Anton Medan Pernah Surati PM Malaysia, Loloskan Napi dari Hukuman Mati

Mohammad Arief Hidayat, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 1 menit

VIVA – Ramdhan Effendy alias Tan Hok Liang alias Anton Medan meninggal dunia pada Senin, 15 Maret 2021. Dia mengembuskan napas terakhirnya di rumahnya di kompleks Pesantren At-Taibin, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 14.30 WIB.

Sejak memutuskan menjadi mualaf dan memperdalam agama Islam, kehidupan mantan preman yang cukup disegani pada masanya itu pun berubah drastis. Ia lebih banyak menghabiskan sisa umurnya untuk menolong orang lain.

"Almarhum suka membantu orang, terlepas dari suku agama ras segala. Jadi, ya, orangnya mampu, enggak mampu, di mana beliau bisa bantu beliau akan bantu," kata sang menantu, Syamsul Bahri Radjam, yang ditemui di rumah duka.

Ada satu kisah yang sampai sekarang masih diingat betul oleh Syamsul dan menjadi pelajaran berharga bagi keluarga. Kala itu, Anton Medan membantu dua orang narapidana yang divonis hukuman mati di Malaysia. Mereka adalah kakak beradik, Darren dan Frans Liu, asal Singkawang, Kalimantan Barat.

“Mereka dua bersaudara membela diri karena ada rampok yang masuk tapi oleh pengadilan Malaysia mereka diberlakukan hukuman mati,” katanya.

Kemudian, Anton Medan bersama sejumlah pengurus PITI berangkat ke Malaysia, bertemu kedua orang itu di penjara. Setelah itu Anton menulis surat ke pengadilan dan PM Malaysia Mahathir Mohamad agar mereka dibebaskan karena mereka sebenarnya tak bersalah.

“Mereka diserang perampok, membela diri, dan perampoknya meninggal. Ya, mereka disalahkan. Kan enggak benar,” ujar Syamsul.

Jenazah pemilik nama tionghoa Tan Hok Liang itu akan dimakamkan pada Selasa, sambil menunggu anak-anaknya dan para kerabat bertakziah ke rumah duka.

Sang Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) wafat pada usia ke-63 dalam kondisi menderita penyakit diabetes. Putra keenamnya, Delly Viki Ramdani, mengatakan bahwa ayahnya sempat terjatuh dari tempat tidur beberapa hari terakhir yang membuat kondisi tubuhnya menjadi terpuruk.