Anugerah Sastra Rancage Berlangsung Virtual, PANDI Upayakan Digitalisasi Bahasa Daerah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Penganugerahan terhadap karya sastra daerah, Anugerah Sastra Rancage, akan berlangsung secara virtual 31 Januari 2021 mendatang.

Secara konsisten, ajang ini telah dilakukan secara rutin sebanyak 33 kali sejak 1989. Penerimanya adalah buku-buku terbaik yang diterbitkan di dalam bahasa daerah.

Ketua Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, Titi Surti Nastiti mengatakan selama ini ada tujuh daerah yang mendapat Anugerah Sastra Rancage. Tiga di antaranya selalu mendapat penghargaan setiap tahunnya.

“Ada tujuh bahasa daerah yang hingga saat ini diberi Anugerah Sastra Rancage, yaitu Batak, Lampung, Sunda, Jawa, Bali, Madura, dan Banjar. Khusus untuk buku dalam Bahasa Sunda, Jawa, dan Bali, penganugerahan Anugerah Sastra Rancage tidak pernah terputus,” ujar Titi.

Ketua PANDI, Yudho Giri Sucahyo menyatakan soal dukungan PANDI terhadap kegiatan ini. Ia berharap ada upaya yang dapat mempermudah melakukan digitalisasi bahasa daerah, salah satunya adalah lewat ISO 3166.

“Jika melihat potensinya, maka sudah saatnya bahasa daerah dicantumkan pada ISO 3166 agar mempermudah PANDI dalam melakukan proses digitalisasi aksara nusantara yang saat ini sedang kami upayakan,” ujar Yudho dalam keterangan tertulis, Senin (25/1/2021).

Komitmen budayawan Ajip Rosidi

Seperti diketahui, di Indonesia belum ada lembaga lain yang mampu menyelenggarakan pemberian hadiah sastra lebih dari seperempat abad tanpa terputus. Titi menyebut konsistensi penganugerahan ini sebab komitmen budayawan Ajip Rosidi.

“Sepeninggal Bapak [Ajip Rosidi, red,] pada 29 Juli 2020, banyak yang bertanya apakah Hadiah Sastra Rancage akan dihentikan? Kami jawab tidak, karena kegiatan ini merupakan salah satu wasiat almarhum. Hadiah sastra Rancage akan terus diberikan kecuali tidak ada lagi buku sastra daerah yang terbit,” kata Titi.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Erry Riyana Hardjapamekas berharap pemerintah dapat menaruh perhatian lebih terhadap kegiatan Rancage.

Dia berharap pemerintah membuat aturan guna memperkokoh fungsi bahasa daerah dengan menjadikannya sebagai bahasa ibu serta bahasa pengantar minimal di PAUD, TK, dan SD/MI, serta sigap membantu agar karya sastra pemenang ‘Rancage’ dapat dimanfaatkan, dibaca, dan diapresiasi oleh masyarakat luas.

“Pengurus tidak menuntut agar kegiatan Hadiah sastra Rancage masuk ke dalam APBN atau APBD. Bukan, sebab Yayasan Kebudayaan Rancage lebih mengandalkan dan mempercayai prinsip kemandirian, prinsip independensi, dan peran-serta masyarakat. Rancage tidak akan melakukan ketergantungan semacam itu, yang justru dapat mengancam kelancaran kiprah ‘Rancage’,” kata Erry.

Sebagai informasi, hingga saat ini, Yayasan Kebudayaan Rancage sudah mengumumkan 122 judul buku sastra daerah terbaik peraih Hadiah sastra “Rancage”. Selain itu, “Rancage” juga memberikan Hadiah Samsudi untuk buku cerita anak-anak, khusus dalam bahasa Sunda.

Anugerah sastra Rancage rencananya akan dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim serta Dirjen Kebudayan Kemendikbud, Hilmar Farid. Kemudian, diundang juga juri, penerbit buku, pengarang dan pegiat sastra daerah dari seluruh daerah di Indonesia.