Apa Kerugian Indonesia Bila Sampai Tutup Jalur Penerbangan dari Singapura?

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan Singapura menaikkan level Disease Outbreak Response System Condition (Dorscon) ke oranye mendorong sejumlah negara mengeluarkan travel advisory. Indonesia termasuk salah satunya yang meminta agar warga yang bepergian lebih berhati-hati saat mengunjungi Negeri Singa itu.

Kode oranye diartikan sebagai kondisi wabah telah berdampak cukup hingga tinggi bagi kesehatan masyarakat. Kode ini hanya satu tingkat di bawah kode merah yang berarti keadaan wabah sudah tidak terkendali. Dalam hal ini menyangkut pengendalian wabah virus corona.

Meski memberikan peringatan, Indonesia masih membuka pintu bagi maskapai penerbangan, baik dari dan ke Singapura, mendarat dan lepas landas di wilayah Indonesia. Respons tersebut berbeda dari keputusan pemerintah yang menutup seluruh akses penerbangan dari/ke Tiongkok setelah wabah virus corona menginfeksi ribuan manusia.

Deputi Pemasaran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) Nia Niscaya menyebut kerugian besar akan dialami Indonesia bila status Dorscon naik ke level merah. Potensi kerugian bisa muncul akibat menutup akses penerbangan dari dan ke Singapura.

"Karena dia (Singapura) jadi hub yang ke Indonesia. Seperti diketahui, konektivitas kita tidak sebanyak Singapura," kata Nia saat ditemui di Jakarta, Rabu, 12 Februari 2020.

Nia menyebut maskapai asing yang menyediakan layanan penerbangan langsung jarak jauh ke Indonesia hanyalah maskapai nasional. Kondisi itu berbeda dari Singapura yang juga banyak menjadi tempat transit maskapai-maskapai swasta.

"Sehingga, banyak wisatawan yang ke Indonesia lewat Singapura," kata dia.

Di samping itu, bila sampai terjadi penutupan, Indonesia berpotensi kehilangan turis Singapura sekaligus turis dari negara-negara lain yang transit di Singapura. Meski tingkat pengeluaran wisatawan Singapura tak sebesar Tiongkok, keputusan berlibur warganya bisa diambil dalam waktu singkat karena lokasinya dekat dengan Indonesia.

"Posisi Singapura sebagai pasar, (Indonesia) akan kehilangan dua juta lebih (turis)," ucap Nia.

Rencana Cadangan

Petugas kebersihan di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) bersih-bersih guna cegah penyebaran virus corona. (dok. Facebook/Malaysia Airports)

Pemerintah tak berdiam diri. Mengantisipasi kemungkinan terburuk, rencana cadangan pun disiapkan. Jika sampai akses dari Singapura ditutup, Malaysia akan jadi andalan.

Pasalnya, Negeri Jiran itu juga menjadi hub bagi sejumlah wisatawan yang akan bepergian ke Indonesia. Hanya saja, dominasinya berasal dari Timur Tengah.

Untuk itu, kata Nia, pihaknya akan menggenjot promosi untuk mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan dari Timur Tengah. Cara berpromosi juga akan menyesuaikan karakteristik pengunjung dari negara-negara Teluk itu, khususnya dari Arab Saudi.

"Itu sebenarnya pasar lama, tapi kita akan boost lagi," ujarnya.

Karakter turis dari negara-negara Arab, sambung Nia, sangat sensitif dengan kehalalan makanan. "Jangan sampai diberi makanan non-halal, mereka akan kecewa sekali," sambungnya.

Wisatawan dari Timur Tengah juga didominasi oleh rombongan keluarga sehingga pengeluarannya jelas lebih besar dibandingkan turis yang solo traveling atau hanya berpasangan. Selain keluarga, para pasangan warga Timur Tengah juga memilih Indonesia sebagai tempat berbulan madu.

"Suasananya jelas beda ya. Karena lagi senang, biasanya mereka akan berusaha menyenangkan pasangan," sambung dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: