Apa jadinya jika Gojek-Grab merger?

Maria Rosari Dwi Putri

Dua perusahaan ride-hailing Gojek dan Grab dikabarkan akan melakukan proses peleburan. Kabar itu berasal dari laman The Information yang menyebutkan bahwa dua perusahaan tersebut sedang membicarakan kemungkinan merger.

Kabar tersebut dibantah oleh Gojek. Chief Corporate Affairs Gojek, Nila Marita, dalam pernyataan tertulis kepada Antara, Selasa, mengatakan bahwa kabar tersebut tidak akurat dan tidak ada rencana untuk merger.

Namun, apa jadinya jika dua perusahaan ride-hailing tersebut benar melebur?

Ekonom dari Universitas Indonesia, Harryadin Mahardika, berpendapat bahwa merger tersebut bertentangan dengan praktik persaingan usaha yang sehat.

“Perusahaan hasil merger akan memonopoli pasar ride hailing di tanah air. KPPU terpaksa harus mencegah merger tersebut terjadi,” kata Harryadin saat dihubungi Antara, Selasa.

Merger tersebut berarti menggabungkan juga dua ekosistem super app di balik Gojek dan Grab, sehingga menurut Harryadin, potensi monopoli tidak hanya ada di layanan ride-hailing, tapi juga di beberapa layanan lain, seperti penghantar makanan dan penghantar instan.

Lebih lanjut, Harryadin menilai peleburan Gojek-Grab akan menghasilkan perusahaan baru dengan nilai raksasa yang mengancam persaingan usaha.

“Kekuatan yang begitu besar membuatnya akan lebih mudah untuk melakukan integrasi vertikal maupun integrasi horisontal yang mengancam persaingan usaha yang sehat,” ujar dia.

Kekuatan finansial dan sumberdaya lain yang dimiliki Grab lebih besar dibanding Gojek, sehingga Harryadin melihat kemungkinan Grab akan lebih dominan di perusahaan baru yang akan terbentuk nanti.

“Hal ini tentu saja berisiko 'menghilangkan' legacy atau eksistensi Gojek sebagai salah satu startup lokal yang sukses,” kata Harryadin.

Sementara itu, ditemui usai rapat bersama DPR tentang RUU PDP di Gedung DPR, Selasa, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, menyerahkan keputusan bisnis kepada kedua belah pihak, menanggapi kabar merger Gojek-Grab.

“Kalau rencana itu kan aktivitas business to business ya. Yang pasti kita harapkan konsolidasi-konsolidasi dalam rangka menyemarakkan bisnis di ruang digital di Indonesia,” ujar Johnny.

Baca juga: Gojek dan Grab dikabarkan merger, ini komentar Menkominfo

Baca juga: Gojek dan Astra Motor berkolaborasi ringankan biaya operasional mitra

Baca juga: Jamin keamanan penumpang, Grab sediakan "tombol darurat"