'Apa kabar?': Ilmuwan beri tips bagamana menjawab pertanyaan ini tanpa terkesan basa-basi selama pandemi

Saat efek pandemi dan krisis global lainnya menumpuk, meninggalkan banyak orang merasa terkepung dan lelah secara emosional jawaban kita yang biasanya sopan untuk pertanyaan, “Apa kabar?” sedang dipertanyakan.

Menanggapi dengan, “Baik, terima kasih, dan kamu” dianggap tidak memadai, tidak pantas dan kadang-kadang bahkan tidak dapat dimengerti. Mungkin yang sebenarnya kita komunikasikan melalui interaksi ini adalah, “Saya mengakui keberadaan kamu.”

Banyak dari kita yang terus mengalami interaksi sosial yang terbatas karena pandemi, interaksi yang kita miliki menjadi lebih penting. Jadi kita mungkin bertanya apakah ada ruang untuk bersikap tulus dalam hal ini. Bisakah kita menanggapinya dengan cara yang lebih dari sekadar sapaan, dengan cara yang otentik dan sopan?

Kesopanan Kanada : fakta atau fiksi

“Orang Kanada yang baik dan sopan” adalah identitas yang diakui secara international, yang dalam realitanya lebih merupakan mitos. Fakta atau bukan, bentuk komunikasi sopan masih dihargai dan dianggap umum.

Ketika kita terhubung dengan orang lain, di tempat kerja dan dalam kehidupan pribadi kita, banyak dari kita mulai dengan bertanya, “Bagaimana kabarmu?” Dalam bagian wacana sosial di sini yang sudah lama dan diterima secara luas: kami tidak selalu berharap untuk memberikan atau menerima jawaban yang jujur untuk pertanyaan ini .

Faktanya, aman untuk mengatakan bahwa cukup sering, ada harapan tak terucapkan yang menghambat jawaban yang jujur. Dalam situasi-situasi tersebut ketika jawaban biasa, “Baik, terima kasih,” diganti dengan respons yang lebih panjang dan kurang positif, bisa muncul kecanggungan.

Menanggapi dengan “Baik, terima kasih, dan kamu?” menjaga sesuatunya berjalan seperti biasa. Jawaban itu tidak meminta penerima untuk menanggung beban emosional, dan juga merahasiakan pikiran dan perasaan yang lebih intim yang melekat. Perasaan rentan biasanya menunjukkan perjuangan pribadi, yang bisa membuat kita khawatir akan dihakimi jika kita merespons secara jujur.

Dan, di saat-saat ketika kita membutuhkan semua yang kita miliki untuk menjaga diri tetap pada tempatnya, kita mungkin takut ditanyai, “Bagaimana kabarmu?” karena bisa membuat kita terbongkar.

Jadi, kami cenderung bermain aman. Tetapi apakah hubungan sosial yang dangkal ini benar-benar tentang bersikap sopan? Atau, adakah alasan lain yang mungkin menjelaskan mengapa kita cenderung tidak bersikap terlalu personal saat saling menyapa? Mungkinkah ada sesuatu dalam jiwa komunal yang membuat kita enggan membagikan apa yang sebenarnya terjadi pada kita?

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel