Apakah Harus Sampai Mengemis ke Pacar Supaya Dinikahi?

Syahdan Nurdin, voxpopid
·Bacaan 3 menit

VIVA – Hingga hari ini masih banyak perempuan yang mengemis minta dinikahin, lantaran terlalu percaya janji nikah yang dilontarkan laki-laki. Ini karena pikirannya masih menerima nilai-nilai patriarki. Anehnya, ada perempuan yang katanya ingin berdaya, tapi masih meminta lelaki untuk menghidupi atau bahkan menyelamatkan kehidupannya.

Belum lagi, marak meme-meme di internet yang menyuruh perempuan untuk menikah saja, jika merasa bosan dengan kehidupan, nggak punya uang, dan skripsi yang nggak kelar-kelar. “Bosan? Nikah aja biar ada yang nafkahin!” Pernah lihat meme kayak gitu, kan?

Dalam konteks tersebut, menikah seakan menjadi solusi jitu, terutama untuk masalah finansial perempuan. Padahal, sadar atau tidak, itu bisa membuat perempuan tunduk. Kemudian, dibebani sepenuhnya dengan pekerjaan rumah tangga. Gratis pula.

Menikah bukanlah jawaban dari permasalahan perempuan, semisal bagi mereka yang memang bosan dengan hidupnya yang stagnan. Justru, ketika tinggal bersama pasangan mesti berbagi tanggung jawab pengeluaran dan tugas-tugas rumah tangga. Jika memang ingin menjalani relasi yang setara alias tidak eksploitatif.

Namun, masih banyak perempuan yang begitu menanti-nanti lamaran dari pacarnya seolah menikah adalah solusi satu-satunya. Selama menanti, ia mencoba mencari cara agar pasangannya segera melamar. Kondisi ini yang kerap membuat perempuan galau hingga merasa tidak berdaya.

Lantas, ketika nggak jadi menikah, ia nangis-nangis dan mengemis janji-janji yang pernah terucap semasa pacaran. Bahkan, tak sedikit yang sampai mengalami depresi.

Tentu saja sedih itu wajar, tapi yang sering terjadi adalah pernikahan dipandang sebagai solusi persoalan ekonomi. Waktu yang semestinya digunakan untuk membangun kemampuan dan daya ekonominya, malah dipakai untuk bergantung kepada lelaki dan menangisi kelak ketika gagal menikah.

Jadi, nggak perlu menanti-nanti sampai segitunya, atau bahkan mengemis agar dinikahi – jika memang dia tidak punya intensi untuk menikah. Sesungguhnya dia yang tak layak untuk dicintai. Semakin ditagih, malah semakin menjauh.

Tapi kan, dia udah janji nikahin aku?

Janji-janji itu bisa saja diucapkan untuk memanipulasimu agar dia mendapatkan keuntungan. Semisal, janji dinikahin kalau ngirim foto payudara atau janji dinikahin kalau nyuci bajunya. Hingga hari ini, saya masih menemukan perempuan yang rela menyuci baju pacarnya dengan iming-iming janji dinikahin. Keduanya masih mahasiswa.

Belum menikah saja sudah nyuruh-nyuruh cuci baju, apalagi ketika nanti berumah tangga? Entah kerja domestik apa lagi yang akan dieksploitasi oleh lelaki terhadap perempuan.

Ketahuilah, kalau kamu merengek ke pacar untuk menikahimu, itu tandanya kamu memang belum siap menikah. Kenapa? Karena orang yang siap tidak akan mengemis seperti itu. Malah, ia yang mengajak nikah pacarnya, bukan berharap sebaliknya.

Nah, kalau memang doi kepingin nikah, jawabannya pasti iyes. Tapi kalau jawabannya menggantung, apalagi sok-sok diplomatis kayak politisi, ya ada bagusnya juga. Kita jadi tahu lebih awal, nggak perlu berlama-lama.

Tetapi, kalau merasa gengsi dan takut dianggap sebagai perempuan murahan karena berinisiatif, ada baiknya jangan menikah dulu. Sebab dalam pernikahan, kita harus bisa terbuka dan menurunkan ego atau gengsi. Menyatakan secara tegas apa yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.

Btw, wacana pernikahan sebagai solusi keamanan finansial dan sosial ini masif banget. Nggak cuma lewat meme, beberapa pejabat daerah bahkan mendorong perempuan untuk bersedia dipoligami. Sebagai salah satu cara mengentaskan kemiskinan, katanya.

Padahal, itu justru menunjukkan bahwa sistem kita gagal menjamin kesejahteraan perempuan. Pejabat bukannya bikin terobosan baru melalui program-program nyata, malah nyuruh perempuan rela menjadi istri kedua, ketiga, keempat. Hadeuhh…

Alam pikiran perempuan dibentuk untuk menerima pandangan “apapun masalahnya, menikah solusinya”. Abaikan ya, cynnn… Kita lebih baik memperkuat diri agar bisa hidup mandiri. Berhenti mengemis minta dinikahi.