Apa Itu Herd Immunity dan Kaitannya dengan Vaksinasi COVID-19?

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Herd Immunity atau kekebalan kelompok mungkin sering Anda dengar atau ketahui sejak pandemi COVID-19. Padahal istilah ini sebenarnya telah dikenal lama dan berkaitan erat dengan cakupan imunisasi atau vaksinasi. Lantas, apa itu herd immunity?

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Herd Immunity merupakan situasi di mana sebagian besar masyarakat terlindungi atau kebal terhadap penyakit tertentu sehingga menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect), yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan.

Jadi, apabila kelompok yang rentan seperti bayi dan balita terlindungi melalui imunisasi, penularan penyakit di masyarakat pun akan terkendali sehingga kelompok usia yang lebih dewasa pun ikut terlindungi karena transmisi penyakit yang rendah. Kondisi tersebut hanya dapat tercapai dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata.

Herd Immunity inilah yang kemudian kerap dijadikan target sasaran vaksinasi untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan dari penyakit tertentu.

Melalui Herd Immunity ini pula, individu bukan hanya melindungi dirinya sendiri melainkan turut terlindunginya kelompok masyarakat yang rentan dan bukan merupakan sasaran vaksinasi.

Persentase orang yang perlu kebal untuk mencapai Herd Immunity ini bervariasi untuk setiap penyakit, tulis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Misalnya, Herd Immunity terhadap campak membutuhkan sekitar 95 persen populasi untuk divaksinasi, 5 persen sisanya akan dilindungi oleh fakta bahwa campak tidak akan menyebar di antara mereka yang divaksinasi. Untuk polio, ambang batasnya sekitar 80 persen.

"Sementara proporsi populasi yang harus divaksinasi terhadap COVID-19 tidak diketahui. Ini adalah bidang penelitian yang penting dan kemungkinan akan bervariasi menurut komunitas, vaksin, populasi yang diprioritaskan untuk vaksinasi, dan faktor lainnya," tulis keterangan WHO.

Namun, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, menargetkan Herd Immunity di Indonesia bisa tercapai apabila 70 persen populasi sudah melaksanakan vaksinasi COVID-19 tergantung pada jumlah vaksinnya.

"Jadi kalau jumlah vaksinnya kita bisa mencapai 70 persen dari 363 juta, karena kita butuhnya 363 juta dosis suntikan, 363 kali 70 itu sekitar 260-270 juta dosis vaksin itu mungkin baru akan bisa dicapai di bulan Oktober. Jadi, di bulan Oktober kita baru di jumlah available di kita sejumlah 70 persen dari 181,5 juta orang," kata Menkes dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR secara daring pada 5 Juli 2021.

Presiden Joko Widodo sendiri mengungkapkan target Herd Immunity di Indonesia dapat tercapai pada Desember 2021.

Berkaitan dengan vaksinasi

Vaksinasi merupakan bagian penting dari upaya membentuk kekebalan kelompok yang kita kenal dengan herd immunity. Vaksinasi juga bagian penting dalam rangka menurunkan kesakitan dan menurunkan angka kematian akibat COVID-19, yang tidak kalah penting dari vaksinasi adalah melindungi dan memerkuat sistem kesehatan secara menyeluruh.

Mengutip Buku Saku Tanya Jawab Vaksinasi Kementerian Kesehatan, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam upaya penanggulangan penyakit menular dengan vaksinasi atau imunisasi. Sebagai contoh sejak pertama kali imunisasi cacar dicanangkan pada tahun 1956, akhirnya penyakit cacar bisa dieradikasi yaitu dimusnahkan atau dihilangkan di seluruh dunia pada tahun 1974 sehingga pelaksanaan imunisasi cacar dihentikan pada 1980.

Pun demikian dengan polio, sejak imunisasi polio dicanangkan per-tama kali tahun 1980, Indonesia akhirnya mencapai bebas polio tahun 2014. Saat ini dunia, termasuk Indonesia sedang dalam proses menuju eradikasi (pemberantasan) polio yang ditargetkan pada tahun 2023.

Contoh lain Indonesia dengan upaya gencar pemberian imunisasi tetanus pada bayi dan anak (melalui vaksin DPT-HB-Hib DT dan Td) serta pada Wanita Usia Subur (vaksin Td), Indonesia akhirnya mencapai status eliminasi tetanusmaternal dan neonatal tahun 2016.

Dalam hal pelaksanaan vaksinasi COVID-19, orang dewasa/lansia yang tidak mendapatkan vaksinasi COVID-19 lengkap sesuai jadwal serta mengabaikan protokol kesehatan maka akan menjadi rentan tertular dan jatuh sakit akibat COVID-19.

Untuk itu, Kelompok prioritas penerima vaksin adalah penduduk yang berdomisili di Indonesia yang berusia ≥ 18 tahun. Kelompok penduduk berusia di bawah 18 tahun dapat diberikan vaksinasi apabila telah tersedia data keamanan vaksin yangmemadai dan persetujuan penggunaan pada masa darurat( atau penerbitan nomor izin edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Vaksinasi bertujuan untuk memberikan kekebalan spesifik terhadap suatu penyakit tertentu sehingga apabila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut maka tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Tentu, apabila seseorang tidak mendapat vaksinasi maka ia tidak akan mendapat kekebalan spesifik terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi tersebut. Namun jika suatu saat seseorang tersebut keluar dari wilayah dengan cakupan tinggi tadi, ia akan memiliki risiko untuk tertular penyakit karena pada dasarnya ia belum memiliki kekebalan spesifik yang didapat dari imunisasi.

Dalam hal pelaksanaan vaksinasi COVID-19, orang dewasa/Lansia yang tidak mendapatkan vaksinasi COVID-19 lengkap sesuai jadwal serta mengabaikan protokol kesehatan maka akan menjadi rentan tertular dan jatuh sakit akibat COVID-19.

Mengapa herd immunity penting?

Seperti dilansir Mayo Clinic, Herd Immunity terjadi ketika sebagian besar komunitas (kawanan) menjadi kebal terhadap suatu penyakit, sehingga membuat penyebaran penyakit dari orang ke orang tidak mungkin terjadi. Akibatnya, seluruh komunitas menjadi terlindungi--bukan hanya mereka yang kebal.

Seringkali, persentase populasi harus mampu terkena penyakit agar dapat menyebar. Ini disebut proporsi ambang. Jika proporsi populasi yang kebal terhadap penyakit lebih besar dari ambang batas ini, penyebaran penyakit akan menurun. Ini dikenal sebagai ambang batas Herd Immunity.

Bagaimana Herd Immunity tercapai? Ada dua jalur utama Herd Immunity untuk COVID-19 yaitu

1. infeksi

- Infeksi alami

Herd Immunity dapat dicapai ketika cukup banyak orang dalam populasi telah pulih dari penyakit dan telah mengembangkan antibodi pelindung terhadap infeksi di masa depan.

Namun, ada beberapa masalah utama dengan mengandalkan infeksi komunitas untuk menciptakan kekebalan kelompok terhadap virus yang menyebabkan COVID-19:

- Infeksi ulang

Tidak jelas berapa lama Anda terlindungi dari sakit lagi setelah pulih dari COVID-19. Bahkan jika Anda memiliki antibodi, ada kemungkinan Anda bisa mendapatkan COVID-19 lagi.

Para ahli memperkirakan bahwa di AS, 70% populasi lebih dari 200 juta orang harus pulih dari COVID-19 untuk menghentikan pandemi. Jumlah infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius dan jutaan kematian, terutama di antara orang tua dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Sistem perawatan kesehatan dapat dengan cepat menjadi kewalahan.

2. Vaksin

Herd Immunity juga dapat dicapai ketika cukup banyak orang yang telah divaksinasi terhadap suatu penyakit dan telah mengembangkan antibodi pelindung terhadap infeksi di masa depan.

Berbeda dengan metode infeksi alami, vaksin menciptakan kekebalan tanpa menyebabkan penyakit atau komplikasi. Menggunakan konsep herd immunity, vaksin telah berhasil mengendalikan penyakit menular seperti cacar, polio, difteri, rubella dan banyak lainnya.

Kekebalan kelompok memungkinkan untuk melindungi populasi dari penyakit, termasuk mereka yang tidak dapat divaksinasi, seperti bayi baru lahir atau mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah.

Infografis Total Vaksin Covid-19 dan Target Herd Immunity.

Infografis Total Vaksin Covid-19 dan Target Herd Immunity. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Total Vaksin Covid-19 dan Target Herd Immunity. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Video Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel