AP II: integrasi bandara Jabodetabek-Jabar siasati trafik Soetta

Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II Muhammad Awaluddin menilai tingginya trafik atau pergerakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Cengkareng, Tangerang, memerlukan adanya integrasi bandara di kawasan Jabodetabek dan Jawa Barat.

"Sangat beralasan kalau kita integrasikan Kertajati, Halim, Husein dan rencananya Pondok Cabe yang sedang digagas untuk dikembangkan. Kita tidak bisa melihat secara parsial dalam konteks integrasi operasi bandara karena kawasan ini sangat besar," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa.

Menurut Awaluddin, berdasarkan data yang dihimpunnya, dengan populasi sekitar 50 juta penduduk, pergerakan penumpang di kawasan Jabodetabek dan Jawa Barat pada 2018 mencapai sekitar 70 juta dan hanya dilayani oleh dua bandara yakni di Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma.

Padahal, London Metropolitan Area di kawasan berpopulasi 25 juta orang telah dilayani oleh lima bandara.

"Itu puncaknya sebelum pandemi. Artinya kondisi ini harus disikapi karena Soekarno-Hatta dia akan tiba di posisi tertentu tidak bisa dikembangkan lagi. Kami perkirakan maksimal hanya di angka 100 juta pergerakan," katanya.

Maka, menurut Awaluddin, pengembangan bandara eksisting atau peluang penambahan bandara baru di kawasan Jabodetabek dan sekitarnya sangat dimungkinkan, termasuk dengan konsep multiairport system.

"Keseluruhan ini akan sangat tergantung juga dengan infrastruktur pendukung lain, misal kereta cepat Jakarta-Bandung, jalan tol yang banyak, Cisumdawu yang kita tunggu. Artinya konektivitas ini akan saling terintegrasi dengan antarmoda transportasi," katanya.

Awaluddin juga menyambut baik inisiasi pemerintah untuk menjadikan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebagai embarkasi dan debarkasi umroh mulai November mendatang.

Ia berharap jika Kertajati bisa diaktifkan sebagai bandara untuk haji dan umroh, maka beban Soetta akan bisa dikurangi.

"Soekarno-Hatta sekarang untuk umroh dan haji, itu paling tidak (melayani) empat provinsi, Jawa Barat, Lampung, DKI Jakarta dan Banten. Belum lagi umroh antardaerah yang memang dipusatkan di Soekarno-Hatta. Memang sudah mulai harus ada rebalancing trafik umroh dan haji," katanya.

Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Nur Isnin Istiarto mengatakan pihaknya bersama pemangku kepentingan tengah menyiapkan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, untuk melayani penerbangan embarkasi dan debarkasi umroh pada November 2022 mendatang.

"Hari Jumat (16/9) kami akan kumpul di Kertajati membahas untuk bulan November itu untuk mulai umroh. Memang kami bidik pasar umroh untuk bisa diklastering di daerah sana," katanya.

Penerapan zonasi penerbangan umroh dari Bandara Kertajati oleh Kementerian Agama, diproyeksikan potensi jemaah umroh mencapai 40.000 orang pada periode Januari-Mei 2023.

Baca juga: AP II jajaki kerja sama Bandara Soetta dengan Los Angeles Airport
Baca juga: Kemenhub tegaskan AP II tetap pengelola Bandara Halim Perdanakusuma
Baca juga: Erick Thohir: Patimban dan Kertajati akan menjadi pusat logistik