Apa itu solidaritas di tengah pandemi? Lebih dari 'kita menghadapi krisis ini bersama-sama'

·Bacaan 6 menit
<span class="caption">Seorang perempuan bertepuk tangan di atas spanduk bertuliskan "semuanya akan baik-baik saja," di Roma. Frasa ini telah muncul di media sosial dan di balkon dan jendela di seluruh Italia saat negara itu menghadapi virus corona.</span> <span class="attribution"><span class="source">(Roberto Monaldo/LaPresse via AP)</span></span>
Seorang perempuan bertepuk tangan di atas spanduk bertuliskan "semuanya akan baik-baik saja," di Roma. Frasa ini telah muncul di media sosial dan di balkon dan jendela di seluruh Italia saat negara itu menghadapi virus corona. (Roberto Monaldo/LaPresse via AP)

Para peneliti medis di seluruh dunia kini terlibat dalam kolaborasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam riset klinis untuk COVID-19. Ketika Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), mengumumkan inisiatif tersebut pada pertengahan Maret tahun lalu, ia menyebutnya sebagai “uji coba solidaritas.”

Di seluruh dunia, ekspresi solidaritas lokal tampaknya menyebar seiring tiap orang memaknainya pada diri mereka sendiri dalam bertindak untuk orang lain yang membutuhkan.

Dari WHO hingga pemimpin pemerintah dan aksi warga, ekspresi solidaritas yang dilakukan merupakan respons yang bijak terhadap krisis. Namun, seperti yang disampaikan oleh penulis Amerika Barbara Ehrenreich, para fasis, fanatik agama, atau negara yang berperang juga bersatu dalam solidaritas untuk memajukan agenda mereka. Beberapa kelompok dapat memobilisasi solidaritas ini untuk tujuan destruktif.

Solidaritas mungkin merupakan kebutuhan dasar manusia, namun makna solidaritas dan apa yang dituntut dari kita kini termasuk sulit dipahami. Dalam penelitian saya, saya mengeksplorasi bagaimana perwujudan solidaritas sangat berkelindan dengan pendidikan. Mengajar untuk solidaritas membutuhkan hubungan, niat, dan tindakan yang didasarkan pada komitmen etis dan politik yang eksplisit. Saya tertarik pada bagaimana nilai-nilai yang menopang komitmen ini mendefinisikan perbedaan antara “kita” dan “mereka”.

Dalam keadaan apa pun; pandemi, pemanasan global, ketidaksetaraan pendapatan, rasisme atau kekerasan berbasis gender, solidaritas bergantung pada bagaimana kita bersatu. Hal ini ditentukan oleh bagaimana kita memahami dan memberlakukan tanggung jawab kita dan hubungan dengan satu sama lain.

<span class="caption">Orang-orang berdiri di balkon mereka untuk menunjukkan dukungan sosial secara fisik di tengah wabah virus corona, di Milan, Italia, pada Maret 2020.</span> <span class="attribution"><span class="source">(Claudio Furlan/LaPresse via AP)</span></span>
Orang-orang berdiri di balkon mereka untuk menunjukkan dukungan sosial secara fisik di tengah wabah virus corona, di Milan, Italia, pada Maret 2020. (Claudio Furlan/LaPresse via AP)

Sama-sama bertanggung jawab atas sebuah utang

Kata solidaritas memiliki akar dalam hukum Romawi yang menyatukan sekelompok orang — secara menyeluruh — sebagai kelompok yang sama-sama bertanggung jawab atas sebuah utang. Penggunaan konsep itu kemudian digunakan kembali di Revolusi Prancis dan konsep solidaritas kemanusiaan ideal yang diartikulasikan oleh filsuf dan “Bapak sosialisme,” Pierre Leroux.

Baca juga: Bagai “berburu rusa”: solidaritas dan kerja sama akan menyelamatkan kita di tengah pandemi

Bagi Leroux, solidaritas diperlukan untuk kesejahteraan dan perkembangan manusia. Namun dalam Manifesto Komunis mereka tahun 1848, Karl Marx dan Friedrich Engels mengkonseptualisasikan solidaritas sebagai ekspresi dari pengalaman bersama dan kebutuhan politik khusus kelas buruh.

Solidaritas juga telah menjadi konsep sentral dalam ajaran sosial Katolik sejak akhir abad ke-19. Ini tampak dalam teologi pembebasan, yakni bahwa solidaritas dan persekutuan dengan orang miskin adalah komitmen spiritual yang mendasar.

Sejarah singkat ini menggambarkan bahwa solidaritas bergantung pada beberapa gagasan tentang makna “kita” yang lebih mendalam. Dalam buku yang akan saya luncurkan, saya mengeksplorasi tantangan pendidikan yang muncul ketika orang-orang menyerukan solidaritas dalam masyarakat kolonial.

Saya memeriksa apa yang terjadi ketika solidaritas bergantung pada orang lain yang sejajar dengan kita, berpikir seperti kita, dan mempercayai apa yang kita yakini.

Solidaritas universal

Filsuf Jerman Kurt Bayertz menunjukkan empat penggunaan konsep solidaritas.

Pertama, solidaritas universal, menunjukkan bahwa semua manusia memiliki kewajiban moral untuk bekerja sama demi kepentingan semua. Ini tersirat setiap kali seseorang mengatakan “kita menghadapi ini bersama-sama.”

Meski menarik, pandangan solidaritas ini mengabaikan perbedaan dan potensi konflik antara kebutuhan dan nilai-nilai kelompok yang berbeda. Ini menunjukkan bagaimana dampak krisis paralel lurus dengan kelompok masyarakat – dalam kelompok yang berbeda, dampak krisis juga akan berbeda.

Solidaritas warga

Inti dari solidaritas sipil adalah bahwa kita tidak perlu memiliki hubungan pribadi dengan orang-orang yang kita bantu dan perjuangkan.

Solidaritas sipil melibatkan komitmen tidak langsung melalui pajak atau kontribusi amal. Mempraktikkan pembatasan fisik (physical distancing) juga merupakan tindakan solidaritas warga.

Kurangnya kepekaan atas hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mendapat manfaat dari solidaritas sipil dapat melemahkan upaya solidaritas itu sendiri, dan berimbas pada kebutuhan bantuan penegak hukum.

Solidaritas sosial

Pemaknaan ketiga Bayertz atas solidaritas sosial mengacu pada bagaimana masyarakat tetap bersatu, dan bagaimana kelompok-kelompok tertentu bertindak bersama sebagai sebuah komunitas untuk melindungi kepentingan mereka.

Editor kontributor majalah Maclean’s Stephen Maher menyampaikan bahwa di Amerika Serikat, penerimaan para pendukung Donald Trump terhadap respon awal presiden terhadap virus yang meremehkan kemungkinan dampaknya, mencerminkan tingkat solidaritas sosial yang rendah.

Namun pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Pendukung konservatif sayap kanan Trump tidak kekurangan solidaritas sosial. Justru, rasa solidaritas mereka melekat pada komitmen terhadap cita-cita kebebasan dari kebijakan pembatasan sosial dan melindungi sumber daya keuangan dan investasi mereka sebagai cara untuk memastikan kesejahteraan mereka sendiri.

Demikian juga, ada rasa solidaritas yang kuat di kalangan konservatif kelompok agama yang mengandalkan iman Kristen alih-alih sains untuk melindungi diri mereka sendiri.

Rasa solidaritas sosial yang kuat sangat penting untuk memajukan semua jenis agenda dan nilai politik.

<span class="caption">Orang-orang menyiapkan tempat untuk tidur di tempat parkir yang berfungsi sebagai kamp darurat bagi para tunawisma pada 30 Maret 2020, di Las Vegas. Tempat penampungan ditutup ketika seorang laki-laki dinyatakan positif COVID-19.</span> <span class="attribution"><span class="source">(AP Photo/John Locher)</span></span>
Orang-orang menyiapkan tempat untuk tidur di tempat parkir yang berfungsi sebagai kamp darurat bagi para tunawisma pada 30 Maret 2020, di Las Vegas. Tempat penampungan ditutup ketika seorang laki-laki dinyatakan positif COVID-19. (AP Photo/John Locher)

Solidaritas politik

Solidaritas politik erat dengan pada masalah ketidaksetaraan yang terkait dengan kelas, rasisme, seksisme, dan bentuk diskriminasi lainnya. Solidaritas politik biasanya melibatkan satu kelompok yang bertindak untuk mendukung kelompok lain, meski kelompok tersebut mungkin tidak terpengaruh oleh ketidakadilan yang terjadi.

Solidaritas politik menimbulkan pertanyaan tentang identifikasi, privilese, dan timbal balik, seperti yang diungkapkan, misalnya, melalui tagar #solidarityisforwhitewomen.

Namun konsep solidaritas politik sangat penting untuk mengatasi bagaimana pandemi memperburuk kesenjangan sosial yang ada. Pengabaian solidaritas politik akan melemahkan bentuk solidaritas lainnya.

Baca juga: Di tengah masyarakat yang religius, banyak orang tua di Indonesia mendukung pendidikan kesehatan seksual di sekolah

Tiga aspek penting dari solidaritas

Apa pun bentuk yang kita gunakan, kita perlu mengingat tiga aspek solidaritas:

Solidaritas selalu tentang hubungan. Kita tidak bisa sendirian dalam membentuk solidaritas. Kita bersama siapa saja dalam solidaritas dan apa yang mendefinisikan hubungan itu?

Solidaritas selalu menuntut kita untuk memiliki komitmen yang tinggi. Apa tujuan dari solidaritas kita dan dari mana komitmen itu berasal?

Solidaritas membutuhkan tindakan yang juga mengubah kita, bahkan mungkin pengorbanan kita. Apa yang membuat Anda berjuang atau menyerah untuk memastikan kesejahteraan orang lain, apakah mereka berada dalam strata yang sama dengan Anda?

Menuju bentuk solidaritas yang kreatif

Sangat penting bagi kita untuk mengakui komitmen etis dan politik yang kita bawa ke dalam gerakan solidaritas. Jika tidak, solidaritas dapat “berlawanan dengan kita”, sebagaimana Barbara Ehrenreich sampaikan.

Misalnya, beberapa solusi, seperti jarak fisik untuk cegah COVID, menjadi tidak mungkin dilakukan bagi komunitas yang sudah kekurangan sumber daya, seperti tunawisma. Jika tidak bersekutu, negara-negara seperti Kanada dan AS akan terseret pada konflik karena keduanya berusaha untuk memastikan pasokan alat perlindungan untuk para pekerja kesehatan.

<span class="caption">Seniman Jeff Saint mengerjakan mural mata yang menangis dengan gambar yang melambangkan kota perburuan paus pesisir bersejarah, New Bedford, Mass, yang tercermin pada pupilnya, dikelilingi oleh spora virus corona pada 31 Maret 2020. Dia dan rekan seniman Ryan McFee berharap untuk akhirnya mengganti spora dengan bunga saat virus dikalahkan.</span> <span class="attribution"><span class="source">(Peter Pereira/The Standard-Times via AP)</span></span>
Seniman Jeff Saint mengerjakan mural mata yang menangis dengan gambar yang melambangkan kota perburuan paus pesisir bersejarah, New Bedford, Mass, yang tercermin pada pupilnya, dikelilingi oleh spora virus corona pada 31 Maret 2020. Dia dan rekan seniman Ryan McFee berharap untuk akhirnya mengganti spora dengan bunga saat virus dikalahkan. (Peter Pereira/The Standard-Times via AP)

Bersikap terang-terangan terkait komitmen etis dan politik akan menjadi semakin penting karena pemerintah meminta warga untuk mengkompromikan kebebasan pribadi dan kebebasan sipil untuk menahan penyebaran virus.

Kompromi dan sikap global seperti itu menuntut kita untuk menganggap solidaritas sebagai sesuatu yang kreatif.

Saat “hembusan krisis membuka perasaan yang ada,” dalam kata-kata jurnalis Naomi Klein, kita dipaksa untuk membayangkan cara baru untuk terus bersama satu sama lain. Kita juga memiliki kesempatan untuk memikirkan kembali nilai dan niat kita, serta kesempatan untuk menceritakan kembali kisah tentang siapa kita, di mana kita berada, dan dengan dan kepada siapa kita berbagi utang.

Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

La version originale de cet article a été publiée sur La Conversation, un site d'actualités à but non lucratif dédié au partage d'idées entre experts universitaires et grand public.

Lire la suite:

Rubén A. Gaztambide-Fernández tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel