagai sebuah budaya. Dunia sepak bola tidak lepas dari pengaruh rasisme. Mungkin masih hangat dalam pikiran saat rasisme tampil di tengah laga sepak bola.

Dari menyebut pemain “monyet” sampai serangan fisik kepada pemain. Bahkan terjadi di Indonesia seperti yang dialami Persipura. Apakah ini normal? Apakah ini budaya yang wajar? Kalah dalam laga sepak bola itu wajar. Bersaing di lapangan hijau adalah lumrah. Rasisme, menurut saya (dan saya harap Anda juga) bukanlah hal wajar!