Apakah Brigadir J yang Sudah Meninggal Bisa Diproses Hukum?

Merdeka.com - Merdeka.com - Bareskrim menarik beberapa kasus di Polda Metro dan Polres Jakarta Selatan terkait kasus polisi tembak polisi yang menewaskan Brigadir J oleh Bharada E di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo. Peristiwa itu disebut berawal dari pelecehan seksual oleh Brigadir J terhadap istri Ferdy Sambo.

Kemudian, apakah Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat yang sudah meninggal bisa dilanjutkan proses hukumnya?

Pakar Hukum Pidana Al Azhar, Supardji Ahmad menilai proses hukum tersebut secara otomatis akan berhenti. Lantaran orang yang diduga pelaku sudah tidak ada alias meninggal.

"Kalau memang nanti ditemukan bukti dan diduga pelakunya yang meninggal itu maka proses hukumnya dihentikan karena otomatis bahwa tuntutan akan berhenti apabila pelaku sudah meninggal dunia," ujar Supardji saat dihubungi merdeka.com, Rabu (3/8).

Tidak hanya faktor dari terduga pelaku yang meninggal dapat memberhentikan proses hukum, tetapi juga kurangnya alat bukti atau ternyata bukan tindak pidana perkara tersebut juga dapat diberhentikan.

"Dalam Pasal 109 KUHP ayat 2 'dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan dihentikan demi hukum, maka penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya'," terang Supardji.

Supardji juga meluruskan, perkara hukum tersebut tetap harus berlanjut namun di sisi lain juga untuk membersihkan orang yang diduga pelaku pelecehan tersebut.

"Proses hukum itu tujuannya untuk membuat terang benderang perkara dan menentukan siapa yang salah dan yang benar jangan sampai dibiarkan begitu saja kemudian muncul dugaan jawaban yang tidak jelas karena tidak ada tindakan hukum," tandasnya.

Terlebih, kata dia, ini juga penting buat Brigadir J jangan sampai terjadi fitnah. Karena tanpa ada proses hukum yang tadi, kalau tidak ditemukan dugaan itu maka nama Brigadir J akan baik.

Ia juga mengatakan tujuan adanya hukum tersebut bukan untuk memperkarakan orang yang sudah meninggal. Justru untuk membuat terang benderang perkara membuktikan peristiwa itu terjadi.

"Ini bukan soal memperkarakan orang meninggal ini ada perkara hukum dalam proses penyelidikan yang tujuannya untuk menentukan apakah ada tindak pidana atau tidak yang kemudian dilanjutkan pada tingkat penyidikan untuk membuat terang benderang perkara-perkara menentukan alat bukti dan menentukan siapa tersangkanya," ucapnya

"Soal menghukum yang bersangkutan itu nanti ketika memang ada peristiwa tindak pidana dan dugaan yang bersangkutan spekulatif, tapi ini juga untuk membersihkan nama Brigadir J walaupun memang tidak ada bukti itu," tutupnya. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel