Apa Jadinya Jika Suhu Menentukan Jenis Kelamin Manusia?

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVAJenis kelamin manusia sebagian besar dikendalikan oleh kromosom X dan Y. Namun, untuk jenis reptil dan ikan, jenis kelamin justru dipengaruhi oleh seberapa hangat atau sejuk suhu di sekitar telur sebelum menetas. Lalu, seperti apa kehidupan manusia jika melakukan seks di bawah pengaruh suhu?

Mengontrol jenis kelamin hewan menggunakan panas atau dingin pertama kali ditemukan pada 1966 oleh ahli zoologi Prancis, Madeline Charnier. Ia menemukan telur yang diinkubasi pada suhu yang lebih rendah adalah betina, sedangkan yang berkembang pada suhu yang lebih tinggi adalah jantan.

Baca: Kesalahan Ini Sering Dilakukan Orang saat Nonton Video Porno

Sejak itu, para ilmuwan telah menemukan pola lain dari penentuan jenis kelamin berdasarkan suhu. Misalnya, penyu hijau Hawaii betina akan muncul jika diinkubasi di atas suhu tertentu dan jantan jika di bawah suhu tertentu. Jika suhu di sarang berfluktuasi, campuran jantan dan betina yang akan terlihat, menurut sebuah studi tahun 2020, yang diterbitkan di Jurnal Bionatura.

Masih belum diketahui secara pasti mengapa hewan-hewan ini mempraktikkan penentuan jenis kelamin yang bergantung pada suhu, menurut Jennifer Graves, ahli genetika di La Trobe University, Melbourne, Australia, dikutip dari situs Live Science, Senin, 1 Februari 2021.

"Dugaan kami adalah, penentuan jenis kelamin yang bergantung pada suhu karena telur reptil tidak dijaga orang tua dan berada dalam interaksi yang erat dengan lingkungan," kata ahli biologi di National Autonomous University of Mexico, Diego Cortez.

Ia menambahkan bahwa suhu inkubasi yang meningkat akan mempercepat perkembangan embrio. Kemungkinan lain adalah suhu dapat memberi jalan bagi betina untuk mengontrol jenis kelamin keturunannya. Misalkan, aligator betina memilih sarang yang lebih dingin untuk memiliki lebih banyak anak betina.

Jadi ketika populasinya rendah, ibu aligator dapat membuat sarang di dekat air sehingga lebih banyak betina menetas. Sebaliknya, ketika populasi telah mencapai tingkat yang stabil, betina mungkin memilih sarang yang lebih hangat, sehingga akan ada lebih banyak jantan. Generasi betina berikutnya kemudian dapat memilih jantan terbaik.

"Tapi penentuan kelamin berdasarkan suhu pada manusia sangat tidak mungkin karena Anda memerlukan setidaknya dua suhu tubuh yang berbeda, satu yang akan memicu perkembangan wanita dan satu lagi yang akan memicu perkembangan pria," kata Cortez.

Sedangkan suhu tubuh manusia saja selalu berada pada 37 derajat Celcius. Tapi jika wanita bisa mengalami perubahan suhu tubuh, bisa saja manusia dapat menentukan jenis kelamin.

Ia mencatat beberapa protein yang membantu mengatur ritme sirkadian pada manusia, juga terkait dengan penentuan jenis kelamin yang bergantung pada suhu reptil. Protein ini dikenal sebagai CLK kinase, ditemukan di seluruh tubuh dan dapat merasakan fluktuasi suhu tubuh yang sangat kecil.

Bukan tidak mungkin jika CLK kinase terlibat, di mana mereka merasakan perubahan besar dalam suhu inkubasi, sistem bisa diadaptasi untuk merasakan perubahan suhu yang lebih kecil yang secara hipotetis dapat dikaitkan dengan jenis kelamin embrio.

"Agar penentuan jenis kelamin bergantung pada suhu manusia, maka kita akan menjadi poikilotherms atau berdarah dingin seperti tikus got. Kemungkinan lain adalah, alih-alih melahirkan, manusia harus bertelur seperti platipus," jelasnya.